D.    ANALISA MASALAH

Di era modern seperti saat ini model kepemimpinan kharismatik masih begitu dominan ditampilkan di pesantren, hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena dengan perubahan zaman, tradisi tersebut tidak efektif lagi, yang pada akhirnya akan tergerus oleh arus modernitas. Kenyataan dilapangan, soksesi kepemimpinan yang ada sering tidak mampu mengimbangi kemajuan pesantren yang di kelola oleh kiai, sehingga sering terjadi penyusutan kewibawaan, baik karena tidak mampu memahami tuntutan yang timbul dan perkembangan keadaan yang baru maupun karena faktor-faktor lainnya. Seperti terhentinya kaderisasi kepemimpinan pada waktu pesantren yang dipimpin mengalami perkembangan pesat, kesenjangan semacam itu bisa berakibat fatal bagi kehidupan pesantren yang bersangkutan, paling tidak akan menimbulkan situasi kritis yang dapat mengganggu stabilitas kehidupan pesantren.

Dari segi kepemimpinan, banyak hal yang bisa ditunjuk sebagai sebab mengapa belum mantapnya pola kepemimpinan di pesantren selama ini. Sebab yang paling menonjol adalah watak karismatik yang dimiliki oleh sang kiai, selain itu dengan adanya tuntutan perobahan manajemen kepemimpinan pada pesantren sepertinya peran kiai di dunia pesantren telah mengalami pergeseran. Peran kiai sebagai ulama atau sumber ilmu pengetahuan dan pengasuh tampak ada indikasi mengalami distorsi.

Modernitas juga membawa pengaruh terhadap kebebasan santri. Pondok tidak dapat mengekang begitu saja santri, saat ini santri sudah sangat kritis, apalagi mereka tidak hanya dibekali ilmu dari dalam pondok saja, mereka juga punya pengalaman di luar pondok dimana sekolah mereka tidak terikat oleh pondok. Sesuai dengan teori modernitas yang dikemukakan oleh Durkheim, yang dengan kebebasannya, moral santri akan hilang, serta teori yang dikemukakan Giddens bahwa modernitas tidak mengenal waktu dan ruang.

Pengaruh modernitas telah memasuki berbagai macam ruang, tak terkecuali pondok pesantren, apalagi lokasi pondok yang terdapat di pertengahan kota yang tidak bisa terlepas dari hiruk pikuk suasana yang penuh dengan glamouritas. Pondok pesantren yang berada di tengah-tengah perkotaan, serta santri yang banyak mempunyai aktifitas di luar pondok, tak bisa dipungkiri arus modernitas dan glamouritas perkotaan sangat gampang masuk ke dunia pesantren sehingga perlu sebuah siasat yang relevan sepanjang zaman tanpa mengeliminasi tradisi lama dan berusaha menerima dan menfilter hal terbaru tanpa curiga meski tak mengurangi daya kritisnya.