Bila hal tersebut dikaitkan dengan dinamika pondok pesantren, maka yang kedua banyak mewarnai perkembangan pondok pesantren yaitu pada wawasan seorang pemangku pondok, dalam hal ini adalah kiai. Karena setiap perubahan sosial pasti ada sosial aktornya, dan sosial aktor pada dinamika manajemen pendidikan di pondok pesantren adalah kiai. Kiai merupakan power (kekuatan) dalam hal kedalaman ilmu kiai dan wawasan barunya untuk menghadapi perubahan. Seorang kiai sebagai pemangku pondok pesantren memiliki karisma.[18] Dan pengaruhnya besar sekali dalam kehidupan masyarakat.

Kiai berperan sebagai  alat penyaring arus informasi yang masuk ke lingkungan kaum santri, menularkan apa yang dianggap berguna dan membuang apa yang dianggap merusak bagi mereka. Namun, menurut Geertz, peranan penyaring itu akan macet manakala arus informasi yang masuk begitu deras dan tidak mungkin disaring oleh sang kiai. Dalam keadaan demikian, kiai akan kehilangan peranannya. Dengan kurangnya informasi yang diperoleh, kiai menjadi tidak kreatif, dan akan mengalami kesenjangan budaya (cultural lag) dengan masyarakat sekitarnya.

Menurut Horikoshi,[19] ada sebagian kiai berperanan kreatif dalam perubahan sosial. Hal ini bukan karena sang kiai mencoba meredam akibat perubahan yang terjadi, melainkan justeru  karena mempelopori perubahan sosial dengan caranya sendiri. Ia bukan melakukan penyaringan informsi, melainkan menawarkan agenda yang dianggapnya sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat yang dipimpinnya. Ia bukan keraguan berperan karena menunda datangnya perubahan melalui proses penyaringan informasi, melainkan ialah sepenuhnya berperan karena ia mengerti bahwa perubahan sosial adalah perkembangan yang tak terelakkan lagi.

 C.    CORAK KEPEMIMPINAN DI PESANTREN

Untuk lebih jelas menggambarkan miniatur atau corak kepemimpinan kiai, berikut ini dipaparkan tentang tipe-tipe pemimpin, yaitu:[20]

a.         Tipe Otokratik,

Pemimpin yang bertipe ini akan bertindak sendiri dalam mengambil keputusan, dan memberitahukan kepada bawahannya bahwa ia telah mengambil keputusan tertentu dan para bawahannya itu hanya berperan sebagai pelaksana karena mereka tidak dilibatkan sama sekali dalam proses pengambilannya. Gaya otokratik bukanlah gaya yang didambakan oleh bawahan dalam mengelola suatu organisasi kerena pentingnya unsur manusia sering diabaikan.