Sehingga secara umum pengelolaan manajemen di pesantren kurang diperhatikan secara serius, karena pesantren sebagai lembaga tradisional, dengan wataknya yang bebas, serta pola pembinaannya hanya tergantung pada kehendak dan kecenderungan pimpinan saja. Padahal  sesungguhnya potensi-potensi yang ada dapat diandalkan untuk membantu penyelenggaraan pondok pesantren tersebut. Keadaan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena dengan perubahan zaman, tradisi tersebut tidak efektif lagi, yang pada akhirnya akan tergerus oleh arus modernitas. Hal ini perlu direkonstruksi secara kreatif berdasarkan nilai-nilai modernitas dan nilai Islam itu sendiri, menejemen kharismatik itu tidak perlu dieliminasi tapi disandingkan dengan pola rasional dan dibingkai dengan nilai-nilai moralitas agama.

 

B.     DINAMIKA MANAJEMEN PENDIDIKAN PESANTREN

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang menempatkan sosok kiai sebagai tokoh sentral dan masjid sebagai pusat lembaganya.[11] Ciri khas pondok pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan adalah: (1) adanya Kyai yang mengajar dan mendidik, (2) adanya santri yang belajar dari kyai, (3) adanya masjid, tempat ibadah dan pusat kegiatan, dan (4) adanya pondok/ asrama tempat para santri bertempat tinggal. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya lembaga ini merupakan institusi pendidikan Islam tertua di Indonesia dan sekaligus bagian dari warisan budaya bangsa (indigenous culture). Maka, bukanlah kebetulan jika pesantren masih dapat bertahan hingga saat ini.

Mereka yang pernah mengenyam pendidikan pesantren kemudian juga belajar di lembaga pendidikan lainnya baik di dalam maupun di luar negeri pada umumnya memandang bahwa pesantren tetap memiliki tempat terhormat sebagai lembaga pendidikan Islam khas Indonesia yang dapat dirunut pertalian keilmuan dan kurikulumnya dengan pusat-pusat pembelajaran ilmu agama Islam diberbagai belahan dunia.[12]