[1]  Dosen Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam  STAI Al Falah Banjarbaru dengan keahlian Ilmu Manajemen Pendidikan.

[2] Affandi Mochtar, Kitab Kuning dan Tradisi Akademik Pesantren, Bekasi: Pustaka Isfahan, 2009, hlm. 13

[3] Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999, hlm. 40. Lihat juga Amin Hadari & M. Isom El-Saha, Peningkatan Mutu Terpadu Pesantren dan Madrasah Diniyah, Jakarta: Diva Pustaka, 2008, hlm. 1

[4] Khamami Zada dkk, ”Intelektualisme Pesantren”, Jakarta: Diva Pustaka. 2003, hlm. 13

[5] M. Suthon Masyhud, dkk.  Manajemen Pondok Pesantren, Jakarta: Diva Pustaka, 2008, hlm. 3

[6] Syaifullah Yusuf, “Melahirkan Ilmuwan-Ulama: Tanggungjawab Ganda Pesantren di Era Kesejagatan”, pengantar dalam Babun Suharto, “Dari Pesantren untuk Umat”, Surabaya: IMTIYAZ, 2011, hlm. xi

[7] Karel A. Steenbring, ”Pesantren Madrasah Sekolah”, Jakarta: LP3ES, 2002, hlm. 8

[8] Sa’id Aqiel Siraj, “Pesantren Masa Depan”, Bandung: Pustaka Hidayah, 1999, hlm. 181

 

[9] Noor Mahpuddin, “Potret Dunia Pesantren”, Bandung: Humaniora, 2006, hlm. 112

[10]  M. Sulthon Masyhud, dkk., Op. Cit. hlm. 15

[11] Dawam Raharjo, “Pesantren dan Pembaharuan”, cet.V, Jakarta: LP3ES, 1995, hlm. 87

 

[12] M. Dian Nafi’ dkk., Praksis Pembelajaran Pesantren,  Yogyakarta: PT. LKiS Pelangi Aksara, 2007, hlm. 1

[13]  Ibid.

[14] Muhammad Busyro, “Problem Pengembangan Tradisi Pesantren”, dalam Abdul Munir Mulkhan, “Rekonstruksi Pendidikan dan Pustaka Tradisi Pesantren (Relegiusitas Iptek)”, Yogyakarta: Fak Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga & Pustaka Pelajar, 1998, hlm. 186-199. Lihat juga dalam M. Dian Nafi’ dkk. Mensinyalir bahwa mereka yang optimis memandang bahwa pesantren tetap dapat berkembang secara memadai dengan melakukan berbagai pembenahan internal dan pergerakan untuk memperluas ruang hidupnya diantara sekian banyak jenis lembaga pendidikan yang tumbuh pesat di tanah air dan belum dapat menggantikan peran pondok pesantren. Yang pesimis melihat bahwa melemahnya peran pesantren sebagai lembaga pendidikan tejadi karena peran politik lebih menonjol, sehingga pesantren terbagi-bagi sesuai dengan kotak-kotak partai politik yang bermaksud mewakili umat Islam di Indonesia. Kesibukan sebagian kecil pemimpin pesantren dalam kegiatan politik, oleh kalangan ini, ditempatkan sebagai bukti bahwa pergumulan untuk kekuasaan merupakan potensi yang melemahkan karir pesantren sebagai lembaga pendidikan. Namun mereka yang kritis berusaha memahami bahwa dalam masa transisi ini pesantren terlihat memberikan pelajaran yang berharga tentang perkembangan lembaga pendidikan yang mengakar di masyarakat. Kegagalan dalam satu hal dan keberhasilannya dalam hal lain diakui. Kesemuanya dipahami sebagai sesuatu yang menarik untuk ditelaah karena terbukti bahwa pesantren sendiri memperlakukannya sebagai sumber belajar untuk tetap berfungsi sebagai lembaga pendidikan sambil membangun pengetahuan bersama masyarakatnya. Op.Cit. hlm. 3

[15] Azyumardi Azra, “Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi menuju Milenium Baru”, Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999, hlm. 102

[16] Neong Muhajir, “Teori Perubahan Sosial”, dalam Ridlwan Nasir, “Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal; Pondok Pesantren di Tengah Arus Perubahan”, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2005, hlm. 12

[17] Ibid.

[18] M. Dawan Raharjo, “Pergulatan Dunia Pesantren”, Jakarta: P3M, 1985, hlm. 50-51

[19]  Hiroko Horikoshi, “Kiai dan Perubahan Sosial”, Jakarta: P3M, 1987, hlm. xvi-xvii

[20] M. Karyadi, “Kepemimpinan (Leadership)”, Bandung: Karya Nusantara, 1989,  hlm. 7-8