Model kepemimpinan kolektif pada dasarnya adalah kepemimpinan bersama, diamana antara satu dengan yang lain saling melengkapi. Selain  itu agar berjalan evektif,  pesantren juga perlu merekontruksi manajemen yang selama ini telah diterapkan. Secara internal, agar kepemimpinan di pesantren dapat mengaktualisasikan menajemen yang berbasis pesantren dengan memperkuat tiga hal berikut: (1) pesantren pelu berbenah diri yaitu dengan berupaya memajukan pondok di berbagai bidang, (2) memberikan pecerahan kepada civitas yang ada di pesantren agar bersikap kreatif-produktif, dengan tidak melupakan orisinilitas ajaran Islam, dan (3) membangun budaya, sehingga budaya yang ada dapat diwarnai oleh jiwa dan tradisi Islam. Hal ini hanya bisa dilakukan apabila memahami arus globalisasi, informasi secara benar, dan tidak bersikap eksklusif.

Sedangkan secara eksternal, pemimpin di pesantren dapat mengaktualisasikan peran kepemimpinannya sebagai penghubung dengan masyarakat. Karena pesantren selain berperan sebagai lembaga pendidikan juga berperan sebagai lembaga bimbingan keagamaan, keilmuan, kepelatihan, pengembangan masyarakat, dan sekaligus sebagai simpul budaya. Fungsi ini menjadikan kiai sebagai figur publik senantiasa berhubungan dengan pihak luar yang menghubungkan antara pesantren dengan masyarakat. Biasanya kiai dipercaya untuk memberikan siraman rohani secara rutin bagi masyarakat sekitar. Kegiatan tersebut dapat bebentuk pengajian, majlis taklim, peringatan hari besar keagamaan, haulan dan lain-lain. Kegiatan ini akhirnya akan membina hubungan yang harmonis antara kiai, pesantren dan masyarakat. Pesantren dapat berkembang menjadi sebuah lembaga pendidikan yang mengakar di tengah-tengah masyarakat antara lain karena dapat menjaga hubungan yang harmonis dari masyarakat sekitar dari kalangan manapun.

 

F.   PENUTUP

Dengan manajemen pondok yang terorganisir baik, kontrol dan kedisiplinan yang tepat, serta arahan terhadap gaya hidup modern yang islami, kebebasan santri tetap pada batas-batas tertentu. Walaupun lokasi terdapat di perkotaan dengan aktifitas para santri yang banyak di luar. Nilai-nilai modernitas tetap diterapkan, akan tetapi tanpa menghilangkan roh dari pondok pesantren itu sendiri. Akhirnya pesantren akan mampu memperbaiki pola kepemimpinan yang selama ini melekat dalam budaya pesantren. Sehingga kepemimpinan kiai di pesantren akan dapat memberikan kepuasan kepada masyarakat sebagai pengguna layanan pendidikan pondok pesantren.