MEREKONTRUKSI MODEL KEPEMIMPINAN KHARISMATIK

DI PESANTREN 

ABSTRAK

Di era modern seperti saat ini model kepemimpinan kharismatik masih begitu dominan ditampilkan di pesantren, hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena dengan perubahan zaman, tradisi tersebut tidak efektif lagi, yang pada akhirnya akan tergerus oleh arus modernitas. Hal ini perlu direkonstruksi secara kreatif berdasarkan nilai-nilai modernitas dan nilai Islam itu sendiri, menejemen kharismatik itu tidak perlu dieliminasi tapi disandingkan dengan pola rasional dan dibingkai dengan nilai-nilai moralitas agama. Melalui strategi tersebut keterkaitan dua unsur itu akan melahirkan suatu manajemen yang modern tanpa harus kehilangan roh nya yang bersifat moral. 

Kata Kunci: Merekontruksi, Model Kepemimpinan, Kaharismatik, Pesantren. 

A.    PENDAHULUAN

Sejarah pendidikan di Indonesia mencatat, bahwa pesantren adalah bentuk lembaga pendidikan pribumi tertua atau dengan kata lain sebagai “bapak” dari pendidikan di Indonesia.[2] Bahkan Nurcholis Madjid berpendapat bahwa pesantren tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian (indigenous) Indonesia, sebab keberadaannya mulai dikenal di bumi Nusantara pada periode abad ke 13-17 M, dan di Jawa pada abad ke 15-16 M. Jauh sebelum kolonial Belanda memperkenalkan pendidikan Barat. Pendapat ini seolah mendapat justifikasi dengan tidak ditemukannya lembaga pesantren di negara-negara Islam lainnya.[3]

Terlepas dari berbagai perbedaan asal usul pesantren, sejak didirikan pertama kali oleh Syech Maulana Malik Ibrahim pada tahun 1399 M, kemudian diteruskan oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel) di Kembang Kuning, pesantren mampu terus berkiprah hingga hari ini.[4] Dari zaman kolonial Belanda, orde lama, orde baru hingga reformasi, pesantren terus eksis dan mewarnai serta memberikan sumbangsih signifikan terhadap bangsa ini. Telah begitu banyak tokoh-tokoh kaliber dunia yang muncul dari pesantren, Syekh Nawawi al-Bantenî, Kiai Mahfudz Tremas, Syekh Muhammad Kholil, dan KH. Hasyim Asy’ari adalah contoh kongkrit kapabilitas alumnus pesantren.