ANALISIS SWOT DAN PROGRAM STRATEGIS PENINGKATAN SARANA DAN PRASARANA DI MA DARUL ILMI

 

Oleh Siti Rahmawati[1]

 

ABSTRAK

 

Analisis SWOT yang merupakan singkatan dari strength (kekuatan), weaknesses (kelemahan), opportunities (peluang) dan  threath (ancaman) adalah salah satu instrumen analisis yang andal dalam usaha mengembangkan lembaga pendidikan. Analisis SWOT bertumpu pada kekuatan dan kelemahan yang terdapat dalam internal lembaga pendidikan. Sedangkan peluang dan tantangan didasarkan kepada faktor eksternal lembaga pendidikan.

Keandalan analisis SWOT terletak pada kemampuan para penentu strategi organisasi (decision maker) untuk memaksimalkan kekuatan dan pemanfaatan peluang lembaga pendidikan. Harapannya jelas, yakni bertujuan untuk meminimalisasi kelemahan yang ada dalam internal lembaga pendidikan dan menekan dampak ancaman yang akan timbul dan harus dihadapi

Dalam penelitian ini penulis berusaha menganalisis SWOT manajemen sarana dan prasarana pendidikan di Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Darul Ilmi Banjarbaru.  

Berdasarkan data yang telah diperoleh dan telah di analisa maka dapat ditarik simpulan bahwa sarana dan prasarana yang ada di MA Darul Ilmi Banjarbaru masih belum memenuhi standar minimal sarana dan prasarana yang harus dimiliki madrasah/sekolah setingkat MA/SMA sesuai ketentuan kementerian pendidikan. Hal ini tentunya perlu strategi pemecahan masalah, perbaikan dan pengembangan. Mengingat persaingan antara lembaga pendidikan sekarang ini, oleh karena itu pihak madrasah harus terus berbenah dan memaksimalkan sumber daya yang ada agar madrasah ini tetap diminati oleh para pencari sekolah.

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Banyak indikator yang dapat dijadikan tolak ukur bagi keunggulan dan mutu suatu sekolah.Indikator-indikator tersebut antara lain adalah proses belajar mengajar yang ada di sekolah, kelengkapan sarana dan prasarananya, profesionalitas tenaga kependidikan atau sumber daya manusianya, prestasi akademik peserta didik dan kualitas manajemen sekolah.[2]

Keberadaan sarana dan prasarana pendidikan mutlak dibutuhkan dalam proses pendidikan, sehingga termasuk dalam komponen-komponen yang harus dipenuhi dalam melaksanakan proses pendidikan. Tanpa sarana pendidikan, proses pendidikan akan mengalami kesulitan yag sangat serius bahkan bisa menggalkan pendidikan.

Sarana dan prasarana pendidikan adalah semua benda yang bergerak dan tidak bergerak yang dibutuhkan untuk menunjang penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar, baik secara langsung maupun tidak langsung.[3]

Sarana dan prasarana tersebut ternyata memiliki kedudukan yang penting dalam manajemen pendidikan Islam. Para siswa/mahasiswa/santri/guru/ustadz tamu-tamu yang hadir, orang tua wali bisa tertarik pada suatu lembaga pendidikan Islam, jika ada pesona tertentu yang direfleksikan dari pengaturan sarana dan prasarana yang serba rapi, bersih, indah, anggun, dan asri.Bagaimanapun sekolah/madrasah/pesantren yang memiliki sarana lengkap, rapi, dan bersih kemudian ditunjang oleh penataan prasarana yang indah, anggun, dan asri akan memiliki pengaruh yang positif sehingga mereka tertarik, dan betah berada di dalam komplek lembaga tersebut.

Oleh karena itu, sarana dan prasarana pendidikan Islam seharusnya diupayakan semaksimal mungkin agar lembaga pendidikan Islam memiliki daya tarik khas. Jika terjadi demikian, maka posisi tawar lembaga tersebut terhadap masyarakat sekitar sangatlah tinggi. Hal ini sangat mungkin terjadi jika sarana prasarana ini mendapat perhatian besar dari manajer pendidikan Islam mulai dari tahap perbaikan, strategi pemecahan masalah, dan pengembangan dengan menggunakan analisis SWOT.[4]

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

A.  Pengertian dan Tujuan Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan

Manajemen sarana dan prasarana adalah suatu kegiatan bagaimana mengatur dan mengelola sarana dan prasarana pendidikan secara efisien dan efektif dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.[5] Manajemen sarana dan prasarana diperlukan untuk membantu kelancaran proses belajar mengajar.Ruang lingkup manajemen sarana dan prasarana pendidikan dilihat dari segi prasarana dibedakan menjadi dua yakni bangunan dan prasarana umum.

Sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar-mengajar, seperti gedung, ruang kelas, meja kursi, serta alat-alat dan media pengajaran. Adapun yang dimaksud dengan prasarana pendidikan adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran, seperti halaman, kebun, tanaman sekolah, jalan menuju sekolah, tetapi jika dimanfaatkan secara langsung untuk proses belajar-mengajar, seperti taman sekolah untuk mengajar biologi, halaman sekolah sebagai sekaligus lapangan olahraga, komponen tersebut merupakan sarana pendidikan. [6]

Manajemen sarana dan prasarana pendidikan dilakukan untuk menghindari terjadinya pemborosan, terganggunya proses pembelajaran akibat tidak memadainya atau tidak sesuainya sarana dan prasarana pendidikan yang tersedia. Di samping itu, manajemen sarana dan prasarana pendidikan dilakukan untuk mengatur dan menjaga sarana dan prasarana pendidikan agar dapat memberikan kontribusi secara optimal dan berarti pada jalannya proses pendidikan.

Menurut Ibrahim Bafadal, tujuan manajemen sarana dan prasarana pendidikan adalah:

1.    Untuk mengupayakan pengadaan sarana dan prasarana pemdidikan melalui sistem perencanaan dan pengadaan yang hati-hati dan seksama. Dengan perkataan-perkataan ini, melalui manajemen sarana dan prasarana pendidikan diharapkan semua perlengkapan yang didapatkan oleh sekolah adalah sarana dan prasarana yang berkualitas tinggi, sesuai dengan kebutuhan sekolah, dan dengan dana yang efesien.

2.    Untuk mengupayakan pemakaian sarana dan prasarana pendidikan secara tepat dan efesien.

3.    Untuk mengupayakan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, sehingga keberadaannya selalu dalam kondisi siap pakai dalam setiap diperlukan oleh semua personel sekolah.[7]

 

B.  Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan

Ketentuan sarana dan prasarana pendidikan telah ditentukan dalam Permen Diknas No 24 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan. Bagi sebuah sekolah atau madrasah minimal memiliki prasarana sebagai berikut:[8]

Standar sarana dan prasarana pada tingkat SMA/MA yaitu:

1)        Ruang kelas

2)        Ruang perpustakaan

3)        Ruang laboratorium Biologi

4)        Ruang laboratorium Fisika

5)        Ruang laboratorium Kimia

6)        Ruang laboratorium Komputer

7)        Ruang laboratorium Bahasa

8)        Ruang pimpinan

9)        Ruang guru

10)    Ruang tata usaha

11)    Tempat ibadah

12)    Ruang UKS

13)    Ruang konseling

14)    Ruang organisasi kesiswaan

15)    WC

16)    Gudang

17)    Ruang sirkulasi

18)    Tempat bermain/olahraga

 

C.  Prinsip-prinsip Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan

Dalam mengelola sarana dan prasarana pendidikan, sebuah lembaga pendidikan harus memperhatikan prinsip-prinsip manajemen sarana dan prasarana sebagai berikut:[9]

1.        Prinsip pencapaian tujuan, yaitu selalu dalam keadaan siap pakai untuk mencapai tujuan proses belajar mengajar.

2.        Prinsip efisiensi, yaitu perencaaan yang seksama untuk mengurangi pemborosan.

3.        Prinsip administratif, yaitu memperhatikan peraturan/intruksi yang berlaku.

4.        Prinsip kejelasan dan tanggungjawab, yaitu didelegasikan kepada personel yang bertanggung jawab atau jika melibatkan banyak personel adanya deskripsi tugas dan tanggung jawab yang jelas.

5.        Prinsip kekohesifan, yaitu pengelolaan sarana dan prasarana direalisasikan dalam bentuk program kerja sekolah.

Selain dari prinsip-prinsip yang telah disebutkan di atas, prinsip lain yang juga harus diperhatikan dalam perspektif Islam yaitu:

1.        Prinsip kejujuran dan amanah, yaitu pengadaan barang dilakukan oleh orang-orang yang jujur dan dapat menjaga amanah.

2.        Prinsip halal, yaitu cara memperoleh sarana dan prasarana  berasal dari cara yang halal sehingga barang yang akan digunakan tersebut benar-benar barang yang tidak diragukan lagi kehalalannya.

3.        Prinsip hemat (tidak mubadzir), yaitu ekonomis, tidak boros, efisiensi dan sesuai dengan kebutuhan teknis yang diisyaratkan oleh suatu lembaga pendidikan. Artinya pengadaan sarana dan prasarana pendidikan berdasarkan kebutuhan dan bukan keinginan.

4.        Prinsip sistematis, yaitu terarah dan terkendali sesuai dengan rencana, program maupun kegiatan.

5.        Prinsip kebersihan, yaitu kelengkapan sarana dan prasarana juga harus memenuhi persyaratan keindahan dan kebersihan.

6.        Prinsip kesehatan, yaitu dalam pengadaan sarana dan prasarana tidak boleh mengganggu pertumbuhan fisik, jiwa, akal  dan kesehatan peserta didik.

7.        Prinsip ramah lingkungan, yaitu sarana dan prasarana pendidikan tidak bertentangan dan tidak mencemari lingkungan.

 

D.  Proses Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan

Pada garis besarnya manajemen sarana dan prasarana pendidikan meliputi kegiatan perencanaan, pengadaan, pendistribusian, pemakaian, pengawasan dan pemeliharaan, penyimpanan inventarisasi, dan penghapusan. Agar lebih jelas mengenai proses manajemen sarana dan prasarana pendidikan akan dipaparkan secara ringkas sebagai berikut:

1.        Penentuan/perencanaan kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan

Aspek-aspek perencanaan meliputi:

a. Apa yang dilakukan.

b. Siapa yang harus melakukan.

c. Kapan dilakukan.

d. Dimana akan dilakukan.

e. Bagaimana melakukannya.

f. Dan apa saja yang diperlukan agar tercapainya tujuan dapat maksimal.

Dalam membuat perencanaan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan secara umum harus melalui proses sebagai berikut:

a.    Menyusun daftar perencanaan pengadaan berdasarkan analisis kebutuhan dari masing-masing satuan organisasi.

b.    Menyusun daftar perkiraan biaya atau harga  barang-barang atau alat-alat

  yang diperlukan berdasarkan standar yang telah ditentukan.

c.    Menetapkan skala prioritas pengadaannya berdasarkan dana yang tersedia

  serta urgensi kebutuhan.

2.        Pengadaan sarana dan prasarana pendidikan

Sistem pengadaan sarana dan prasarana pendidikan dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:

a.    Pembelian dengan biaya pemerintah.

b.    Pengadaan sarana dan prasarana dengan cara membeli langsung ataupun melalui pemesanan.

c.    Membeli dengan biaya dari SPP.

d.   Mengajukan proposal bantuan pengadaan sarana dan prasarana ke lembaga-lembaga sosial.

e.    Pengadaan sarana dan prasarana dengan cara menyewa atau meminjam.

f.     Pengadaan sarana dan prasarana dengan cara tukar menukar barang.[10]

3.        Pendistribusian sarana dan prasarana pendidikan

Ada 3 langkah yang ditempuh oleh bagian penanggung jawab penyaluran yaitu; penyusunan alokasi barang, pengiriman barang, dan penyerahan barang.[11] Sarana dan prasarana yang didistribusikan, diharapkan betul-betul bermanfaat (tidak mubadzir). 

4.        Pemakaian sarana dan prasarana pendidikan

Barang-barang yang telah diadakan pendistribusian kepada bagian-bagian kelas, perpustakaan, laboratorium, tata usaha, atau personel sekolah berarti barang-barang tersebut sudah berada dalam tanggung jawab bagian-bagian atau personel sekolah tersebut. Atas pelimpahan itu pula pihak-pihak tersebut berhak memakainya untuk kepentingan proses pendidikan.

5.        Pengawasan dan pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan

Pengawasan terhadap sarana dan prasarana pendidikan merupakan usaha yang ditempuh oleh pimpinan dalam membantu personel sekolah untuk memelihara dan memanfaatkan sarana dan prasarana dengan sebaik mungkin demi keberhasilan proses pembelajaran.

Pemeliharaan merupakan kegiatan yang terus menerus dilakukan untuk mengusahakan agar barang tetap dalam keadaan baik atau siap untuk dipakai. Menurut kurun waktunya, pemeliharaan dibedakan dalam dalam dua kurun yaitu:

a. Pemeliharaan sehari-hari, misalnya: membersihkan ruang dan perlengkapannya, komputer, dan sebagainya.

b. Pemeliharaan berkala, yaitu: dua bulan sekali, tiga bulan sekali, dan sebagainya. Misalnya pengecetan dinding, pemeriksaan bangku, genteng, dan perabot lainnya.

6.    Inventarisasi sarana dan prasarana

Melalui inventarisasi perlengkapan pendidikan diharapkan dapat tercipta administrasi barang, penghematan keuangan, dan mempermudah pemeliharaan dan pengawasan.

Kegiatan inventarisasi sarana dan prasarana pendidikan meliputi:

a.         Kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan dan pembuatan kode barang.

b.        Kegiatan yang berhubungan dengan pembuatan laporan

7.    Penghapusan

Ada dua cara dalam penghapusan barang inventaris yang dapat dilakukan yaitu:

a.         Menghapus dengan menjual barang-barang melalui kantor lelang negara.

b.        Melalui pemusnahan, untuk memusnahkan barang maka pemusnahannya dilakukan oleh pemerintah daerah setempat atau kepolisian negara serta mengikuti tata cara yang berlaku dengan cara dibakar, dikubur dan sebagainya.[12]

 

E.  Langkah-Langkah Perencanaan Peningkatan Sarana dan Prasarana

Dalam perencanaan peningkatan sarana dan prasarana langkah-langkah yang harus kita lakukan adalah:

1.      Melakukan identifikasi dan menganalisis kebutuhan sarana prasana pendidikan

Identifikasi adalah pencatatan dan pendaftaran secara tertib dan teratur terhadap seluruh kebutuhan sarana dan prasarana sekolah yang dapat menunjang kelancaran proses belajarar mengajar, baik untuk kebutuhan sekarang maupun yang akan datang.Pada umumnya, kebutuhan sarana prasana pendidikan dapat dikategorikan menjadi empat, yaitu: kualitas, produktivitas, efektivitas, dan efisiensi dari sarana prasana pendidikan.Hal-hal yang terkait dalam identifikas dan menganalisis kebutuhan sarana dan prasarana di sekolah, di antaranya adalah sebagai berikut:

a.       Adanya kebutuhan sarana dan prasarana sesuai dengan perkembangan sekolah.

b.      Adanya sarana dan prasarana yang rusak, dihapuskan, hilang atau sebab lain yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga memerlukan penggantian.

c.       Adanya persedian sarana dan prasarana untuk tahun anggaran mendatang.

2.      Inventarisasi Sarana dan Prasarana Yang Ada

Setelah identifikasi dan analisis kebutuhan dilakukan, selanjutnya diadakan pengurusan, penyelenggaraan, pengaturan dan pencatatan barang-barang milik sekolah ke dalam suatu daftar inventaris secara teratur menurut ketentuan yang belaku.

3.      Mengadakan Seleksi

Dalam tahapan mengadakan seleksi, perencanaan sarana dan prasarana meliputi:

a.       Menyusun konsep program

b.      Pendataan

4.      Sumber Anggaran/Dana

Pendanaan untuk pengadaan, pemeliharaan, penghapusan, dan lain-lain dibebankan dari APBN/APBD, dan bantuan dari  SPP atau Komite Sekolah. Adapun perencanaan anggaran dilaksanakan dalam jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Fungsi perencanaan penganggaran adalah untuk memutuskan rincian menurut standar yang berlaku terhadap jumlah dana yang telah ditetapkan sehingga dapat menghindari pemborosan.

5.      Mengidentifikasi fungsi-fungsi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sarana prasana pendidikan

Fungsi yang dimaksud misalnya, fungsi proses belajar mengajar beserta fungsi-fungsi pendukungnya yaitu fungsi pengembangan kurikulum, fungsi perencanaan dan evaluasi, fungsi ketenagaan, fungsi keuangan, fungsi pelayanan kepeserta didikan, fungsi pengembangan iklim akademik, fungsi hubungan sekolah – masyarakat, dan fungsi pengembangan fasilitas.

6.      Melakukan Analisis SWOT

Analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, and threat) dilakukan dengan maksud untuk mengenali tingkat kesiapan setiap fungsi dari keseluruhan fungsi sekolah yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sarana prasana pendidikan yang telah ditetapkan. Analisis SWOT dilakukan terhadap keseluruhan faktor dalam setiap fungsi, baik faktor yang tergolong internal maupun eksternal.

Tingkat kesiapan harus memadai, artinya minimal memenuhi ukuran kesiapan yang diperlukan untuk memnuhi kebutuhan sarana prasana pendidikan, yang dinyatakan sebagai: (1) kekuatan, bagi faktor yang tergolong internal, (2) peluang, bagi faktor yang tergolong eksternal. Sedang tingkat kesiapan yang kurang memadai, artinya tidak memenuhi ukuran kesiapan, dinyatakan bermakna: (1) kelemahan, bagi faktor yang tergolong internal, dan (2) ancaman, bagi faktor yang tergolong eksternal. Baik kelemahan maupun ancaman, sebagai faktor yang memiliki tingkat kesiapan kurang memadai, disebut persoalan

7.      Alternatif langkah pemecahan persoalan

Langkah pemecahan persoalan hakekatnya merupakan tindakan mengatasi kelemahanatau ancaman, agar menjadi kekuatan atau peluang, yakni dengan memanfaatkan adanya satu  atau lebih faktor yang  memiliki kekuatan atau peluang.

8.      Menyusun rencana peningkatan mutu sarana prasana pendidikan

Setelah target sarana prasana pendidikan ditetapkan, maka sekolah harus menyusun rencana peningkatan mutu sarana prasana pendidikan sesuai dengan target yang ingin dicapai. Rencana ini harus menjelaskan secara detail dan lugas tentang : aspek–aspek mutu sarana prasana pendidikan yang ingin dicapai, kegiatan–kegiatan yang harus ditempuh, siapa yang harus melaksanakan, kapan, dan dimana dilaksanakna, serta berapa biaya yang diperlukan untuk sarana prasana pendidikan tersebut. Hal ini diperlukan untuk memudahkan sekolah dalam menjelaskan dan memperoleh dukungan dari pemerintah dan orangtua peserta didik baik secara moral maupun fisik untuk melakankana rencana peningkatan mutu sarana prasana pendidikan tersebut.

Yang perlu diperhatikan oleh sekolah dalam menyusun rencana program ini adalah keterbukaan kepada semua pihak yang menjadi Stakeholder pendidikan, khususnya orang tua dan masyarakat (komite sekolah) pada umumnya. Dengan cara demikian akan diperoleh kejelasan, berapa kemampuan sekolah dan pemerintah untuk menanggung program ini, dan berapa sisanya yang harus ditanggung oleh orang tua dan masyarakat sekitar. Dengan keterbukaan ini, maka kemungkinan kesulitan memperoleh sumber dana untuk melaksanakan program ini bisa dihindari.

9.      Melaksanakan rencana peningkatan mutu sarana prasana pendidikan

Dalam melaksankana rencana program peningkatan mutu sarana prasana pendidikan yang telah disetujui bersama antara sekolah, orangtua, dan masyarakat, maka sekolah perlu mengambil langkah proaktif untuk mewujudkan target – target yang ditetapkan.

Kepala sekolah dan guru bebas mengambil inisiatif dan kreatif dalam menjalankan program – program kegiatan yang diproyeksikan dapat membebaskan diri dari keterikatan – keterikatan birokratis yang biasanya banyak menghambat pengadaan sarana prasana pendidikan.

10.  Melakukan evaluasi pelaksanaan

Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program, sekolah perlu mengadakan evaluasi pelaksanaan program baik jangka pendek maupun jangka panjang. Evaluasi jangka pendek dilakukan setiap akhir tahun untuk mengetahui keberhasilan program secara bertahap. Bilamana pada satu tahun dinilai adanya faktor – faktor yang tidak mendukung, maka sekolah harus dapat memperbaiki pelaksanaan program peningkatan mutu sarana prasana pendidikan pada tahun berikutnya. Dengan evaluasi ini akan diketahui kelebihan dan kelemahan tentang sarana prasana pendidikan untuk diperbaiki tahun – tahun berikutnya.

Dalam melakukan evaluasi, kepala sekolah harus mengikutsertakan setiap unsur yang terlibat di dalam program peningkatan sarana prasana pendidikan, khususnya guru dan staf agar mereka dapat menjiwai setiap penilaian yang dilakukan dan memberikan alternatif pemecahan. Demikian pula, orangtua dan masyarakat sebagai pihak eksternal harus dilibatkan untuk menilai keberhasilan program yang telah dilakukan. Dengan demikian, sekolah mengetahui bagaimana sudut pandang pihak luar bila dibandingkan dengan hasil penilaian internal. Suatu hal yang bisa terjadi bahwa orang tua dan masyarakat menilai suatu program gagal atau kurang berhasil, walaupun pihak sekolah menganggapnya cukup berhasil. Yang perlu disepakati adalah indikator apa saja yang perlu diterapkan sebelum penilaian diterapkan.

Sebagaimana dikemukakan terdahulu, hasil penelitian berguna untuk dijadikan alat untuk memperbaiki kinerja program pada saat yang akan datang. Bila dianggap berhasil, target mutu sarana prasana pendidikan dapat ditingkatkan sesuai dengan kemampuan sumber daya yang tersedia. Bilamana tidak, bisa saja target mutu sarana prasana pendidikan tetap seperti sediakala, namun dilakukan perbaikan strategi dan mekanisme pelaksanaan kegiatan program. Namun tidak tertutup kemungkinan, bahwa target mutu sarana prasana pendidikan diturunkan, karena dianggap terlalu berat atau tidak sepadan dengan sumber daya pendidikan (tenaga dan dana) yang tersedia.[13]

Dalam perencanaan sarana dan prasaran pendidikan di sekolah, maka ada beberapa persyaratan-persyaratan yang harus diperhatikan sebagai berikut:

  1. Perencanaan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan persekolahan harus dipandang sebagai bagian integral dari usaha peningkatan kualitas proses belajar mengajar.
  2. Perencanaan pengadaan sarana prasarana harus jelas dan menggunakan analisis yang rasional, serta sistematik
  3. Perencanaan sarana prasarana pendidikan dilakukan demi pengembangan dan peningkatan pendidikan.
  4. Hasil dari perencanaan sarana dan prasarana tersebut dapat bermanfaat bagi siswa-siswa khususnya dan masyarakat pada umumnya.[14]

F.   Perencanaan Pengadaan Barang

Suatu kegiatan administrasi/ manajemen/ pengelolaan yang baik dan tidak gegabah (sembrono) tentu diawali dengan suatu perencanaan (planning/ programming) yang matang dan baik dilaksanakan demi menghindari terjadinya kesalahan dan kegagalan yang tidak diinginkan.

Perencanaan yang baik dan teliti akan berdasarkan analisis kebutuhan, dan penentuan skala prioritas bagi kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan urutan pertama, kedua, ketiga dan seterusnya untuk dillaksanakan yang disesuaikan dengan tersedianya dana dan tingkat kepentingannya.[15]

1.      Barang bergerak

a.       Barang habis pakai.

1)      Menyusun daftar perencanaanberdasarkan analisis kebutuhan, dari masing-masing satuan organisasi.

2)      Menyusun perkiraan biaya/ harga keperluan pengadaan barang-barang tersebut selama satu bulan/semester/tahun.[16]

3)      Menyusun rencana pengadaan barang tersebut menjadi rencana triwulan, tengah tahunan, dan kemudian menjadi rencana tahunan.

b.      Barang tidak habis dipakai.

1)      Menyusun daftar keperluan barang/alat berdasarkan analisis kebutuhan/kegiatan masing-masing satuan organisasi, sambil memperhatikan barang-barang atau alat-alat yang masih ada dan masih dapat dipakai selama minimum satu tahun lagi.

2)      Menyususn daftar perkiraan biaya/harga barang-barang/alat-alat yang diperlukan berdasar standar yang telah ditentukan.

3)      Menetapkan skala prioritas pengadaannya berdasarkan dana yang tersedia serta urgensi kebutuhannya.[17]

2.      Barang Tidak bergerak

a.       Tanah

1)      Menyusun rencana pengadaan tanah berdasarkan analisis kebutuhan bangunan yang akan didirikan serta lokasi yang ditentukan berdasarkan pemetaan sekolah.

2)      Mengadakan survei tentang adanya fasilitas sekolah seperti: jalan, listrik, air, telepon, transportasi dan sebagainya.

3)      Mengadakan survai harga tanah.

4)      Menyusun rencana anggaran biaya bangunan.

b.      Bangunan

Menyusun rencana bangunan yang akan didirikan berdasarkan analisis kebutuhan secara lengkap dan teliti.

a)      Mengadakan survai terhadap tanah dimana bangunan akan didirikan, hal luasnya, kondisi, situasi, status, perizinan dan sebagainya.

b)      Menyusun rencana konstruksi dan arsitektur bangunan sesuai pesanan.

c)      Menyusun rencana anggaran biaya sesuai harga standar yang berlaku di daerah yang bersangkutan.

d)     Menyusun pentahapan rencana anggaran biaya (RAB) yang disesuaikan dengan rencana pentahapan pelaksanaan secara teknis, serta memperkirakan anggaran yang akan disediakan setiap tahun, dengan memperhatikan skala prioritas yang telah ditetapkan

e)      berdasarkan kebijakan Dinas Pendidikan.[18]

Gedung-gedung yang dibangun melalui perencanaan yang matang sehingga minimal dapat digunakan dalam waktu dua puluh lima tahun. Gedung harus kuat, awet, posisinya tepat sehingga tidak sampai dibongkar kemudian didirikan gedung baru di tempat yang sama dalam waktu yang relatif cepat, karena hal itu adalah pemborosan. Sebaiknya, gedung itu dibangun bertingkat yang berarti menghemat tanah serta terkesan kokoh. Bentuk gedungpun sebaiknya juga indah dan memiliki gaya arsitektur yang khas sehingga membuat orang yang memandang merasa tertarik.[19]

 

 

 

 

 


 

BAB III

HASIL PENELITIAN

 

A.  Profil Lokasi Penelitian

MA Darul Ilmi Banjarbaru berdiri pada tahun 1991 di bawah  yayasan pondok pesantren Darul Ilmi barstatus diakui pada tanggal 28 Juni 1994 berdasarkan SK Menteri Agama Nomor. W. 0/6/PP. 03. 2/029/1994 dengan Nomor Statistik Madrasah  512. 63. 710. 118.

Adapun nama dari yayasan pondok pesantren Darul Ilmi Banjarbaru ini diambil dari nama pendiri pondok pesantren yaitu H. Ilmi (Alm) yang didirikan pada tanggal 13 Juni 1983. Yayasan Pondok pesantren Darul Ilmi terletak di jalan A. Yani  Km 19,2 kecamatan Landasan Ulin Barat, kota Banjarbaru, dengan menempati areal seluas 10 ha. Dengan batas-batas  wilayah

1. Sebelah timur          : Perumahan guru Pondok Pesantren Darul Ilmi

2. Sebelah barat           : Perumahan Penduduk

3. Sebelah utara           : Kebun Penduduk

4. Sebelah selatan        : Jalan A. Yani/rumah penduduk

 Visi MA Darul Ilmi Banjarbaru  yaitu Mempersiapkan Peserta Didik Yang Ahli di Bidang Ilmu  Agama Islam dan Terampil Pada Ilmu Pengetahuan dan  Teknologi ( IPTEK ).

Adapun Misi MA Darul Ilmi :

1.  Mendidik siswa terampil dalam Bahasa Arab dan Bahasa Inggris

2.  Mendidik siswa Ahli pada Disiplin Ilmu Fiqih Islam

3.  Mendidik siswa terampil pada Ilmu pengetahuan dan Teknologi  (IPTEK)

4.    Mendidik siswa agar memiliki Skell Hidup (Kemampuan Berwira Usaha)

 

B.  Kondisi Sarana dan Prasarana di MA Darul Ilmi

MA Darul Ilmi dibangun di atas lahan seluas 500 m2 dengan konstruksi bangunan permanen yang sejak berdirinya pada tahun 1991 telah banyak mengalami perubahan dan perkembangan, terutama dari segi prasarana dan sarana pendidikan yang ada di MA Darul Ilmi Banjarbaru cukup memadai untuk menunjang terlaksananya  proses belajar mengajar.

Mengingat MA Darul Ilmi Banjarbaru berada di lingkungan Pondok pesantren Darul Ilmi sehingga prasarananya sebagian besar adalah milik bersama semua siswa yang berada dibawah yayasan Pondok pesantren Darul Ilmi seperti masjid siswa putra, musholla untuk siswa putri, laboratorium komputer, tempat parkir, lapangan, dll.

Berdasarkan wawancara dengan kepala madrasah bahwa siswa yang berminat untuk melanjutkan pendidikan di pondok pesantren Darul Ilmi dari tahun ketahun mengalami peningkatan.Hal ini berdampak juga pada jumlah siswa yang melanjutkan ke MA Darul Ilmi Banjarbaru semakin meningkat pula.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan, beberapa sarana yang terdapat di MA Darul Ilmi Banjarbaru pada tahun pelajaran 20012/2013 dapat dilihat pada tabel berikut:

1.      Sarana Pendidikan di MA Darul Ilmi Banjarbaru

a.  Keadaan Ruangan

 

No

JENIS RUANG

Jml

LUAS

Keadaan

Harapan

1

Ruang Kepala Madrasah/ kantor

1

7m x 6m

Belum ideal

Memiliki ruang masing-masing setiap struktur

2

Ruang Guru / kantor

3.

Ruang TU

4

Ruang Perpustakaan

5

WC Guru

2

1,5m x 2m

-

-

6

WC Murid

6

1,5mx2m

-

-

7.

Laboratorium Komputer

1

8m x 7 m

-

-

 

 

 

 

b.      Sarana Ruang Kantor

 

No

Jenis

Jlh

Keadaan

Ket

Baik

Rusak

Digunakan

Tdk

Digunakan

1

Kursi dan meja Tamu

1 set

V

 

V

 

 

2

Kursi

12

V

 

V

 

 

3

Meja

12

V

 

V

 

 

4

Lemari

2

V

 

V

 

 

5

Rak Buku

4

V

 

V

 

 

6

Papan Data Guru

1

V

 

V

 

 

7

Papan Data Siswa

1

V

 

V

 

 

8

Papan Jadwal

1

V

 

V

 

 

9

Papan Visi Misi

1

V

 

V

 

 

10

Jam Dinding

3

V

 

V

 

 

 

c.    Sarana Ruang Belajar/Kelas

NO

JENIS SARANA

KEADAAN

JUMLAH

KET

BAIK

RUSAK

1

Meja Guru

6

 

6

 

2

Kursi Guru

6

 

6

 

3

Kursi Murid Kelas XA

48

 

48

 

5

Kursi Murid Kelas XB

38

 

38

 

6

Kursi Murid Kelas XIA

32

 

32

 

7

Kursi Murid Kelas XIB

33

 

33

 

8

Kursi Murid Kelas XIIA

35

 

35

 

9

Kursi Murid Kelas XIIB

19

 

19

 

16

Papan Tulis White Board

6

 

6

 

17

Papan Absen

6

 

6

 

18

Jam Dinding

6

 

6

 

19

Kalender Pendidikan

6

 

6

 

20

Lambang Negara

6

 

6

 

21

Gambar Presiden

6

 

6

 

22

Gambar Wapres

6

 

6

 

 

      2.  Prasarana Pendidikan MA Darul Ilmi Banjarbaru

No

Jenis alat

Jlh

Keadaan

Ket

Baik

Rusak

Digunakan

Tidak

Digunakan

1

Listrik

1.200 W

V

 

V

 

 

2

Amplifier

2

V

 

V

 

 

3

Salon

2

V

 

V

 

 

4

Kipas angina

1

V

 

V

 

 

5

Komputer

22

V

 

V

 

 

13

Laptop

1

V

 

V

 

 

14

Printer

1

V

 

V

 

 

15

Dispenser

1

V

 

V

 

 

17

Kalkulator

1

V

 

V

 

 

 

 

3.      Sumber Dana

a.      Bantuan dari Pemerintah melalui BSM

b.      Infaq jariyah dari masyarakat dan wali murid


 

BAB IV

ANALISIS SWOT DAN PROGRAM STRATEGIS PENINGKATAN SARANA DAN PRASARANA DI MA DARUL ILMI

 

A.  Analisis SWOT Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan di Madrasah Aliyah Darul Ilmi Banjarbaru

Analisis SWOT yang merupakan singkatan dari strength (kekuatan), weaknesses (kelemahan), opportunities (peluang) dan  threath (ancaman) adalah salah satu instrumen analisis yang andal dalam usaha mengembangkan lembaga pendidikan. Analisis SWOT bertumpu pada kekuatan dan kelemahan yang terdapat dalam internal lembaga pendidikan. Sedangkan peluang dan tantangan didasarkan kepada faktor eksternal lembaga pendidikan.[20]

Keandalan analisis SWOT terletak pada kemampuan para penentu strategi organisasi (decision maker) untuk memaksimalkan kekuatan dan pemanfaatan peluang lembaga pendidikan. Harapannya jelas, yakni bertujuan untuk meminimalisasi kelemahan yang ada dalam internal lembaga pendidikan dan menekan dampak ancaman yang akan timbul dan harus dihadapi.[21]

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, penulis berusaha menganalisa SWOT manajemen sarana dan prasarana pendidikan di Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Darul Ilmi Banjarbaru  sebagai berikut:

1.    Kekuatan (strenght)

a.    Lingkungan madrasah di dalam pondok pesantren

b.    Lokasi ke Madrasah sangat mudah untuk dijangkau

c.    Halam yang luas dan tempat parkir yang memadai

d.   Gedung sekolah yang masih baru dan permanen

e.    Lingkungan yang kondusif

f.     Sudah memiliki ruang Labolatorium Komputer yang memadai

g.    Lokasi yang berdekatan dengan pusat perkantoran yang menjadi pusat pemerintah provinsi

h.    Memiliki listrik dengan kapasitas daya yang cukup besar

2.    Kelemahan (weaknesses)

a.    Jumlah ruang kelas yang tidak sebanding dengan jumlah siswa

dari hasil wawancara dan observasi diketahui bahwa jumlah ruang kelas di MA Darul Ilmi yaitu 7 buah, sedangkan jumlah siswanya yaitu 385 orang, sehingga 1 kelas rata-rata ditempati 41 orang, sedangkan kelas yang ideal adalah kelas yang ditempati 32 siswa per kelasnya.

b.     Ruang perpustakaan bergabung dengan ruang guru, TU, dan kepala madrasah

c.    Belum memiliki laboratorium IPA dan Bahasa

d.   Buku koleksi perpustakaan yang sangat minim

e.    Belum memiliki ruang BK dan UKS

f.     Jumlah alat peraga dan media pembelajaran yang minim

g.    Ruang kelas yang cukup panas karena tidak ada kipas angin atau pendingin

h.    Ruang sirkulasi yang belum tersusun rapi, indah dan bersih. Di lembaga pendidikan ini sarana berupa tempat sampah belum dipergunakan secara maksimal. Meskipun tempat sampah telah di letakkan hampir di setiap bangunan namun masih terlihat ada sampah yang berserakan di beberapa sudut tempat

i.      Jumlah komputer di laboratorium yang tidak sebanding dengan jumlah siswa

j.      Belum memiliki tenaga ahli yang menangani laboratorium komputer

k.    Belum berlangganan air bersih (PDAM)

3.    Peluang (opportuities)

a.       Memiliki ruang perpustakaan, ruang kepala madrasah, ruang guru dan ruang TU sendiri-sendiri.

b.      Memiliki ruang kelas yang sebanding dengan jumlah siswa

c.       Memiliki laboratorium IPA dan Bahasa

d.      Memiliki tenaga ahli yang menangani laboratorium komputer

e.       Memiliki alat peraga dan media pembelajaran yang memadai

f.       Memiliki ruang BK dan UKS

g.      Instalansi PDAM yang sudah ada

h.      Memiliki buku koleksi perpustakaan yang lengkap dan suasana ruang yang nyaman

i.        Susana ruang kelas yang kondusif

j.        Ruang sirkulasi yang tersusun rapi, indah dan bersih.

4.    Ancaman (Threats)

a.       Dikhawatirkan para siswa pada lembaga ini tidak dapat mengikuti arus perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi disebabkan tidak adanya laboratorium IPA dan Bahasa serta tenaga ahli yang mengelola.

b.      Sulitya melaksanakan pembelajaran dengan standar proses yang bagus

c.       Perangkat komputer yang ada di laboratorium komputer akan cepat rusak dan tidak bisa bertahan lama, mengingat tidak ada tenaga ahli yang menangani.

d.      Menurunnya motivasi orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke MA Darul Ilmi 

e.       Siswa tidak semangat serta mengalami kebosanan untuk belajar, sebab media dan alat peraga yang digunakan sangat minim dan monoton

f.       Persaingan yang semakin ketat dan adanya SMAN yang lokasinya berdekatan  sehingga memungkinkan penurunan jumlah siswa yang masuk MA Darul Ilmi.

g.      Lokasi MA Darul Ilmi yang semakin dipadati oleh perumahan penduduk sehingga membuat kesulitan pihak pengelola Pondok apabila ingin melakukan perluasan lahan untuk pembangunan gedung baru.

h.      Kemampuan membangun sendiri sangat rendah

i.        Penerapan disiplin yang terganggu.

 

B.  Program Strategis untuk 5 Tahun ke Depan

Menurut perkiraan penulis program strategis yang harus dilakukan Madrasah Aliyah Pondok Pesantern Darul Ilmi Banjarbaru untuk jangka waktu lima tahun kedepan sebagai berikut:

 

1. Membangun ruang kelas yang baru

Hal ini perlu cepat untuk direalisasikan mengingat rata-rata jumlah per kelas di tempati 40 siswa, sehingga pembelajaran tidak berjalan secara efektif.

2.    Memiliki ruang kepala madrasah, ruang guru, dan ruang TU sendiri-sendiri atau terpisah

Mengingat selama ini ruangan kepala madrasah bergabung  dengan ruang guru, dan ruang TU maka meja yang ada di ruang kantor digunakan mereka secara bergatian/bersama sehingga guru kurang dapat melaksanakan tugasnya secara maksimal. Sehingga pembangunan untuk ruang guru menjadi prioritas dalam waktu yang tidak lama.Hal ini dilakukan agar mereka dapat memberikan pelayanan serta bekerja secara maksimal.

3.    Memasang instalansi PDAM

Berdasarkan dengan hasil wawancara dengan siswa, air yang digunakan adalah air tanah, sehingga kualitas airnya kurang baikdari warna, rasa dan baunya. Hal ini tentunya sangat berdampak pada kesehatan siswa, mengingat mereka juga mondok di sana.

4.    Memiliki ruang perpustakaan dan penambahan jumlah buku-buku bacaan di dalamnya dan sistem manajemen informasi perpustakaan agar perpustakaan yang ada dapat lebih berkembang.

Pembangunan ruang perpustakaan dan penambahan jumlah buku. Mengingat perpustakaan adalah fasilitas atau tempat menyediakan sarana bahan bacaan. Tujuan dari perpustakaan sendiri, khususnya perpustakaan adalah memberikan layanan informasi untuk kegiatan belajar dan penelitian. Sebagai sebuah sistem perpustakaan terdiri dari beberapa unit kerja atau bagian yang terintergrasikan melalui sistem yang dipakai untuk pengolahan, penyusunan dan pelayanan koleksi yang mendukung berjalannya fungsi–fungsi perpustakaan.

5.    Mememiliki labaratorium IPA dan Bahasa dengan fasilitas yang baik

Sejak dari awal berdirinya Madrasah hingga sekarang, hanya tersedia jurusan IPS, hal ini dikarenakan MA Darul Ilmi salah satunya tidak memiliki Laboratorium IPA yang terdiri dari laboratorium kimia, fisika dan biologi. Berdasarkan pengamatan dan observasi, kemampuan para siswa cukup mendukung untuk mengikuti kelas program/jurusan IPA. Oleh karena itu pembangunan Lab IPA dan Bahasa merupakan hal yang harus di prioritaskan, mengingat salah satu misi MA Darul Ilmi yaitu mencetak siswa terampil pada IPTEK dan mendidik siswa terampil dalam Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.

6.    Memiliki tenaga ahli yang menangani laboratorium komputer

7.    Memiliki ruang BK (bimbingan konseling) dan ruang UKS

Fasilitas Bimbingan Konseling cukup penting dalam keberadaan sebuah sekolah. Dengan adanya fasilitas ini, siswa-siswi yang memiliki masalah/ingin punya tempat curhat uneg-uneg dan beban pikiran, bisa datang ke ruangan ini. Sarana dan prasarana merupakan penunjang untuk keaktifan proses belajar mengajar. Dengan tidak adanya ruang BK dan Guru BK sehingga dalam menangani masalah-masalah kesiswaan menjadi tanggung jawab kepala sekolah dan wali kelas. Hal ini tentunya  kurang maksimal dalam melakukan bimbingan.

8.    Perlu adanya ruang khusus yang digunakan untuk pengelolaan seluruh kegiatan Ekstrakurikuler.

9.    Pengadaan LCD, proyektor, layar, dan sound jaringan sebagai media pembelajaran untuk menunjang tercapainya salah satu visi pondok yaitu berwawasan luas.

 

C.  Strategis Pemecahan Masalah, Perbaikan dan Pengembangan

Dalam upaya untuk menanggulangi kemungkinan ancaman yang terjadi di kemudian hari sangat perlu strategi pemecahan masalah. Selain itu, sebaiknya dilakukan upaya perbaikan dan pengembangan di bidang manajemen sarana dan prasarana pendidikan sebagai berikut:

 

1.        Strategi Pemecahan Masalah

a.    Untuk pengadaan bangunan ruang kelas, ruang kepala madrasah, guru, perpustakaan, TU, BK, UKS, dan ruang pengelola ekstrakurikuler, pengadaan komputer, LCD, proyektor, layar, sound jaringan, dan alat peraga dapat diwujudkan dengan cara bekerja sama dengan pihak pemerintah daerah setempat dan pemerintah pusat atau pihak-pihak terkait lainnya. Kerja sama tersebut dapat  berupa pengajuan proposal bantuan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan ke lembaga-lembaga sosial yang tidak mengikat atau bantuan dari masyarakat.

b.    Bekerjasama dengan pihak dinas pendidikan untuk dapat mengirimkan tenaga ahli dalam mengelola laboratorium komputer atau merekrut karyawan baru yang memiliki latar belakang yang sesuai.

c.    Memaksimalkan usaha koperasi siswa sehingga hasilnya dapat dijadikan masukan dana untuk pengembangan madrasah.

d.   Mengadakan kerjasama dengan pihak yayasan pondok pesantren Darul Ilmi untuk mengadakan pameran-pameran hasil karyasiswa dengan mengundang sekolah-sekolah lain atau masyarakat umum sebagai salah satu cara mensosialisasikan Pondok Pesantren Darul Ilmi serta MA Darul Ilmi sehingga dapat menarik minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya ke lembaga ini. Selain itu, karya seni yang telah terjual dan mendapatkan keuntungan dapat dipergunakan untuk perbaikan dan pengembangan sarana dan prasarana pendidikan di Pondok ini.

e.    Perluasan lahan untuk membangun bangunan baru, atau bangunan yang ada direnovasi dan ditambah dengan bertingkat untuk mencukupi kebutuhan prasarana di Madrasah ini.

2.        Perbaikan sarana dan prasarana pendidikan yang dapat dilakukan antara lain:

a.    Penataan ruang sirkulasi, kelas dan taman agar lebih rapi, bersih dan indah.

b.    Perawatan gedung madrasah secara berkala misalnya pengecatan, hal ini dilakukan agar bangunan tetap kuat dan bersih.

c.    Perawatan taman agar lebih tampak asri dan indah.

3.        Pengembangan sarana dan prasarana pendidikan di MA Darul Ilmi Banjarbaru  antara lain dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a.       Penambahan ruang kelas, ruang kepala madrasah, guru, TU, BK, UKS, ruang perpustakaan, ruang kesenian, gelora olahraga dan keterampilan, ruang pengelola ekstrakurikuler, dan sebagainya. Selain itu juga penambahan sarana pembelajaran (buku-buku penunjang, komputer, alat peraga/praktikum dan alat-alat olahraga, dan lain-lain).

b.      Penggunaan LCD, proyektor, layar, dan sound jaringan sebagai media pembelajaran.

c.       Penambahan koleksi buku diperpustakaan  yaitu dengan menggalakkan sumbangan buku setiap murid yang akan lulus untuk menyumbang sebanyak 2 buah buku, sedangkan untuk pembangunan ruang perpustakaan direncanakan pada tahun.

d.      MA Darul Ilmi diharapkan mampu meningkatkan sarana dan prasarana yang sesuai dengan standar yang ideal.


 

BAB IV

PENUTUP

 

Simpulan

Berdasarkan data yang telah diperoleh dan telah di analisa serta uraian pada bab sebelumnya maka dapat ditarik simpulan bahwa sarana dan prasarana yang ada di MA Darul Ilmi Banjarbaru masih belum memenuhi standar minimal sarana dan prasarana yang harus dimiliki madrasah/sekolah setingkat MA/SMA sesuai ketentuan kementerian pendidikan. Hal ini tentunya perlu strategi pemecahan masalah, perbaikan dan pengembangan. Mengingat persaingan antara lembaga pendidikan sekarang ini, oleh karena itu pihak madrasah harus terus berbenah dan memaksimalkan sumber daya yang ada agar madrasah ini tetap diminati oleh para pencari sekolah.

Saran

Menurut perkiraan penulis program strategis yang harus dilakukan Madrasah Aliyah Darul Ilmi Banjarbaru demi menunjang proses pembelajaran yang efektif untuk jangka waktu lima tahun kedepan sebagai berikut:

1. Membangun ruang kelas yang baru

2.Memiliki ruang kepala madrasah, ruang guru, dan ruang TU sendiri-sendiri atau terpisah

3.  Memasang instalansi PDAM

4.  Memiliki ruang perpustakaan dan penambahan jumlah buku-buku bacaan di dalamnya dan sistem manajemen informasi perpustakaan agar perpustakaan yang ada dapat lebih berkembang.

5.  Mememiliki labaratorium IPA dan Bahasa dengan fasilitas yang baik

6.  Memiliki tenaga ahli yang menangani laboratorium komputer

7.  Memiliki ruang BK (bimbingan konseling) dan ruang UKS

8.  Perlu adanya ruang khusus yang digunakan untuk pengelolaan seluruh kegiatan Ekstrakurikuler.

9.  Pengadaan LCD, proyektor, layar, dan sound jaringan sebagai

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aly, Hery Noer, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, 1999.

 

Bafadal, Ibrahim, Manajemen Perlengkapan Sekolah, Jakarta: Bumi Aksara, 2004.

 

Baharuddin dan Moh. Makin, Manajemen Pendidikan Islam, Malang: UIN-Maliki Press, 2010.

 

Gunawan, Ary H, Administrasi Sekolah, Jakarta: Rineka Cipta, 1996.

 

http://abudaud2010.blogspot.com/2010/08/perencanaan-sarana-dan-prasarana.html

 

http://fuadmje.wordpress.com/2011/12/24/perencanaaan-sarana-dan-prasarana persekolahan-sebagai sumber-belajar/

 

Imran, Ali, Manajemen Peserta Didik di SD: Masalah, Penyebab dan Alternatif Pemecahannya, Jurnal Ilmu Pendidikan, 1998.

 

Masyriah, Nur, Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Agama Islam,Malang, 2006.

 

Mulyasa, E, Manajemen Berbasis Sekolah, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011.

 

Permen Diknas No 24 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan.

 

Qomar, Mujamil, Manajemen Pendidikan Islam, Jakarta: Erlangga, 2007.

 

Rohiat, Manajemen Sekolah Teori Dasar dan Praktik, Bandung: Refika Aditama, 2010.

 

Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam: Konsep, Strategi dan Aplikasi, Yogyakarta: Teras, 2009.

 



[1] Penulis adalah dosen tetap pada STAI Al Falah Banjarbaru.

[2]Ali Imran. Manajemen Peserta Didik di SD: Masalah, Penyebab dan Alternatif Pemecahannya. Jurnal Ilmu Pendidikan, 1998. h.15.

[3]Rohiat, Manajemen Sekolah Teori Dasar dan Praktik,(Bandung: Refika Aditama, 2010), h. 26.

[4]Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam. (Jakarta: Erlangga, 2007).h. 176-177.

[5]Baharuddin dan Moh. Makin, Manajemen Pendidikan Islam, (Malang: UIN-Maliki Press, 2010), hal. 83.

[6]E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), h. 49.

[7]Ibrahim Bafadal, Manajemen Perlengkapan Sekolah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), h. 5.

[8]Permen Diknas No 24 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan

[9]Nur Masyriah, Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Agama Islam, (Malang, 2006), hal. 30.

[10]Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam: Konsep, Strategi dan Aplikasi, (Yogyakarta: Teras, 2009), hal. 121-122.

[11]Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos, 1999), 154.

[12]Ary H. Gunawan, Administrasi Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), hal. 151.

[13]http://abudaud2010.blogspot.com/2010/08/perencanaan-sarana-dan-prasarana.html

[14]Ary Gunawan, op.cit h. 120

[15]Ary Gunawan, op.cit h. 117

[16]Ary H. Gunawan, op.cit, h. 130.

[17]Ibid.

[19]Mujamil Qomar, op.cit, h. 173.

[20]Baharuddin dan Moh. Makin, Manajemen Pendidikan Islam, hal. 40

[21]Ibid.