MENINGKATKAN MINAT DAN KEMAMPUAN MEMBACA

SISWA DI MADRASAH

H.Yasir Arafat, M.Pd

 

Abstrak

Membaca adalah sebuah keterampilan. Minimnya buku yang dibaca berdampak pada kemampuan seseorang dalam berbicara dan menulis Untuk itu, perlu usaha sungguh-sungguh dari diri sendiri untuk selalu meningkatkan kualitas dan kuantitas membaca.

Para ahli bahasa menyimpulkan bahwa gerakan bola mata waktu membaca berubah kecepatannya sejalan dengan perubahan tujuan bacaannya, kemampuan seseorang dalam memahami bahan bacaan secara nyata dipengaruhi oleh tujuan membacanya (tujuan yang jelas akan meningkatkan pemahaman bacaan, sedangkan tujuan yang kurang jelas akan menghambat pemahaman,tujuan membaca yang terumuskan secara jelas akan mempengaruhi pemerolehan pemahaman bacaan). Seseorang yang mempunyai kemampuan baca tinggi (baik), mampu memanfaatkan teknik membaca yang bervariasi sejalan dengan tujuan membaca yang akan dicapainya.

Simpulan yang dibuat oleh para ahli bahasa di atas telah menunjukkan secara jelas bahwa ada pengaruh tujuan membaca yang dominan dalam proses membaca, terutama terhadap hasil pemahaman apa yang dibaca. Tujuan yang jelas akan meningkatkan minat dan kemampuan membaca yang besar bagi seseorang. Seseorang yang sadar sepenuhnya akan tujuan membacanya akan dapat mengarahkan sasaran daya pikir kritisnya dalam mengolah bahan bacaan sehingga memperoleh kepuasan dalam membaca.

 

Kata kunci : Minat, kemampuan dan membaca

 

A. Pendahuluan

Sikap dan minat merupakan unsur kunci motivasi. Minat merupakan salah satu faktor yang sangat penting dan dapat mempengaruhi kemampuan membaca seseorang. Minat adalah perpaduan antara keinginan dan kemauan yang dapat berkembang jika ada motivasi.Ketiadaan minat baca dapat menimbulkan ketidakmampuan membaca. Ketidakmampuan membaca dapat menimbulkan ketiadaan minat baca. Dalam membaca karya sastra pun dapat terjadi hal yang serupa. Ketiadaan minat terhadap karya sastra dapat menimbulkan ketidakmampuan seseorang membaca dan memahami sebuah karya sastra.

Membaca adalah sebuah kegiatan fisik sekaligus kegiatan mental. Melalui membaca informasi dan pengetahuan dapat diperoleh kegunaan dan kebermanfaatannya bagi kehidupan . Itulah motivasi pokok yang dapat mendorong tumbuhnya minat membaca seseorang. Apabila minat ini sudah tumbuh dan berkembang, dalam arti bahwa orang yang bersangkutan sudah mulai suka membaca,  kebiasaan membaca pun akan tumbuh dengan baik.

Kebiasaan masyarakat kita yang masih mengutamakan  budaya lisan secara tidak langsung berpengaruh pada rendahnya kebiasaan membaca. Pembelajaran Bahasa Indonesia di Madrasah terutama dari aspek membaca merupakan penyumbang terbesar dari segi faktor negatif disebabkan sebagian guru bahasa Indonesia belum menjadikan membaca sama porsinya dengan latihan berbicara dan menulis.Pengaruh media, baikmedia massa atau elektronik yang begitu luar biasa tidak dapat ditahan lagi. Tanpa usaha yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan, faktor ini akan menjadi penghambat kebiasaan membaca. Selain itu, penyebab  terakhir adalah belum tersedianya  bahan-bahan  bacaan yang berkualitas.

 

B. Pengertian dan Teori Membaca

         Membaca adalah aktivitas yang kompleks dengan menggerakkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah. Meliputi; orang harus menggunakan pengertian dan khayalan, mengamati, dan mengingat-ingat. Kita tidak dapat membaca tanpa menggerakkan mata atau tanpa menggunakan pikiran kita. Pemahaman dan kecapatan membaca menjadi amat tergantung pada kecakapan dalam menjalankan setiap organ tubuh yang diperlukan untuk itu (Dendy Sugono:2009).

Menurut Farida (2007) membaca juga merupakan suatu strategi. Pembaca yang efektif menggunakan berbagai strategi membaca sesuai dengan teks dan konteks dalam rangka mengonstruk makna ketika membaca. Strategi ini bervariasi sesuai dengan jenis teks dan tujuan membaca.

Membaca bersifat interaktif. Keterlibatan pembaca dengan teks tergantung pada konteks. Orang yang senang membaca suatu teks yang bermanfaat, akan menemui beberapa tujuan yang ingin dicapainya, teks yang dibaca seseorang harus mudah dipahami (readable) sehingga terjadi interaksi antara pembaca dan teks.  

Ada tiga pandangan dalam proses membaca menurut perkembangan studi membaca. Pandangan pertama, biasa disebut dengan pandangan kuno. Pandangan ini menganggap membaca sebagai proses pengenalan simbol-simbol bunyi yang tercetak. Pandangan kedua, membaca sebagai suatu poses pengenalan simbol-simbol bunyi yang tercetak dan diikuti oleh pemahaman makna yang tersurat. Pandangan ketiga, disebut pandangan modern, membaca bukan sekadar pemahaman dan pengenalan simbol cetak saja, tetapi lebih jauh, yaitu sebagai proses pengolahan secara kritis.

       Kemampuan membaca seseorang harus dibarengi dengan kemampuan memahami isi bacaan. Seseorang dapat dikatakan memahami isi bacaan secara baik dan benar apabila ia dapat (a) mengenal kata-kata atau kalimat yang ada dalam bacaan atau mengetahui maknanya, (b) memghubungkan makna, baik konotatif maupun denotatif yang dimiliki dengan makna yang terdapat dalam bacaan, (c) mengetahui seluruh makna tersebut atau persepsinya terhadap makna itu secara kontekstual, dan (d) membuat pertimbangan nilai bacaan yang didasarkan pada pengalamannya.

       Kemampuan membaca seseorang bisa ditingkatkan. Pada saat mulai belajar membaca di Madrasah Ibtidaiyah dipelajari huruf-huruf, lalu menghubungkan huruf menjadi kata, selanjutnya dari kata menjadi kalimat tanpa harus mengeja huruf demi huruf. Hanya saja sebagian orang tidak pernah mengalami kemajuan lagi setelah tahap ini berlalu. Untuk itu, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menyingkirkan mitos yang menyatakan: (1) membaca itu sulit, (2) membaca tidak boleh menggunakan jari, (3) membaca harus dilakukan dengan mengeja kata per kata, dan (4) membaca harus perlahan-lahan supaya dapat memahami makna dan isinya.

 

 

C. Permasalahan

Bagaimana meningkatkan minat dan kemampuan membaca anak didik di madrasah?

D. Pembahasan

Nurhadi (2004) membagi jenis membaca sebanyak sembilan macam. Kesembilan  jenis membaca tersebut adalah: (1) membaca sekilas (skimming), (2) membaca cepat bagian tertentu (scanning), (3) membaca cermat (intensive reading), (4) membaca ekstensif (extensive reading), (5) membaca komprehensif (comprehensive reading), (6) membaca analitis (analytical reading), (7) membac kritis (critical reading), (8) membaca sintopis (syntopical reading), dan (9) membaca indah (art reading).

Skimming biasa dilakukan melalui membaca judul, kata  pengantar, daftar isi, daftar pustaka, dan daftar literature secara sekilas. Manfaatnya Untuk menentukan sikap apakah pembaca perlu membeli atau membaca lebih lanjut buku tersebut atau tidak. Kegiatan ini berlangsung sekitar lima menit. Scanning biasanya membaca secara cepat bagian tertentu, misalnya bab tertentu, setelah ditemuai pada langkah pertama. Manfaatnya adalah untuk memperoleh informasi secara garis besar tentang kandungan bagian tertentu.

      Membaca cermat dinamakan juga membaca belajar. Artinya, pembaca akan membaca dengan penuh perhatian sejak dari awal sampai akhir. Ia menentukan hal-hal penting dan bermanfaat bagi dirinya, termasuk informasi-informasi baru. Sementara membaca ekstensif adalah kelanjutan dari intensif yaitu membaca, lalu hasil bacaan tersebut diinformasikan kepada orang lain (misalnya hasil bacaan bagi guru). Sedangkan membaca komprehensif adalah membaca multi tujuan. Membaca ini bukan hanya untuk mengetahui isi bacaan yang penting tetapi juga mengetahui hal-hal yang kurang jelas atau hal-hal yang tdaik dapat dimengerti. Membaca ini biasanya dilakukan melalui teknik SQ3R (survey, Question, Read, Recita, dan Review).

Membaca analitis termasuk membaca cepat, terutama untuk menentukan jenis bacaan yang dihadapi sebelum membaca cermat. Misalnya, apakah buku itu tentang sejarah, sains, novel, dan sebagainya. Untuk itu perlu diperhatikan juga sampul buku dari penerbit. Karena di dalamnya sering terdapat informasi tentang itu. Sementara membaca kritis ialah membaca yang menuntut pembaca harus memenuhi hal-hal yang terkandung pada jenis pertama sampai kelima di atas dan harus pula ia menemukan kelemahan, kekeliruan, dan kekurangan penulis, sehingga ia dapat memberi kritik yang bermanfaat terhadap bacaan tersebut. Sedangkan membaca sintopis adalah membaca untuk memperbadingkan hal-hal yang sama atau berbeda terhadap suatu masalah atau topik yang sama dari berbagai penulis atau sumber, kemudian diakhiri dengan pendapat atau sikap pembaca sendiri dalam bentuk pernyataan bersifat sentetis. Membaca indah adalah membaca dalam lingkup menikmati karya sastra antara lain membaca puisi dengan deklamasi. Membaca jenis ini diistilahkan juga dengan art reading.

 

D. Proses membaca

Ada tiga istilah yang sering digunakan untuk memberikan komponen dasar dari proses membaca, yaitu recording, decoding, dan meaning.Recording merujuk pada kata-kata dan kalimat, kemudian mengasosiasikannya dengam bunyi-bunyinya sesuai dengan sistem tulisan yang digunakan, sedangkan proses decoding (penyandian) merujuk pada proses penerjemahan rangkaian grafis ke dalam kata-kata. Proses recording dan decoding biasanya berlangsung pada kelas-kelas awal, yaitu Madrasah Ibtidaiyah kelas I, II, dan III, yang dikenal dengan istilah membaca permulaan. Penekanan membaca pada tahap ini ialah proses perseptual, yaitu pengenalan korespondensi rangkaian huruf dengan bunyi-bunyi bahasa. Sementara itu proses memahami makna (meaning) lebih ditekankan di kelas-kelas tinggi di Madarsah.

         Di samping keterampilan decoding, pembaca juga harus memiliki keterampilan memahami makna (meaning) . Pemahaman makna berlangsung melalui berbagai tingkatan, mulai dari tingkat pemahaman literal sampai kepada pemahaman interpretatif, kreatif, dan evaluatif. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa membaca merupakan gabungan proses perseptual dan kognitif.

Membaca sebagai proses visual merupakan proses menerjemahkan simbol tulis ke dalam bunyi. Sebagai suatu proses berpikir, membaca mencakup pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi, membaca kritis (critical reading) , dan membaca kreatif (creative reading). Membaca sebagai proses linguistic, skemata pembaca membantunya membangun makna, sedangkan fonologis, semantik, dan fitur sintaksis membantunya mengomunikasikan dan menginterpretasikan pesan-pesan. Proses metakognitif melibatkan perencanaan, pembetulan suatu strategi, pemonitoran, dan pengevaluasian.

         Pada waktu anak-anak, kita  belajar membaca dengan cara; (a).menggerakkan bibir untuk melafalkan kata yang dibaca, (b)menggerakkan kepala dari kiri ke kanan, dan (c)menggunakan jari atau benda lain untuk menunjuk kata demi kata. Hal ini sebenarnya justru memperlambat kemampuan membaca seseorang. Dan ironisnya secara tidak disadari, cara membaca yang dilakukan waktu anak-anak  itu tetap diteruskan hingga dewasa.

Guna meningkatkan kemampuan membaca, Nurhadi (2004)membagi modal seorang pembaca itu adalah: (1) mempunyai pengetahuan dan pengalaman, (2) mempunyai kemampuan berbahasa (kebahasaan), (3) mempunyai pengetahuan teknik membaca, dan (4) mempunyai tujuan membaca. 

      (1) Pengetahuan dan pengalaman tentang segala sesuatu merupakan modal utama untuk membaca. Semakin kaya seseorang akan informasi, pengetahuan, pengalaman, konsep-konsep, semakin besar pula kesiapannya untuk mengolah ide-ide dan gagasan-gagasan yang tertuang dalam bacaan. Dengan demikian, semakin kritis pula ia untuk menyeleksi setiap gagasan yang dikemukakan penulis sehingga diperoleh informasi baru yang lebih selektif. 

     Pengetahuan dan pengalaman serta konsep-konsep yang dimiliki oleh pembaca merupakan “pisau bedah” yang dapat digunakan pembaca untuk membedah buku sehingga didapat informasi. Perlu diingat, latar belakang pengetahuan dan pengalaman ini bukanlah sesuatu yang bisa diperoleh begitu saja dalam waktu yang singkat. Pengetahuan dan pengalaman adalah hasil suatu proses yang bersifat berkelanjutan, sesuai dengan kecenderungan ilmu dan kebutuhan membaca seseorang. Semakin banyak dan sering seseorang membaca, maka semakin kaya pula ia akan pengetahuan dan pengalaman, yang berarti semakin banyak pula modal yang dimilikinya untuk membaca.

      Pengetahuan dan pengalaman seseorang itu tidak selalu sesuai atau  berkaitan langsung dengan pengetahuan yang ada dalam bacaan. Ada spesialisasi atau klasifikasi ilmu pengetahuan sehingga seseorang yang telah mendalami ilmu tertentu tidak selalu dapat mencerna bahan bacaan di luar bidang ilmunya. Sebaliknya, bila dihadapkan pada buku yang sesuai dengan bidang ilmunya, tentu ia lebih cepat mencerna teks tersebut.

(2) Kemampuan Berbahasa (kemampuan berkomunikasi lisan). Kemampuan membaca adalah kemampuan seseorang setelah ia dapat berkomunikasi lisan, atau dengan kata lain, dalam urutan perolehan kemampuan berbahasa (urutan normal), komunkasi lisan mendahului komunikasi tulis.

       Membaca adalah proses yang lebih rumit dibandingkan dengan proses komunukasi lisan. Ini akibat adanya keterbatasan-keterbatasan sarana komunikasi tulis. Tidak semua sarana yang mendukung dalam komunikasi lisan, seperti gerak muka (mimik), gerak tubuh, atau suasana, ada dalam suasana membaca sehingga problem mengolah gagasan yang diungkapkan penulis lebih kompleks dibandingkan dengan proses berpikir ketika seseorang mengungkapkan dan menerima gagasan dalam berbicara. Ini didukung pula oleh kenyataan bahwa membaca adalah proses berpikir dan bernalar, yang keberhasilannya bergantung pada kemampuan intelektual seseorang. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kemampuan berkomunikasi secara lisan merupakan syarat mutlak untuk membaca. Kemampuan tersebut meliputi kemampuan mendengarkan dan berbicara.

   (3) Pengetahuan teknik membaca berhubungan dengan pengetahuan tentang teknik atau alat. Alat yang dapat digunakan dalam mencerna bahan tulis. Realisasinya berupa seperangkat keterampilan untuk mengolah setiap aspek bacaan menjadi sesuatu yang bermakna bagi pembaca. Keterampilan ini berkaitan dengan keseluruhan aktivitas membaca sehingga dapat mencakup makna proses membaca sebagai kegiatan mempersepsi simbol-simbol tulis, membaca sebagai aktivitas mengolah makna yang terkandung dalam bahan bacaan, kreativitas membaca, sampai pada aktivitas membaca cepat.

(4) Tujuan membaca dianggap juga sebagai modal dalam membaca, bahkan menurut hasil penelitian, hubungan antara tujuan membaca dengan kemampuan membaca sangat signifikan. Inilah yang mendorong para ahli menyepakati bahwa tujuan membaca merupakan modal utama membaca.

 

E. Simpulan

Apabila minat sudah tumbuh dan berkembang, dalam arti bahwa anak-anak di Madrasah sudah mulai suka membaca, maka kebiasaan membaca pun akan tumbuh dengan baik. Membaca adalah sebuah kegiatan fisik sekaligus mental. Melalui membaca informasi dan pengetahuan dapat diperoleh kegunaan dan kebermanfatannya bagi kehidupan . Itulah motivasi pokok yang dapat mendorong tumbuhnya minat membaca anak didik.

Kemampuan membaca anak didik di Madrasah bisa ditingkatkan dengan cara menyingkirkan mitos yang menyatakan bahwa membaca itu sulit,  membaca tidak boleh menggunakan jari,  membaca harus dilakukan dengan mengeja kata per kata, dan membaca harus perlahan-lahan supaya dapat memahami makna dan isinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Cucu Aryani Nur Sofia, S.Pd. Kompetensi Bahasa Indonesia. Bandung: Yrama Widya. 2005.

Farida, Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara. 2007.

Nurhadi, Membaca Cepat dan Efektif. Bandung: Sinar Baru. 2004.

Sugono, Dendy. 2009. Mahir Berbahasa Indonesia dengan Benar. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.