PERANAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM PENUMBUHAN DAN PENGEMBANGAN TATA NILAI

 

Oleh: Siti Rahmawati*

 

Abstrak

 

Pendidikan Islam adalah bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam serta mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi segala perubahan yang terjadi dalam kehidupan seiring berjalannya waktu.

Dalam pendidikan sumber nilai budaya dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu nilai ilahiah dan nilaiinsaniah.Tugas pendidikan adalah bagaimana pendidik mampu melestarikan dan mentransformasikan nilai ilahiah kepada peserta didik.Sedangkan untuk nilai insaniah, tugas pendidikan senantiasa melakukan inovasi dan menumbuhkan kreativitas diri agar nilai itu berkembang sesuai dengan tuntutan masyarakat.Pengembangan ini tidak berarti membongkar atau membuang nilai budaya lama secara total.

Proses sosiolisasi dipandang sebagai proses yang ampuh dan jitu dalam mempertahankan, melestarikan, dan mewariskan nilai walaupun dalam era transformasi sosial budaya. Proses sosiolisasi nilai dapat dilekukan dengan dua cara, yaitu secara evolusi dan secara revolusi.

Menurut Raths, Harmin dan Simon cara mengukur berhasil tidaknya proses penumbuhan dan pengembangan tata nilai yaitu dilihat dari sejumlah indikator nilai yang terdapat pada: tujuan, aspirasi, sikap, perhatian, keinginan, keyakinan atau pendirian, aktivitas-aktivitas, kecemasan, problem dan rintangan.Semua indikator nilai tersebut di atas apabila ingin dijadikan alat monitoring kehadiran sesuatu nilai pada diri seseorang, harus ditambah dengan asumsi lain yakni mengenai frekuensi muncul dan kualitas munculnya.

Peranan pendidikan dalamIslam memperlihatkan bahawa intinya adalah untuk membentuk personaliti muslim yangmencakupi aspek rohani, jasmani, intelek serta jugaemosi. Yang lebih utama lagi segala perlakuansama ada yang bersifat zahir mahupun batin atau dalaman seharusnya sesuai dengan ajaran Islamseperti yang terkandung dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Ini juga memberi arti bahawa PendidikanIslam tidak sekadar memindahkan maklumatkepada para pelajar malah peranannya adalah lebihluas dan bersifat holistik.

 

Kata Kunci: Pendidikan Islam, Tata Nilai

 

A.  Pendahuluan

Memasuki abad ke-21 yang ditandai dengan pertukaran informasi termasuk nilai antarbangsa berlangsung secara cepat dan penuh dinamika, sehingga mendorong terjadinya proses perpaduan nilai, kekaburan nilai, bahkan terkikisnya nilai-nilai asli yang menjadi identitas suatu komunitas yang bersifat sakral, kini tengah berada dipersimpangan jalan. Serta terjadinya kegamangan nilai yang muncul karena kecendrungan manusia era global lebih mengutamakan kemampuan akal dan memarginlkan peranan nilai-nilai ilahiah (agama).Akibatnya, manusia kehilangan ruh kemanusiaan yang hampa dari nilai-nilai spiritual.

Masyarakat Islam mengalami benturan dan pergulatan pemikiran yang cukup seru, di satu pihak dituntut untuk beradabtasi dengan berbagai macam perubahan yang terjadi dalam kehidupan sosialnya. Selain itu, dalam proses pendidikan dewasa ini terliht adanya ketimpangan antara pendidikan nilai dengan pendidikan keilmuan dan keterampilan. Akibatnya muncul beberapa fenomena sosial yang yang memperhatinkan.Banyak siswa yang berperilaku menyimpang, tidak sesuai dengan nilai-nilai keagamaan dan dan tidak sesuai dengan norma-norma sebagai warganegara yang baik.[1]

Dalam kondisi yang semacam itu, ada kecendrungan pertahanan nilai moral yang menjadi pegangan masyarakat akan semakin tergoyahkan, nilai tradisi bangsa Indonesia yang ramah, lembut, dan santun bisa tergilas oleh nilai-nilai baru yang bersandar dan berlindung kepada kebebasan dengan dengan mengatasnamakan hak asasi.

Penyebab dari konflik nilai yang dirasakan sekarang ini adalah hilangnya perasaan moral dan rasa hormat diri terhadap pertanggungjawaban, terlalu mementingkan tujuan untuk sukses dan tamak sehingga dapat menghilangkan sifat kemanusiaan dan kemampuan etika manusia.[2]Menghadapi fenomena tersebut, tuduhan seringkali diarahkan kepada dunia pendidikan sebagai penyebabnya.Hal ini bisa di mengerti, karena pendidikan berada pada barisan terdepan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, dan secara moral memang harus berbuat demikian.Harus kita sadari bahwa tiada masyarakat manusia yang tidak berubah, demikian kesimpulan Ibnu Khaldun dalam Muqadimah-nya. Oleh karena itu menghadapi perubahan serta pergeseran tata nilai yang ada di masyarakat, sikap dan upaya kita tentunya bukan hanya mempertahankan atau memudarnya, tetapi bagaimana menghidupkan nilai-nilai kebenaran yang universal dan prinsipil, dalam suatu sistem sosial yang dinamis, dengan tetap memberikan ruang yang cukup suatu proses perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan penemuan-penemuan baru lainnya yang harus berlangsung.[3]

 

B.  Pengertian Pendidikan Islam

Berikut ini pendapat para ahli tentang pendidikan Islam:

1. Menurut Drs. Ahmad D. Marimba : pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian yang lain seringkali beliau mengatakan kepribadian utama tersebut dengan istilah kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam, dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.

2.  Menurut Abdur Rahman Nahwawi

التربيه الإسلامية هيى التنظيم المتفسير والإجتماعيى الزي يؤدي إلى اعتناقى الإسلام وتطبيقة كليافى حياة الفرد والجماعة

Artinya:

Pendidikan Islam ialah pengaturan dan masyarakat yang karenanya dapatlah memeluk Islam secara logis dan sesuai secara keseluruhan baik dalam kehidupan individu maupun kolektif.

3. Menurut Drs. Burlian Shomad : Pendidikan Islam ialah pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikannya untuk mewujudkan tujuan itu adalah ajaran Allah. Secara rinci beliau mengemukakan pendidikan itu baru dapat disebut pendidikan Islam, apabila memiliki dua ciri khas yaitu :

a. Tujuannya untuk membentuk individu menjadi bercocok diri tertinggi menurut ukuran Al Qur’an

b. Isi pendidikannya ajaran, Allah yang tercantum dengan lengkap di dalam Al-Qur’an dan pelaksanaannya didalam praktek kehidupan sehari-hari sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.

4.  Menurut Mustofa al-Ghulayani:bahwa pendidikan Islam ialah menanamkan akhlak yang mulia didalam jiwa anak dalam masa pertumbuhannya dan menyiraminya dengan air petunjuk dan nasihat, sehingga akhlak itu menjadi salah satu kemampuan (meresap dalam) jiwanya kemudian buahnya berwujud keutamaan, kebaikan dan cinta bekerja untuk kemanfaatan tanah air.

5. Menurut Syah Muhammad A Naquib Al-Atas : pendidikan Islam ialah usaha yang dilakukan pendidikan terhadap anak didik untuk pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan akan tempat Tuhan yang tepat didalam tatanan wujud dan kepribadian.

6. Menurut Prof. Dr. Hasan Langgulung : pendidikan Islam ialah pendidikan yang memiliki 3 macam fungsi yaitu :

a. Menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu dalam masyarakat pada masa yang akan datang. Peranan ini berkaitan erat dengan kelanjutan hidup (survival) masyarakat sendiri.

b.  Memindahkan ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan peranan-peranan tersebut dari generasi tua kepada generasi muda

c.  Memindahkan nilai-nilai yang bertujuan memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat yang menjadi syarat mutlak bagi kelanjutan hidup (survival) suatu masyarakat dan peradaban, dengan kata lain, tanpa nilai-nilai keutuhan (integrity) dan kesatuan (integration) suatu masyarakat, maka kelanjutan hidup tersebut tidak akan dapat terpelihara dengan baik yang akhirnya akan berkesudahan dengan kehancuran masyarakat itu sendiri.

7.  Hasil seminar pendidikan Islam se-Indonesia tanggal 7 sampai dengan 11 Mei 1960 di Cipayung Bogor mengatakan :

“Pendidikan Islam adalah bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam”.

Sejalan dengan pengertian pendidikan tersebut di atas, maka pendidikan Islam kegiatannya bermaksud untuk mengajak orang lain mengerjakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan Allah swt, yang bermuara pada perwujudan dan peningkatan iman kepada-Nya. Upaya itu bertolak dari keyakinan bahwa selama kehidupannya, setiap manusia selalu dapat berubah dan berkembang dalam cara berpikir, bersikap dan bertingkah laku, untuk menjadi orang-orang yang hanya mengabdikan dirinya kepada khaliknya atau penciptanya.

 

C.  Hakikat dan Makna Tata Nilai

Nilai menurut Poedarminta adalah sebagai hal-hal yang penting atau berguna bagi kemanusiaan.Nilai padanan kata dalam bahasa Inggrisnya adalah “value”.Sementara value sendiri artinya “quality of being useful or desireable”. Nilai atau value, berasal dari bahasa latinvalare atau bahasa Prancis kuno valoir yang artinya nilai. Sebatas arti denotatifnya, valare, valoir, value atau nilai dapat dimaknai sebagai harga. Hal ini selaras dengan definisi nilai menurut Kamus Besar Bahasa Idonesia yang diartikan sebagai harga (dalam arti taksiran harga).

Kenapa nilai penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bagaimana nilai dimiliki oleh seseorang?Batasan tentang nilai dapat mengacu kepada minat, kusukaan, pilihan, tugas, kewajiban agama, kebutuhan, keamanan, hasrat, keengganan, daya tarik, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan perasaan seseorang dan orientasinya.Namun kalau kata tersebut dihubungkan dengan suatu objek atau dipersepsi dari suatu sudut pandang tertentu, harga yang terkandung di dalamnya memiliki tafsiran yang bermacam-macam. Harga suatu nilai hanya akanmenjadi persoalan ketika hal itu diabaikan sama sekali. Maka manusia dituntut untuk menempatkannya secara seimbang atau memaknai harga-harga lain, sehingga manusia diharapkan berada dalam tatanan nilai yang melahirkan kesejahteraan dan kebahagiaan.[4]

Untuk memahami makna dan hakikat nilai, berikut ini beberapa pengertian nilai: Menurut Sumantri, nilai merupakan hal yang terkandung dalam hati nurani manusia yang lebih memberi dasar dan prinsip akhlak yang merupakan standar dari keindahan dan efisiensi atau keutuhan kata hati (potensi). Menurut Theodorson, nilai adalah sesuatu yang abstrak yang dijadikan pedoman dan prinsip umum dalam bertindak.[5] Sedangkan menurut sidi Gazalba yang dikutip Chabib Thoha, nilai adalah sesuatu yang bersifat abstrak, ia ideal, nilai bukan benda konkrit, bukan fakta, tidak hanya persoalan benar salah yang menuntut pembuktian empirik melainkan penghayatan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki. Nilai merupakan sifat yang melekat pada sesuatu (system) kepercayaan yang telah berhubungan dengan subjek yang member arti (manusia yang meyakini).[6]

Dalam makna luas nilai merupakan ukuran untuk menentukan apakah sesuatu itu baik atau buruk.Nilai-nilai tersusun secara hierarkis dan mengatur rangsangan kepuasan hati dalam mencapai tujuan kepribadiannya. Kepribadian dari system sosio-budaya merupakan syarat dalam susunan kebutuhan rasa hormat terhadap keinginan yang lain atau kelompok sebagai suatu kehidupan social yang besar. Soebino menjelaskan bahwa nilai adalah pegagan hidup yang dijadikan landasan untuk melakukan sesuatu.Suatu nilai baru dapat dipandang sebagai pegangan hidup apabila penganutnya bersedia untuk melakukan suatu perbuatan kalau selaras dengan nilai itu dan bersedia untuk melakukan suatu perbuatan kalau selaras dengan nilai itu dan bersedia untuk melakukan segalanya demi nilai itu.Oleh karena itu, betapa pun suatu nilai tersebut sangat diyakini dan dihormati serta dijunjung tinggi oleh penganut nilai itu, tetapi kalau penganutnya belum berani untuk berkorban demi nilai yang diyakininya itu, maka nilai tersebut belum dapat dikatakan sebagai pegangan hidup bagi penganutnya.[7]

Berdasarkan definisi di atas, dapat dikatakan bahwa tata nilai adalah aturan pandangan dan anggapan masyarakat, yang digunakan sebagai pedoman dalam menilai sesuatu dan dalam mengendalikan serta memilih tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Atau dengan kata lain, tata nilai adalah suatu kumpulan norma yang diakui oleh masyarakat, dan digunakan sebagai pedoman dalam menentukan sikap selanjutnya.[8]

 

D.  Landasan Nilai Pendidikan Islam

Pendidikan Islam sangat memperhatikan penataan Individual dan sosial yang membawa penganutnya pada pengaplikasian Islam dan ajarannya ke dalam tingkah laku sehari-hari. Karena itu, keberadaan sumber landasan pendidikan Islam harus sama dengan sumber Islam itu sendiri, yaitu Al Qur’an dan As Sunah.[9]Rasulullah saw meninggalkan al-quran dan sunnah sebagai panduan kepada umat Islam yang menjadikan mereka sentiasa berada di jalan yang lurus dan tidak akan sesat selama-lamanya."Aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya yaitu Al-Qur’an dan Sunnahku." (Riwayat Abu Daud)

Pandangan hidup yang mendasari seluruh kegiatan pendidikan Islam ialah pandangan hidup muslim yang merupakan nilai-nilai luhur yang bersifat universal yakni Al Qur’an dan As Sunnah yang shahih juga pendapat para sahabat dan ulama sebagai tambahan. Hal ini senada dengan pendapat Ahmad D. Marimba yang menjelaskan bahwa yang menjadi landasan atau dasar pendidikan diibaratkan sebagai sebuah bangunan sehingga isi Al Qur’an dan Al Hadis menjadi pedoman, karena menjadi sumber kekuatan dan keteguhan tetap berdirinya pendidikan.[10]

Dalam sudut pandang filosofis, nilai sangat terkait dengan masalah etika.Etika juga sering disebut sebagai filsafat nilai, yang mengkaji nilai-nilai moral sebagai tolok ukur tindakan dan perilaku manusia dalam berbagai aspek kehidupannya.Sumber­-sumber etika dan moral bisa merupakan hasil pemikiran, adat istiadat atau tradisi, ideologi bahkan dari agama.Dalam konteks etika pendidikan dalam Islam, maka sumber etika dan nilai-nilai yang paling shahih adalah al-Qur'an dan Sunnah Nabi Saw.yang kemudian dikembangkan oleh hasil ijtihad Para ulama. Nilai-nilai yang bersumber kepada adat-istiadat atau tradisi dan ideologi sangat rentan dan situasional.Sebab keduanya adalah produk budaya manusia yang bersifat relatif, kadang-kadang bersifat lokal dan situasional.Sedangkan nilai-nilai Qur'ani, yaitu nilai yang bersumber kepada al-Qur'an adalah kuat, karena ajaran al-Qur'an bersifat mutlak dan universal.

Al Qur’an adalah petunjuk-Nya yang bila dipelajari akan membantu menemukan nilai-nilai yang dapat dijadikan pedoman berbagai problem hidup. Apabila dihayati dan diamalkan menjadi pikiran rasa dan karsa mengarah pada realitas keimanan yang dibutuhkan bagi stabilitas dan ketentraman hidup pribadi dan masyarakat.

 

E.  Peranan Pendidikan Islam Dalam Penumbuhan dan Pengembangan Tata Nilai

Dalam uraian ini digunakan istilah “penumbuhan dan pengembangan” karena hal ini terikat dengan teori fitrah, bahwa manusia lahir bukan seperti kertas putih namun telah membawa benih-benih ketauhidan dan hanief yang berarti memiliki kecendrungan kepada kebenaran, kebaikan, dan keindahan (lihat Q.S Al A’raf: 172 dan Q.S Ar-Ruum: 30). Jadi sebenarnya tinggal menumbuh kembangkan saja lagi.Atau dalam istilah lain, seorang anak lahir dalam keadaan good interactive.[11]Dapat kita katakana bahwa fitrah merupakan potensi dasar anak didik yang dapat menghantarkan pada tumbuhnya daya kreatifitas dan produktifitas, serta komitmen terhadap nilai-nilai ilahi dan insan.Hal tersebut dapat dilakukan melalui pembekalan berbagai kemampuan dari lingkungan sekolah dan luar sekolah yang terpola dalam program pendidikan.

Dalam pendidikan sumber nilai budaya dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu:

1.    Nilai ilahiah; nilai yang dititihkan Allah SWT melalui para rasul-Nya yang diabadikan pada wahyu. Inti nilai ini adalah iman dan takwa. Nilai ini tidak mengalami perubahan, karena mengandung kemutlakan bagi kehidupan manusia selaku pribadi dan selaku anggota masyarakat, tidak berubah karena mengikuti hawa nafsu. Konfigurasi nilai ini dimungkinkan dinamis, walaupun nilai intrinsiknya tetap abadi. Pelaku pendidikan memiliki tugas untuk menginterpretasikan nilai-nilai itu, agar nilai-nilai itu dapat diaplikasikan dalam kehidupan.

2.    Nilai insaniah; nilai yang tumbuh atas kesepakatan manusia serta hidup dan berkembang dari peradaban manusia. Nilai ini bersifat dinamis, yang keberlakuannya relative dan dibatasi oleh ruang dan waktu. Nilai-nilai insani yang kemudian melembaga menjadi tradisi yang diwariskan secara turun temurun dan mengikat anggota masyarakat yang mendukungnya.[12] Pelaku pendidikan memiliki tugas tidak saja menginterpretasikan nilai-nilai itu, tetapi juga bagaimana mengontrol nilai-nilai itu untuk mendekati pada nilai idealnya (ilahiah), sehingga terjadi keselarasan dan keharmonisan batin dalam menjalankan nilai itu.

Tugas pendidikan adalah bagaimana pendidik mampu melestarikan dan mentransformasikan nilai ilahiah kepada peserta didik.Nilai ilahiah yang intrinsik (qath’i) harus diterima sebagai suatu kebenaran mutlak tanpa ada upaya ijtihad, sementara nilai ilahiah yang instrumental (zhanni) dapat dikembangkan sesuai kondisi zaman, tempat dan keadaan.Sedangkan untuk nilai insaniah, tugas pendidikan senantiasa melakukan inovasi dan menumbuhkan kreativitas diri agar nilai itu berkembang sesuai dengan tuntutan masyarakat.Pengembangan ini tidak berarti membongkar atau membuang nilai budaya lama secara total.[13]

Pada nilai insani, fungsi tafsir adalah lebih memperoleh konsep nilai itu, atau lebih memperkaya isi konsep atau juga untuk memodifikasi bahkan mengganti dengan konsep baru.Nilai-nilai insani yang kemudian melembaga menjadi tradisi-tradisi yang diwariskan turun temurun dan mengikat anggota masyarakat yang mendukungnya.Karena kecendrungan tradisi tetap mempertahankan diri terhadap kemungkinan perubahan tata nilai, kenyataan ikatan-ikatan tradisional sering menjadi penghambat perkembangan peradaban dan kemajuan manusia.Di sini terjadi kontadiksi antara kepercayaan yang diperlukan sebagai sumber tata nilai guna menopang peradaban manusia. Akan tetapi, nilai-nilai itu melembaga dalam tradisi yang membeku dan mengikat, yang justru merugikan peradaban. Dari itulah perkembangan peradaban menginginkan adanya sikap meninggalkan bentuk kepercayaan dan tata nilai tradisional dan menganut kepercayaan dan nilai-nilai yag sungguh-sungguh merupakan suatu kebenaran.

Walaupun demikian, bukan berarti Islam menolak nilai yang sudah mapan positif. Sikap Islam dalam menghadapi tata nilai masyarakat adalah menggunakan lima macam klasifikasi yaitu:

1.      Memelihara unsur-usur nilai dan norma yang sudah mapan dan positif

2.      Menghilangkan unsur-unsur nilai dan norma yang sudah mapan tetapi negatif

3.      Menumbuhkan unsur-unsur nilai dan norma baru yang belum ada dan dianggap positif

4.      Bersikap menerima, memilih, mencerna, menggabung-gabungkan dalam satu system, dan menyampaikan pada orang lain terhadap nilai pada umumnya

5.      Menyelenggarakan pengudusan atau penyucian nilai atau norma agar sesuai dan sejalan dengan nilai-nilai dan norma-norma Islam sendiri. Tegasnya ialah mengadakan Islamisasi nilai dan norma. Dengan demikian, akan terwujud hubungan yang ideal antara nilai agama Islam dan nilai sekelompok masyarakat, yaitu terbinanya nilai masyarakat yang dijiwai dan ditopang oleh nilai-nilai abadindan universal yang terdapat pada wahyu ilahi.[14] 

Dilihat dari orientasinya, sistem nilai tersebut dapat dibagi dalam beberapa kategori:

1.      Nilai etis, yang mendasarkan orientasinya pada ukuran baik atau buruk

2.      Nilai pragmatis, yang mendasarkan orientasinya pada ukuran berhasil atau gagal

3.      Nilai offek sensoris, yang mendasarkan orientasinya pada ukuran menyenangkan atau menyedihkan

4.      Nilai religious, yang mendasarkan orientasinya pada ukuran halal haram, dosa atau tidak dosa.[15]

Berdasarkan hal di atas, peranan pendidikan Islam ini sebagai realisasi dari pengertian tarbiyah al-tabligh (menyampaikan atau transformasi kebudayaan).peranan pendidikan Islam selanjutnya adalah mewariskan nilai-nilai ilahiah kepada generasi berikutnya. Hal ini untuk mewujudkan hakekat penciptaan manusia yaitu untuk beribadah serta kebudayaan Islam akan mati bila nilai-nilai dan norma-normanya tidak berfungsi dan belum sempat diwariskan pada generasi berikutnya.

Kehidupan manusia tidak lepas dari nilai, dan nilai itu selanjutnya perlu diinstitusikan.Institusionalisasi nilai yang terbaik adalah melalui upaya pendidikan. Pandangan Freeman Butt dalam bukunya “Cultural History of Western Education” menyatakan bahwa hakikat pendidikan adalah proses transformasi dan internalisasi nilai, proses pembiasaan terhadap nilai, proses rekontruksi nilai, serta penyesuaian terhadap nilai. Lebih dari itu, fungsi pendidikan, khususnya pendidikan Islam, adalah pewarisan dan pengembangan nilai-nilai dienul Islam serta memenuhi aspirasi masyarakat dan kebutuhan tenaga di semua tingkat dan bidang pembangunan bagi terwujudnya keadilan, kesejahteraan, dan ketahanan.

Sistem nilai mempunyai relasi timbal balik terhadap proses pendidikan. Sistem nilai memerlukan transmisi, pewarisan, pelestarian, dan pengembangan melalui pendidikan. Demikian juga dalam proses pendidikan, dibutuhkan system nilai dalam pelaksanaannya berjalan dengan arah yang pasti, karena berpedoman pada garis kebijaksanaan yang ditimbulkan dari nilai-nilai fundamental, misalnya nilai agama, ilmiah, social, ekonomi, dsb.[16]

Nilai ilahi dalam aspek teologi (kaidah keimanan) tak pernah mengalami perubahan, sedangkan aspek amaliahnya mungkin mengalami perubahan sesuai dengan tuntutan zaman dan lingkungan.Sebaliknya nilai, insani selamanya mengalami perkembangan dan perubahan menuju ke arah yang lebih maju dan lebih tinggi.Peranan pendidikan adalah memadukan nilai-nilai baru dengan nilai-nilai lama secara selektif, inovatif, dan akomodatif guna mendinamisasikan perkembangan pendidikan yang sesuai dengan tuntutan zaman dan keadaan, tanpa meninggalkan nilai fundamental yang menjadi tolak ukur bagi nilai-nilai baru.Apabila suatu saat terjadi benturan antara nilai-nilai islami dengan non Islami, fungsi dan peran pendidikan Islam ialah mengaktualisasikan serta memfungsikan nilai-nilai islami tersebut pada saat adanya perubahan masyarakat modern dengan kekuatan ipteknya. Pendidikan harus menyelesaikan benturan nilai-nilai internal-intrinsik, baik buruk, menurut norma-norma Islam dengan nilai-nilai eksternal intrinsic yang positif atau negative, secara harmonis dalam masyarakat Islam, tanpa menimbulkan ekses-ekses ketegangan mental spiritual yang menggejala ke dalam perilaku negative, destruktif dalam kehidupan moral dan sosial.

Menurut Said Agil Husin al Munawwar, Peranan pendidikan secara umum dalam pengembangan kualitas sumber daya insani secara mikro, sebagai proses belajar mengajar yaitu: alih pengetahuan, alih metode, dan alih nilai.

Fungsi pendidikan sebagai proses alih nilai, secara makro mempunyai tiga sasaran. Pertama, bahwa tujuan manusia yang mempunyai keseimbangan antara kemampuan kognitifdan psikomotor di satu pihak serta kemampuan afektif di pihak lain. Dalam konnteks ke-Indonesia-an, hal ini dapat diartikan  bahwa pendidikn dapat menghasilkan manusia yang berkepribadian, tetap menjunjung tinggi nillai-nilai kebudayaan  yang luhur , serta mempunyai wawasan, sikap kebangsaan dan menjaga serta memupuk jati dirinya. Dalam hal ini proses alih nilai  dalam rangka proses pembudayaan. Kedua, dalam system ini nilai yang dialihkan juga termasuk  nilai-nilai keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia yang senantiasa menjaga  harmonisasi hubungan dengan  Tuhan, dengan sesama manusia dan alam sekitarnya. Ketiga, dalam alih nilai juga dapat ditransformasikan tata nilai yang mendukung  proses industrialisasi dan penerapan teknologi , seperti: penghargaan akan waktu,  disiplin, etos kerja, kemandirian dan kewirausahaan, dan sebagainya. Seperti diketahui, bahwa era industrialisasi yang beroreantasi pada penggunaan teknologi memerlukan sikap dan pola pikir yang mengarah pada penggunan teknologi meliputi antara lain penggunaan  waktu secra efisien,  perencanaan ke masa depan, kreatif, inovatif, etos kerja yang tinggi. Nilai-nilai dan prinsip dasra semua itu ditemukan dalam al Qur’an.[17]

Pembinaan iman, takwa dan akhlak mulia serta pembudayaan pada dasarnya meliputi pembinaan tentang keyakinan, sikap, perilaku dan akhlak mulia serta nilai-nilai luhur budaya bangsa. Semua aspek kehidupan tersebut dapat berkembang apabila ada pemahaman, wawasan keagamaan dan budaya yang diperoleh dari proses alih pengetahuan. Serta internalisasi nilai-nilai al Qur’ani dan budaya yang diperoleh dari proses alih nilai. Dalam lingkunagn keluarga dan masyarakat proses alih nilai berlangsung  secara lebih berkesinambungan sehingga interaksi terjadi secara afektif dibandingkan yang terjadi dalam kelas. Di samping faktor  pembiasaan dan keteladanaan, pembinaan iman, takwa dan akhlak mulia serata pembudayaan dalam keluarga, juga dapat lebih berhasil karena adanya penghayatan terhadap nilai-nilai al Qur’an yng melahirkan keyakianan, sikap, perilaku dan akhlak mulia.[18]

Sistem pendidikan harus menekankan aspek kepercayaan karena kepercayaan merupakan aplikasi konkret nilai-nilai yang kita miliki.Kita menerima ide adanya Allah, inilah merupakan nilai, sedangkan mengembalikan asal usul kejadian khusus seperti kejadian manusia sebagai makhluk jasmani-rohani itu merupakan kepercayaan. Di sinilah kurikulum pendidikan Islam harus mendasari semua bentuk dan materinya dengan nilai-nilai universal dan absolut kebenarannya guna mewujudkan suatu kepercayaan dalam arti yang luas, yakni kepercayaan adanya Allah SWT, kepercayaan pertalian antara manusia dengan Allah SWT, dan pertalian antara manusia dengan alam. Akibatnya, pada akhirnya produk pendidikan tetap mempunyai jiwa iman, Islam, dan ihsan. Tegasnya, semakin homogen gaya hidup kita, semakin kokoh kita akan bergantung pada nilai-nilai yang lebih mendalam , mencakup agama, bahasa, seni, dan sastra, sementara dunia luar kita tumbuh semakin sama, dan kita akan semakin menghargai tradisi (wujud nilai) yang bersemi dari dalam.[19]

Buah dari tumbuhnya nilai ilahi pada diri seseorang adalah teguhnya imanyang terefleksi dalam sikap dan perilaku ibadah serta muamalah, dalam mana tergambar kepribadian muslim yang mampu menyesuaikan diri secara positif dalam setiap kondisi dan situasi yang dihadapinya. Puncaknya tergambar dalam profil seorang yang matang dalam beragama.[20]

Proses penumbuhan dan pengembangan tata nilai kepada anak hendaknya ditanamkan secara kontinyu, sejak dalam kandungan hingga dewasa. Hal ini karena proses pendidikan anak tidak dapat terhindar dari proses perkembangan dan pertumbuhan anak itu sendiri. Ini berarti bahwa di dalam proses pendidikan anak diperlukan unsur dan pendekatan pendidikan yang sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan.

Dalam upaya penumbuhan dan pengembangan tata nilai  baik nilai ilahiah dan insaniah optimalisasi peran keluarga harus dilakukan, di samping memperkuat lembaga pendidikan formal. Karena pendidikan yang diterima dari orang tua menjadi dasar pembinaan penumbuhan dan pengembangan tata nilai dalam diri anak. Dalam perkembangan rohani, orang tua mesti memberikan bimbingan, terutama dalam pembentukan pemikiran, akhlak, ibadah dan akidah kepada Tuhan, sebab hal semacam ini akan mengakar tumbuh dalam diri anak, jika diajarkan sejak dini.[21]

Peranan pendidikan dalamIslam memperlihatkan bahawa intinya adalah untuk membentuk personaliti muslim yangmencakupi aspek rohani, jasmani, intelek serta jugaemosi. Yang lebih utama lagi segala perlakuansama ada yang bersifat zahir mahupun batin atau dalaman seharusnya sesuai dengan ajaran Islamseperti yang terkandung dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Ini juga memberi arti bahawa PendidikanIslam tidak sekadar memindahkan maklumatkepada para pelajar malah peranannya adalah lebihluas dan bersifat holistik.Jika demikian, bagaimanapula dengan konsep pendidikan Islam? Apakah iamempunyai nilai tambah yang berbeda ataulanjutan dari apa yang dibincangkan di atas? Dalamhubungan ini, menurut Abdullah Ishak (1995) didalam Norazani et. al (2004), peranan pendidikan Islam adalah untuk menumbuhkan sertamengembangkan aspek-aspek kesempurnaan manusia yang mencakupi fisik, spritual, mentaldan sosial menurut pembentukan rabbani yang melahirkan insan kamil dan mukmin yang bertakwauntuk mengabdikan diri kepada-Nya. PenjelasanAbdullah Ishak memberi gambaran bahawaPendidikan Islam dari sudut konsepnya adalahseiring dengan peranan pendidikan dalam Islam.Malah perkara yang tersirat dari uraian tersebut member arti bahawa seseorang pelajar pada waktuyang sama juga perlu memahami ajaran Islam.Pendidikan Islam mencakup hubunganpelajar kepada keduniaan dan juga akhirat.Dalamkonteks ini, pendidikan yang baik memberi sumbangan kepada semua bidang pertumbuhan individu danyang menyentuh aspek fisik,akal, psikologi, spiritual, moral, sosial dan seluruhdisiplin ilmu.[22]

 

F.   Cara Sosialisasi Tata Nilai

Proses sosiolisasi dipandang sebagai proses yang ampuh dan jitu dalam mempertahankan, melestarikan, dan mewariskan nilai walaupun dalam era transformasi sosial budaya. Proses sosiolisasi nilai dapat dilekukan dengan dua cara, yaitu secara evolusi dan secara revolusi. Cara evolusi menuntut adanya keuletan dan kesabaran, dengan rentang waktu yang panjang dan disampaikan secara berangsur-angsur.Tranmisi dan internalisasi evolusi mengikuti pola dan irama perkembangan objek dengan mempertimbangkan berbagai kondisi dan situasi yang mempengaruhinya.Cara ini dipandang efektif, hanya saja prosesnya terlalu lama dan dikhawatirkan terjadinya kefakuman generasi penerus. Hal ini akan menyebabkan nilai yang disampaikan belum sepenuhnya diterima oleh objek, dan objek telah menginternalisasi dan mengaktualisasi nilai tersebut sepanjang masatanpa adanya usaha perbaikan dan penyempurnaan. Sebaliknya, cara revolusi menuntut adanya perombakan tata nilai yang sudah using dan dimodifikasi atau bahkan diganti dengan nilai-nilai baru. Cara ini tidak menutup adanya kemungkinan perpecahan, perselisihan, atau bahkan perselisihan.

Dilihat dari hasil yang diperoleh dalam rentang waktu yang relativ singkat, Nabi Muhammad Saw dalam berdakwah memakai cara revolusi. Hasil yang diperoleh Nabi Saw dalam berdakwah tidak hanya perubahan visi material kepada visi spiritual, tetapi lebih dari itu, Nabi Saw juga dapat merombak tata nilai “jahiliah” menuju  pada tata nilai “ilahiah dan insaniah”. Akan tetapi, apabila dilihat dari cara dakwahnya menggunakan teknik dan pendekatan yang menyentuh hati, melalui seperangkat etika yang khas dan penuh makna, sikap dan watak yang lemah lembut penuh kasih, jiwa dan pribadi yang paripurna (insan kamil), serta kehadirannya penuh rahmat bagi sekalian alam.[23]

Adapun prinsip-prinsip sosialisasi nilai dalam Islam menurut Khudori Bik, yaitu

1.      Meniadakan kesempatan dan kesukaran (QS. 22: 78, 2: 286, 5: 6, 4: 28)

2.      Penyederhanaan dan sedikit beban (QS. 5: 101)

3.      Bertahap dan berangsur-angsur dalam menyampaikan nilai (at Tadrij)[24]

 

G. Cara Mengukur Berhasil Tidaknya Proses Penumbuhan dan Pengembangan Tata Nilai

 

Disebabkan nilai berada pada dunia rohaniah atau batiniah seseorang, maka perilaku seseorang sukar diterjemahkan begitu saja sebagai indicator nilai yang ada dalam dirinya. Meskipun demikian Raths, Harmin dan Simon mencoba mengetengahkan sejumlah indikator nilai yang mungkin terdapat pada: tujuan, aspirasi, sikap, perhatian, keinginan, keyakinan atau pendirian, aktivitas-aktivitas, kecemasan, problem dan rintangan.

Semua indikator nilai tersebut di atas apabila ingin dijadikan alat monitoring kehadiran sesuatu nilai pada diri seseorang, harus ditambah dengan asumsi lain yakni mengenai frekuensi muncul dan kualitas munculnya. Misalnya sering kali beraktivitas, sangat tingginya perhatian dan keinginannya, sangat kuat goncangan jiwa bila tidak melaksanakan sesuatu hal yang dianggapnya penting, dan bila tidak terlaksana sesuatu hal yang dianggapnya penting, dan lain-lain. Asumsi lainnya ialah harus menggunakan beberapa indikator, sebagai contoh untuk mengetahui hadirnya nilai ilahiah ubudiah shalat, tidak cukup hanya dimonitor dari beberapa kali menjalankan shalat, tetapi apakan telah menunjukkan sering kali atau sudah menjadi kebiasaan, apakah bila dia tidak shalat tampak perasaannya penyesalan atau goncangan jiwa yang kuat. Tidak cukup dengan hanya memperhatikan aktivitasnya semata, tetapi harus pula diperhatikan indicator lain seperti sikapnya, perhatian, kemauan serta kecemasannya bila tidak shalat, dan sebagainya. Proses terbentuknya nilai, titik beratnya pada ranah afeksi. Sedangkan tipe belajar afeksi merupakan proses kontinu dari tingkat yag paling rendah kepada yang paling abstrak. Justru itu ia tidak bisa dipisah-pisahkan sebagaimana taksonomi dalam kognitif. Itu menunjukkan bahwa proses terbentuknya nilai adalah suatu proses yang berkesinambungan.[25]

 

 

 

F. Penutup

Dari uraian di atas dapat penulis simpulkan yaitu: Pendidikan Islam adalah bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam serta mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi segala perubahan yang terjadi dalam kehidupan seiring berjalannya waktu.

Peranan pendidikan dalamIslam memperlihatkan bahawa intinya adalah untuk membentuk personaliti muslim yangmencakupi aspek rohani, jasmani, intelek serta jugaemosi.Proses penumbuhan dan pengembangan tata nilai kepada anak hendaknya ditanamkan secara kontinyu, sejak dalam kandungan hingga dewasa. Hal ini karena tata nilai yang ada di masyarakat selalu mengalami perubahan seiring berjalannya waktu.Oleh karena itu, peranan pendidikan adalah memadukan nilai-nilai baru dengan nilai-nilai lama secara selektif, inovatif, dan akomodatif guna mendinamisasikan perkembangan pendidikan yang sesuai dengan tuntutan zaman dan keadaan, tanpa meninggalkan nilai fundamental yang menjadi tolak ukur bagi nilai-nilai baru.Apabila suatu saat terjadi benturan antara nilai-nilai islami dengan non Islami, fungsi dan peran pendidikan Islam ialah mengaktualisasikan serta memfungsikan nilai-nilai islami tersebut pada saat adanya perubahan masyarakat modern dengan kekuatan ipteknya. Pendidikan harus menyelesaikan benturan nilai-nilai internal-intrinsik, baik buruk, menurut norma-norma Islam dengan nilai-nilai eksternal intrinsik yang positif atau negative, secara harmonis dalam masyarakat Islam, tanpa menimbulkan ekses-ekses ketegangan mental spiritual yang menggejala ke dalam perilaku negatif, destruktif dalam kehidupan moral dan sosial.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Al Munawwar, Said Agil Husin, Aktualisasi Nilai-Nilai Qur’ani, (Jakarta: Ciputat Pers, 2005.

An Nahlawi, Abdurrahman, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Jakarta: Gema Insani Press, 1995.

Barsihannor, Belajar Dari Lukman Al Hakim, Yogyakarta: Kota Kembang, 2009.

Buseri, Kamrani Buseri, Antologi Pendidikan Islam dan Dakwah, Yogyakarta: UII Press, 2003.

Hasan, Muhammad Tholhah, Prospek Islam Dalam Menghadapi Tantangan Zaman, Jakarta: Lantabora Press, 2005.

Marimba, Ahmad D, Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung: Al Ma’arif, 1989.

Muhaimin dan Abdul. Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung: Trigenda Karya, 1993.

Muhammad, Baharom , Peranan Pendidikan Islam Dan Pendidikan Moral Dalam Membina Sahsiah Pelajar Berkualiti (Persidangan Pembangunan Pelajar Peringkat Kebangsaan 2008) Universiti Teknologi Malaysia, 22-23Oktober 2008.

Mujib, Abdul dan Yusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam,  (Jakarta: Prenada Media Group, 2008.

Narwoko, Dwi dan Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar Dan Terapan, Jakarta: Prenada Media Group, 2007.

 

Thoha, M. Chabib, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.

Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan Bagian 3, Bandung: Imtima, 2007.

 

 

 



[1]Kamrani Buseri, Antologi Pendidikan Islam dan Dakwah, (Yogyakarta: UII Press, 2003), h. 69.

[2]Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan Bagian 3, (Bandung: Imtima, 2007), h. 51.

 

[3]Muhammad Tholhah Hasan, Prospek Islam Dalam Menghadapi Tantangan Zaman, (Jakarta: Lantabora Press, 2005), Cet. Ke-6, h. 18.

[4]Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan, op.cit., h. 43.

[5]Ibid.,h. 45.

[6]M. Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), h. 18.

[7]Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan, op.cit.,h. 46.

[8]Muhammad Tholhah Hasan, op.cit., h. 7.

[9]Abdurrahman An Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995).

[10]Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung: Al Ma’arif, 1989).

[11]Kamrani Buseri, op.cit.,h. 59.

 

[12]Abdul Mujib dan Yusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam,  (Jakarta: Prenada Media Group, 2008), Cet. Ke-2, h. 64. Lihat  Muhaimin dan Abdul. Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: Trigenda Karya, 1993), h. 111, lihat Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan, op.cit.,h.50.

[13]Abdul Mujib dan Yusuf Mudzakkir, op.cit., h. 64

[14]Muhaimin dan Abdul Mujib, op.cit., h. 112.

[15]Muhammad Tholhah Hasan, op.cit., h. 9. Lihat Muhaimin dan Abdul Mujib, h. 115.

[16]Muhaimin Abdul Mujib, op.cit.,h. 124.

[17]Said Agil Husin Al Munawwar, Aktualisasi Nilai-Nilai Qur’ani, (Jakarta: Ciputat Pers, 2005), h. 14.

[18]Ibid.,h. 15.

[19]Muhaimin dan Abdul Mujib, op.cit.,h.125.

[20]Kamrani Buseri, op.cit.,h.75.

[21]Barsihannor, Belajar Dari Lukman Al Hakim, (Yogyakarta: Kota Kembang, 2009), h. 3.

[22]Baharom Muhammad, Peranan Pendidikan Islam Dan Pendidikan Moral Dalam Membina Sahsiah Pelajar Berkualiti (Persidangan Pembangunan Pelajar Peringkat Kebangsaan 2008) Universiti Teknologi Malaysia, 22-23Oktober 2008).

 

[23]Muhaimin dan Abdul Mujib, op.cit., h. 123.

[24]Ibid.,h. 124.

[25]Kamrani buseri, op.cit.,  h. 72.