ALIRAN PRAGMATISME DAN PROGRESIVISME DALAM

 FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Oleh: Nurul Qomariyah M.Fil.I[1]

ABSTRAK

Aliran progresifisme dan pragmatisme yang dipelopori oleh William James dan Jhon Dewey ini memiliki sumbangan besar terhadap pergembangan dan praktik pendidikan di abad moderen ini. Sumbangan mereka dalam bidang pendidikan meliputi perumusan tentang asas belajar, kurikulum dan budaya.

Dalam perumusan asas belajar kedua aliran ini telah meletakkan fondasi dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan kemampuan bakat yang terpendam, yang sekian lama mengalami hambatan dan rintangan dari kondisi lingkungan.

Masalah kurikulum aliran ini berpandangan bahwa kurikulum yang berbasis pada pengalaman atau kurikulum eksperimental, yaitu kurikulum yang berpusat pada nilai pengalaman yang telah diperoleh anak didik selama di sekolah dan dapat diterapkan dalam dunia nyata. Dengan metode pendidikan “belajar sambil berbuat” (learning by doing) dan pemecahan masalah (problem solving) dengan langkah-langkah mengahadapi problem dengan mengajukan berbagai hipotesa.

Adapun masalah budaya,aliran ini memandang kebudayaan sebagai hasil cipta, karsa dan karya manusia sepanjang sejarah merupakan milik otoritas manusia.  Maka pendidikan sebagai usaha manusia yang merupakan refleksi dari kebudayaan haruslah sejiwa dan senapas dengan kebudayaan. Oleh karen itu, pendidikan sebagai alat untuk proses dan merekonstruksi  kebudayaan baru, haruslah dapat menciptakan situasi dan kondisi yang edukatif, yang pada akhirnya dapat mengantar peserta didik menjadi manusia yang unggul, kretif dan adaptif terhadap perubahan dinamika masyarakat.

Dari pendapat ataupun gagasan mereka ada yang memang bagus untuk kita terapkan dalam pendidikan kita, namun ada juga yang tidak bisa kita terapakan. Sebab dalam pemikiran mereka tidak ada masalah keTuhanan. Disini jelas bertentangan dengan pendidikan kita khususnya Filsafat Pendidikan Islam yang mempunyai tujuannya mencetak Insan Kamil

 

KATA KUNCI; Pragmatisme, Progresifisme

A.    Pendahuluan

            Setelah peradaban umat manusia memasuki abad yang ke 20, urusan pendidikan sudah semakin rumit dan kompleks. Banyak sudah filosof dan guru yang telah dilahirkan. Deretan guru dan pendidik yang menghiasi sejarah pendidikan umat manusia diantaranya Plato (427SM-347 SM) dan Aristoteles (384SM-322SM), Al Gazali, Thomas Aquinas (1225-1274), Herbert Spencer, Emile Durkheim, Edmund Burke, Hegel,  Edmund Husserl (1895-1939) serta Rene Descrates (1596-1650). Demikian komentar (Francis Wahono, 2001:19).

            Dalam perkembangan selanjutnya, peradaban manusia juga telah melahirkan banyak “pendekar ilmuwan” penganut aliran atau paham liberal, konservatif bahkan sekuler dan westernisasi, mereka muncul dimana-mana serta masa ke masa, diantaranya B.F. Skinner, John Dewey, John Locke (1632-1704), Montesori, Ki Hajar Dewantara, KH. Ahmad Dahlan, R.A. Kartini dan lain sebagainya. Peradaban manusia juga melahirkan para pendidik radikal dan anarkis seperti Mahatma Gandhi, Paulo Freire sampai Ivan Illich (Sutarjo A, 2013:15). Termasuk tokoh aliran pragmatisme dan progresivisme, yaitu William James dan John Dewey.

B.     Mengapa Ada Aliran dalam Filsafat

Jasa dari buah pemikiran filsafat sangat dibutuhkan oleh umat manusia dalam upaya menjawab dan mengatasi berbagai permasalahan yang menyangkut bidang kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Oleh karena itu, pemikiran yang bersifat filsafat  yang bersandar pada  kekuatan potensi (jasmani dan rohani) melalui: pikiran, pengertian, pemahaman mendalam, menganalisa, menilai dan bahkan berani menyimpulkan (secara radikal dan sistematis) tentang  metafisika, alam semesta dan hakikat manusia. Berdasarkan hasil pemikiran tersebut memberikan nilai yang universal dan dialektika  berbagai teori, aliran dan metode dalam filsafat pendidikan. Oleh karena itu, munculnya berbagai macam teori dan aliran dalam filsafat pendidikan menunjukkan corak dan identitas bagi pengembangan ilmu pengetahuan.  

Meskipun kesimpulan filsafat bersifat hakiki, namun tetap saja ia masih relatif dan subjektif. Sebab kedua ranah ini merupakan sifat atau tabiat alamiah (kodrat) manusia. Manusia, dalam proses perkembangan dan pertumbuhan baik jasmani dan rohani cenderung memiliki watak dan karakteristik subjerktivitas. Oleh karena itu, menurut Muhammad Norsyam (1986:16) menegaskan bahwa kecenderungan perbedaan pandangan dalam pemikiran para filsuf dapat  melahirkan teori dan aliran-aliran dalam filsafat.

Perbedaan pandangan para filsuf itu, adakalanya bersifat saling menguatkan, namun tidak jarang pula ada berbeda bahkan berlawanan Hal ini disebabkan pendekatan dan metode yang yang digunakan berbeda, meskipun terkadang objek permasalahannya sama. Penyebab lain, ialah latar belakang mereka, tempat dimana mereka bermukim cenderung ikut mewarnai pemikiran mereka.

 

C.  Pragmatisme Sebagai Akar Progresivisme

Pragmatisme merupakan aliran filsafat yang lahir di Amerika Serikat sekitar tahun 1900. Pragmatisme merupakan perkembangan dari Realisme, tumbuh dan berasimilasi dengan inti pemikiran Yunani Kuno dari Heraclitos (544-484 SM). Pandangan Heraclitos, ia menyatakan bahwa sifat utama dari kenyataan hidup adalah perubahan, tidak ada suatu kenyataan yang tetap di muka bumi ini, semuanya akan mengalir terus dan berubah, kecuali perubahan itu sendiri. Pendapat yang hampir senada, juga dikemukakan oleh Protagoras (480-410 SM), yang berpandangan bahwa kebenaran, nilai dan norma tidak bersifat mutlak, melainkanm bersifat tergantung waktu dan tempat.

Sementara itu, Charles Sander Pierce menyebutkan bahwa pragmatisme adalah sebagai sikap (apptitude) dalam berpikir, yang disebut “laboratory habit of mind” (laboratorium bagi kebiasaan berpikir). Menurut John Dewey, istilah “pragmatis”  yang dijelaskan oleh Sander Pierce di adopsi  dari pemikiran Immanuel Kant. Sedangkan bagi, John Dewey, pragmatism is the rule of referring all thinking’s…to consequences for final meaning and test”, artinya kerangka pikir ke arah hasil pemikiran yang mengandung makna bagi si pemikir sendiri. Jika hasil pemikiran itu mengadung makna bagi si pemikir, maka pikirannya benar. Oleh karena itu, manusia seharusnya tidak hanya mengandalkan akal pikirnya semata, akan tetapi ia juga harus berbuat dan perbuatannya bermakna. Jiwa dan kehidupan manusia berkemampuan untuk memecahkan persoalan kehidupan yang dihadapinya. Untuk itu, pendidikan merupakan sarana pembudayaan untuk memanusiawikan manusia.

 Dari diskursus di atas, posisi falsafah pragmatisme yang dimaksud oleh John Dewey adalah “emperis-future”,  yang sekurangn-kurangnya  mengacu pada tiga aspek, sebaagi berikut:

 

1.     Dalam tataran realitas memerlukan objek sebagai emperisnya.

Pragmatisme menyangkal metafisika karena mengabaikan realitas pengalaman emeperis manusia. Bagi pragmatsime, antara materi dan pikiran merupaka dua hal yang tak terpisahkan dan memiliki substansi yang sangat terkait. Manusia mengetahui materi dikala ia mengalaminya dan memikirkan pengalaman dengan melalui akal pikirnya. Jadi realitas itu tak pernah terpisahkan dari manusia, seirirng perjalanan waktu pengalaman manusia akan mengalami perubahan.

Selanjutnya, bagi pragmatisme realitas bukanlah suatu yang abstrak. Realitas adalah transaksi pengalaman yang secara konstan mengalami perubahan, Apa yang dianggap “to day is  real but tomoorrow is not to real”. Sebab, manusia hidup di alam dinamika yang secara terus menerus mengalami ke arah  perubahan, dalam agama Islam, di sebut “Hukum Sunnatullah” artinya sudah merupakan ketetapan dan ketentuan Allah SWT. Sedangkan pengalaman dan kemampuan manusia relatif sangat terbatas, pada tataran “kemungkinan” daripada “kemutlakan” ( George Knight, 1982: 61).

 

2.    Kebenaran itu sebagai sesuatu yang berdaya guna

Pengetahuan menurut pragmatisme harus berakar dari pada pengalaman, manusia pro-aktif dan eksploratif terhadap lingkungan  sebagai  sumber sarana belajar. Untuk itu, bagi pragmatisme meyakini bahwa pengalaman dan pengetahuan pada hakikatnya akan menghasilkan nilai kebenaran yang berdaya guna, seperti “matahari menyinari bumi” atau “pohon yang menghasilkan buah-buahan”. Oleh karena itu. pandangan pragmatisme tentang kebenaran adalah relatif, dan tidak absolut, tergantung ruang dan waktu. Menurutnya, kebenaran itu senantiasa berupa sesuatu yang berguna yang terbentuk dari peristiwa-peristiwa alami yang terjadi.

Dengan demikian, pengetahuan itu dapat dijadikan sebagai instrumen atau alat untuk mengadakan prerubahan dari kondisi realitas yang tidak memuaskan kepada kondisi realitas yang lebih memuaskan. Oleh karena itu, pemikiran pragmatisme yang menekankan pada kepuasaani menurut John Dewey, ia mengatakan “truth is what gives satisfaction in individualities” (kebenaran itu ialah sesuatu yang memberikan kepuasan yang bersifat pribadi/individual). Sedangkan John Dewey, yang diperlukan adalah memuaskan kebutuhan-kebutuhan problamatika masyarakat sebagai suatu solusi kolektif. Bagi John Dewey kepuasan yang dimaksud lebih bersifat publik dan objektif dari pada kepuasan pribadi atau individu (Joseph Blau, 1966: 235).

    

3.    Aspek Nilai  

Pada aspek ini, berhubungan dengan epistemologi (pertanggung jawaban terhadap nilai pengetahuan dan kebenaran). Bagi pragmatisme, nilai itu bersifat relatif tidak mutlak untuk bisa dijadikan sandaran. Misalnya nilai kebudayaan yang senantiasa mengalami perubahan. Akan tetapi, bukan berarti secara moral  terjadi perubahan dari hari ke hari, sehingga persepsi aksiologis dianggap meliputi sesuatu yang universal. Menurut pandangan pragmatisme, kriteria perubahan yang baik ialah “Social Testberdasarkan penilaian masyarakat. Artinya secara moralitas, “yang berdaya guna bagi masyarakat” (Assegaf, 2012:23).  

Dari paparan di atas, tampak jelas bahwa ketiga aspek tersebut merupakan akar filosofis pragmatisme sebagai pemisah dan pembatas dari pemikiran filosofis lainnya. Berdasarkan analisis (George Knight maupun Athur K. Ellis, 1986)  dan (Adolp E. Mayor, 1949)  akar ini menjadi embriologi lahirnya aliran progresivisme. Menurut Imam Barnadib,  progresivisme adalah termasuk jenis teori sumber daya manusia. Oleh karena itu, filsafat progresivisme bermuara pada filsafat pragmatisme yang diperkenalkan oleh William James dan John Dewey. Dalam banyak hal progresivisme identik dengan pragmatisme. jika orang menyebut pragmatisme, berarti orang itu menyebut progresivisme.

 

 

 

 

  

D.      Pengertian Pragmatisme

William James sebagai perintis aliran pragmatisme, ia mendefinisikan pragmatisme, sebagai berikut:

Pragmatism ia a temper of mind, an attitude, it is also a theory of the nature of ideas and truth, and finally, it is a theory about reality. It is pragmatism as method which is emphasized. I take it, in the subtitle, “a new name for same old ways oh thuinking”

 (pragmatisme adalah pola berpikir dan sikap tertentu, Pragmatisme juga merupakan teori tentang ide dan kebenaran, dan akhirnya pragmatisme adalah teori tentang realitas. Untuk itu sebagai metode, pragmatismelah yang mendapat penekanan, sebaagaimana hal itu saya ambil dengan sebutan, “istilah baru (yang berbeda) dari sejumlah pola pikir yang lama) (Abd Rahman Assegaf, 2013:19)

Definisi yang hampir sama, dikemukakan oleh John Dewey, ia merujuk pada pemikiran William James dan Charles Sander Pierce. Disebutnya:

Pragmatism, according to to Mr. James, is a temper of mind, an attitude; it also a theory of the nature of ideas and truth; and, emphazied, I take it, in the subtitle, “ a new name for same ald ways of thinking” (menurut William James, pragmatisme adalah pola berpikir tertentu.

(Pragmatisme juga merupakan tentang keadaan ide dan kebenaran; dan akhirnya, pragmatisme adalah teori tentang realitas. Sebagai metode, pragmatismelah yang mendapat penekanan sebagaimana hal itu saya ambil dengan sebutan “istilah baru (yang berbeda dari sejumlah pola pikir lama).

Lebih lanjut, John Dewey menyatakan bahwa, ia memakai  istilah ”pragmatis” di atas dengan alasan untuk mempertegas bahwa konsekuensi dari emperis adalah tidak tergantung pada ide, tapi pada proses “akibat praktis” yang ditimbulkan oleh objek  yang dimodifikasikan melalui interaksi peristiwa dan proses alami. Bagi Dewey, segala sesuatu yang ada ini merupakan peristiwa, “every exixtence is an event”.

Idealisme, bagi Dewey harus diuji cobakan melalaui “instrumental”. Jika ide itu aktif maka ia akan berperan bagi pengalaman manusia. Bagi Pragmatisme, pengalaman manusia sebagai alat atau sarana untuk belajar, jalan menuju kesejahteraan dan mengembangkan kepribadiaan. Demikian pula teori dan realitas harus diuji kebenarannya melalui “experimental”. Menurut Richard Pratte (1971:21), pragmatisme telah memberikan warna kepada eksperimentalisme sebagai rekasi terhadap teori evolusi dari Darwin.  Aliran ini juga dinamai “environmentalisme” karena menganggap bahwa lingkungan hidup itu sangat mempengaruhi pola pembinaan dan sikap kepribadian manusia.

Dalam pandangan pragmatisme, suatu keterangan itu dapat dianggap benar kalau sesuai dengan realitas, atau suatu keterangan akan dikatakan benar kalau sesuai dengan kenyataan (Rasjidi, 1995: 18). Bagi pragmatisme realitas itu adalah peristiwa-peristiwa yang tidak tersusun, tapi nampak untuk dicerna oleh akal dan kecerdasan manusia. Akal dan kecerdasan manusia akan mempertegas kedudukan pengetahuan dan pengalaman yang mengandung nilai-nilai kebenaran.

 

E.  Pengertian Aliran Progresivisme

 Pengertian dasar yang menjadi ciri-ciri dari aliran ini adalah “Progress” yang berarti maju. Progresivisme lebih mengutamakan perhatiannya pada kemajuan masa depan daripada masa lalu. Dalam konteks sejarah, progresivisme lebih melihat keagungan dan keemasan masa lampau sebagai cakrawala atau tamsil untuk diterjemahkan masa sekarang dan masa depan. Yang baik untuk dijadikan modal perjuangan, sedangkan yang kurang baik digunakan sebagai dasar untuk mencegah agar tidak terulang di kemudian hari (Iman Barnadib, 1987:12).

 Menurut Theodore Brameld,  yang dikutip oleh Zuhairini, dkk (1995:22) menyebut aliran progresivisme “the liberal road to culture” yang menekankan pada pandangan hidup tiga unsur: Pertama, flexible (tidak kaku, tidak menolak perubahan, tidak terikat dengan doktrin tertentu). Kedua, curiosity (ingin mengetahui, ingin menyelidiki dan tolrean). Ketiga, open minded (mecintai keterbukaan).

Jor Park (1974:34) dalam bukunya “Selected Reading in the Philosophy of Education” memberikan klasisikasi aliran progresivisme ke dalam dua kelompok, sebagai berikut:

1.    Element of negative, aliran progresivisme menolak keras terhadap sifat otoritariisme dan absolutisme dalam segala bentuk, misalnya: yang terdapat dalam agama, politik, etika, dan epistemologi.

2.    Element of  positive, aliran progresivisme menaruh kepercayaan terhadap kekuatan alamiah manusia yang telah diwarisi dari alam sejak ia lahir (man’s of  natural power). Adapun yang dimaksud kekuatan alami ialah kekuatan yang mampu menangkal dan  melawan berbagai ancaman seperti: takhyayul/ mitos dan kerusakan lingkungan hidup.  

Progresivisme meyakini bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengatasi problem sosial, otoriter penguasa, dan doktrin agama, serta kesanggupan  mengendalikan hubungan dengan  alam dan lingkungan (Noeng Muhadjir, 1987:11).

Paparan di atas, memberikan pemahaman bahwa aliran progresivisme memandang bahwa kemajuan yang telah dicapai oleh manusia dewasa ini karena kemampuan manusia dalam mengembangkan berbagai disiplin ilmu. Adapum  kemajuan yang dimiliki aliran tersebut, meliputi: ilmu-ilmu sosial dan budaya, psikologi, antropologi maupun ilmu pengetahuan alam (Jalaluddin dan Abdullah Idi, 2012:79).

 

F.   Latar belakang Munculnya Aliran Pragmatisme dan Progresivisme

Latar belakang munculnya aliran pragmatisme-progresivisme tidak terlepas dari persoalan priodisasi sejarah pemikiran filsafat sebagai bahan perbandingan, dari zaman yunani kuno- klasik sampai pada abad modern.   Ada beberapa tesis yang dapat menjadi sumber informasi mengenai pengaruh munculnya aliran tersebut, antara lain:

1.    Pada abad ke 16, nama-nama filsuf seperti: Francis Bacon. John Lock, J.J. Rousseau, Kant dan Hegel dapat disebut sebagai kontributor bagi proses lahirnya pragmatisme-progresivisme.

a.    Francis Bacon (1561-1626), memberikan sumbangan dengan usahanya untuk memperbaiki metode experimentil induktif-deduktif (metode ilmiah dalam pengetahuan alam).

b.    John Locke (1632-1704),  dengan ajaran filsafat emperismenya, yang menekankan ilmu pengetahuan melalui pengalaman manusia.

c.    J.J. Rousseau (1712-1778), dengan keyakinannya bahwa kebaikan manusia itu sangat tergantung pada kodrat manusia itu sendiri.

d.   Immanuel Kant (1724-1804), keyakinannya bahwa manusia itu adalah makhluk yang mulia, memiliki kedudukan dan martabat yang tinggi.

e.    Hegel, yang mengajarkan bahwa alam dan masyarakat bersifat dinamis, yang terus mengalami perubahan yang tiada hentinya.

2.    Abd ke 19 dan ke 20. Thomas Paine dan Thomas Jefferson memberikan sumbangan pada pragmatisme, karena kepercayaan kedua pemikir ini terhadap pentingnya demokratisasi dalam pendidikan dan penolakan mereka terhadap sikap doktrin agama. Demikian pula, Charles S, Peirce salah satu pemikir dari Amerika juga ikut andil lahirnya aliran pragmatisme-progresivisme, yang terkenal teori berpikirannya. Ia menyatakan bahwa pikiran itu akan berguna bagi mansia apabila pikiran itu “bekerja” yaitu dapat memberikakan pengalaman bagi manusia. Oleh karena itu, menurutnya perasaan dan perbuatan tidak boleh menjadi abstrak, karena dapat meyesatkan manusia.

3.    Berdasarkan anlisis Richard Pratte (1971), dalam bukunya “Contemporary Theories of Education”. Ia menyatakan bahwa progresivisme identik dengan teori darwin “seleksi natural”. Kedua paham tersebut, pada intinya melihat adanya pertumbuhan dan perkembangan pada setiap makhluk melewati evolusi  dan proses seleksi serta adaptasi pada lingkungannya. Bagi kedua paham ini, beryakinan bahwa manusia, flora dan fauna masing-masing harus  berjuang agar dapat survive untuk kelangsungan hidup mereka. Bagi progresivisme manusia dapat tumbuh dan berkembang serta mampu beradaptasi terhadap perubahan untuk maju (progres). Kemajuan untuk masa depan merupakan ciri manusia dalam mencapai kehidupan yang lebih baik. Atas dasar ini, teori pendidikan yang berlandaskan pada seleksi natural disebut progresivisme.

4.    Berdasarkan analisis Imam Barnadib (1996:21), dalam bukunya “Dasar-Dasar Kependidikan, Memahami Makna dan Perspektif Beberapa Teori Pendidikan”. Ia menyatakan bahwa progresvisme sejiwa dengan liberalisme, meskipun dalam koseptualnya lebih bersifat pasif dibandingkan dengan pengertian progresivisme itu sendiri. Menurut pandangan liberalisme, progres itu identik dengan perubahan, karena tidak ada suatu yang lebih nyata daripada perubahan, perubahan itu akan membawa manusia ke arah yang lebih baik. Sumber perubahan itu, tidak lain adalah manusia yang kreatif dan yang merdeka, yaitu manusia yang bereksperimen. Pandangan liberalisme ini, hampir sama dengan pendapat tokoh aliran pragmatisme William James dan John Dewey, meskipun tidak ektrim liberalisme melalui pandangannya tentang “revolusi”.

5.    Adanya kesangsian, keraguan, dan kesadaran atas keterbatasan para filsuf dalam menjawab realitas emperik pada tataran metafisik, alam semesta dan hakikat manusia. Menurut  William James dan John Dewey  menganggap filsafat gagal atau tidak tuntas menjelaskan realitas emperik tersebut sehingga menyebabkan ilmu pengetahuan  menjadi stagnan dan mengalami kesulitan untuk berkembang. Melihat kondisi ini, kedua tokoh tersebut menggagas sebuah pemikiran cerdas yaitu pragmatisme-progresivisme, aliran ini muncul sebagai rekasi terhadap kegalauan dan kerisauan di tengah kemelut kondisi ilmu pengetahuan, dan  pendidikan yang terbelunggu akibat disintegrasi pemikiran, kuatnya pengaruh renaissance, dan otoriter kaum agamawan (gereja) menyebabkan pengetahuan mengalami kemunduran. Menurut aliran ini, ilmu pengetahuan dan pendidikan akan maju jika mampu merespon dinamika perubahan masyarakat yang berbasis pada realitas emperis, keterbukaan, nilai kebenaran, lingkungan yang kondusif, dan tidak diskriminatif.  

Secara historis, sebagai bahan perbandingan tentang hubungan filsafat ke filsafat pendidikan era modere. Ada tiga mazhab besar dalam filsafat pendidikan yang cukup berpengaruh yang memiliki corak pemikiran yang berbeda terhadap pandangan metafisika, alam semesta, hakikat manusia. Lebih jelasnya dapat kita lihat pada tabel di bawah ini:

 

Tabel 1. Perbandingan Tiga Besar Mazhab Filsafat Pendidikan

 

Idealisme

Naturtalisme

Pragmatisme

Progresivisme

Roh-Theo

Alam semesta

Manusia

Kekuatan jiwa

Fisik dan kebutuhan

Fisik, kebutuhan, jiwa

Spritual

Pancaindera

Kreativitas

Ideal

Aktual

Praktis

Kebenaran mutlak

Kekuatan lahiriah

Kecerdasan otak

Berkorban

Bertahan hidup

Perilaku sosial

Kepribadian

Organisme

Individualis

Sumber informasi: Wowo Sunaryo Kuswana (2013:58)

 

Dari tabel di atas, tampak jelas perbedaan ketiga masing-masing aliran filsafat tersebut. Pragmatisme dengan tegas menolak pandangan spritual, tetapi menerima alam sebagai lingkungan kegiatan manusia yang bersifat netral. Sedangkan manusia sebagai makhluk kreatif tetapi bukan mekanistik, dan manusia bersifat alamiah dan menjadikan pengalaman manusia sebagai pusat nilai (value central).

 

G.      Tokoh dan Pemikir Aliran Pragmatisme dan Progresivisme

Untuk lebih mengenal lebih dekat tokoh-tokoh aliran pragmatisme-progresivisme, dapat kita lihat pada uraian singkat di bawah ini:

1.     William James (1842-1910)

Lahir di New York, 11 Januari 1842 dan meninggal dunia di Choruroa, New Hemshire, 26 Agustus 1910. I Belian seorang psikolog dan filsuf Amerika Serikat yang sangat terkenal. Paham dan ajaran serta kepribadiannya memiliki pengaruh di berbagai negara eropa dan Amerika. Ia juga seorang penulis yang produktif, dosen di berbagai perguruan tinggi dan penceramah di bidang filsafat. James berkeyakinan bahwa otak dan pikiran, seperti aspek dari  eksistensi organik, harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Oleh karena itu, ia menyarankan agar otak dan  pikiran itu sebaiknya diajarkan sebagai mata pelajaran pokok dalam ilmu pengetahuan alam di sekolah.

Buku karya William James yang terkenal “Principles of Psychology” terbit tahun 1890. Dalam buku karya James, ia membahas ide-ide dan gagasan  ilmu kejiwaan sebagai dasar ilmu perilaku. Lewat buku klasik ini, William James menjadi filsuf pragmatis dan emperisme yang radiakal

.

2.    John Dewey (1859-1952)

Lahir pada tanggal 20 Oktober 1859 di Burlington Vermon, dan meninggal dunia pada tanggal 1 Januari 1952 di New York.   John Dewey salah seorang pendiri aliran pragmatisme dalam bentuk yang orisinil. Ide filsafatnya yang utama ialah pada problem pendidikan yang konkret, baik teori maupun praktik. Reputasi internationalnya sebagai guru dan guru besar terletak pada pemikiran bidang filsafat progresivisme di Amerika. John Dewey memperoleh gelar Ph.D., dengan disertasinya yang berjudul “The Psychology of Kant”.

Prestasi lainnya, seperti, karya tulisannya di bidang teori pendidikan seperti, My Pedagogic (1897), The School and Society (1990), The Child and the Curriculum (1992), Democracy and Education (1916), Experience and Education (1938).  Selain itu, John Dewey juga sangat familiar di kalangan ahli filsafat profesional, karena karya fundamentalnya di bidang ekonomi, hukum, antropologi, politik dan ilmu jiwa.

3.    Tokoh-tokoh yang termasuk ke dalam gerakan progresif (Progressive Education Movement) seperti: William Hart, Kilpatrick, Boyd H. Bode, dan Helen Parkhurst. Tokoh ini memiliki landasan pemikiran yang sama dengan pragmatisme-progresivisme, yaitu sekolah adalah masyarakat kecil dan pendidikan menyiapkan mereka untuk menyesuaikan diri dan bereksperimen dalam masyarakat. Tokoh pendidik yang masuk dalam gagasan penyesuaian diri, seperti: E.L. Thorndike, G. Stanley Hall, Florence B. Stratemeyer.

4.    Tokoh-tokoh yang tergolong berpandangan baru se vsi dengan aliran pragmatisme dan progresivisme, diantaranya Lawrence A. Cremin, Jonas F. Soltis, dan Kenneth A. Strike. Tokoh-tokoh ini berpandangan tentang pentingnya liberalisme dalam pendidikan. Pendidikkan yang bercorak liberal dnhgianggap lebih akomodatif dan adaptif rerhadap suatu perubahan (progress) ke masa depan.

 

H.   Prinsip-Prinsip Pendidikan Aliran  Pragmatisme dan Progresivisme

Aliran filsafat pragmatisme dan progresivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan pada abad ini. Aliran ini telah meletakkan fondasi dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan kemampuan bakat yang terpendam, yang sekian lama mengalami hambatan dan rintangan dari kondisi lingkungan.

Arthur K. Ellis (1986:99) dalam bukunya “Introduction to the Foundation Education”. Ia merangkum prinsip-prinsip dasar progresivisme dalam pendidikan, sebagai berikut:

1.    Pendidikan itu seharusnya kehidupan itu sendiri, bukan persiapan untuk hidup.

2.    Rumusan konsep belajar harus dikaitkan dengan minat dan bakat anak didik.

3.    Belajar melalui pemecahan masalah (solving problem) harus menjadi prioritas utama daripada pengulangan mata pelajaran.

4.    Peran dan kedudukan guru bukan untuk ditonjolkan, tapi lebih kepada bimbingan.

5.    Sekolah seharusnya lebih menekankan usaha kerjasama dengan masyarakat, bukan sebagai pesaing (kompetitor bagi anak didik).

6.    Pendekatan pola komunikasi yang demokratis dalam pendidikan dapat meningkatkan peran dan partisipasi anak didik agar dapat tumbuh dan berkembang secara wajar dan normal.

Dari rumusan di atas, menunjukkan  bahwa aliran pragmatisme dan progresivisme menghendaki agar pendidikan diselenggarakan secara terintegral dengan melibatkan semua komponen pendidikan  di dalamnya (stakeholder).

Di samping itu, kedua Aliran ini memandang kebudayaan sebagai hasil cipta, karsa dan karya manusia sepanjang sejarah merupakan milik otoritas manusia.  Maka pendidikan sebagai usaha manusia yang merupakan refleksi dari kebudayaan haruslah sejiwa dan senapas dengan kebudayaan (Imam Barnadib, 1992:24). Oleh karen itu, pendidikan sebagai alat untuk proses dan merekonstruksi  kebudayaan baru haruslah dapat menciptakan situasi dan kondisi yang edukatif, yang pada akhirnya dapat mengantar peserta didik menjadi manusia yang unggul, kretif dan adaptif terhadap perubahan dinamika masyarakat.

Dengan demikian, menurut aliran ini yang diperlukan ialah kurikulum yang berbasis pada pengalaman atau kurikulum eksperimental, yaitu kurikulum yang berpusat pada nilai pengalaman yang telah diperoleh anak didik selama di sekolah dan dapat diterapkan dalam dunia nyata. Dengan metode pendidikan “belajar sambil berbuat” (learning by doing) dan pemecahan masalah (problem solving) dengan langkah-langkah mengahadapi problem dengan mengajukan berbagai hipotesa (Suwarno, 1992:123). Beranjak dari uraian di atas, kedua aliran ini memiliki pandangan dan perhatian terhadap unsur-unsur komponen dalam pendidikan. Seperti:

 

1.    Hubungan Siswa dan Guru

Aliran ini memandang bahwa anak didik itu memiliki potensi akal dan kecerdasan, potensi ini merupakan kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Dengan potensi ini pula anak didik dapat berkembang menjadi individu yang kreatif, aktif dan dinamis Oleh karena itu, guru di sekolah harus memberikan kebebasan dan kemerdekaan kepada anak didik, baik secara fisik dan psikis agar  tumbuh dan berkembang dengan baik.  

Guru  menuntun  anak didik agar dapat berpikir dan belajar sendiri ke arah kemandirian. Dalam proses belajar mengajar guru dan anak didik sama-sama merencanakan, aliran ini mengehendaki agar semua potensi yang dimiliki anak didik di beri ruang dan porsi  yang bebas dan harmoni “student centred” dalam setiap proses kegiatan belajar. Dalam hubungan yang harmonis,  peranan guru  dalam membimbing peserta didik sangat dibuthkan, dan partisipasi peserta didik sangat membantu kelancaran dan kesuksesan tugas dan tanggung jawab guru dalam  kegiatan proses pendidikan.

 

1.    Lembaga Pendidikan (Sekolah)

Sekolah yang ideal menurut aliran ini, ialah sekolah yang isi pendidikannya berintegrasi dengan lingkungan masyarakat,  sekolah adalah bagian dari masyarakat. Untuk itu, sekolah harus dapat menyajikan program pendidikan yang berbasis karakteristik wilayah dan karifan lokal.. Dengan hubungan ini, peran dan fungsi sekolah sebagai lembaga pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai tempat memindahlkan ilmu pengetahuan (transfer knowledge), melainkan sebagai tempat memindahkan nilai-nilai (transfe.r of value) agar anak didik menjadi terampil dan memiliki kepekaan sosial yang terhadap perubahan. Untuk itulah jarak  pemisah antar sekolah dan masyarakat harus di hapuskan, karena proses belajar yang baik tidak hanya di ruang sekolah saja, dan guru bukanlah satunya-satunya sumber ilmu pengetahuan.

 

2.    Pandangan Kurikulum Pragmatisme dan Progresivisme

Rumusan isi kurikulum pendidikan yang di tuangkan dalam program pengajaran, menurut  pandangan aliran ini, sebagai berikut:

a.    Bahwa kurikulum yang baik adalah kurikulum yang mampu membantu dan menolong peserta didik agar dapat tumbuh dan berkembang semua potensi yang dimilikinya. Untuk itu, anak harus dididik sesuai dengan alamnya, anak bukan miniatur orang dewasa, ia punya dunia tersendiri berlainan dengan alam dunia orang dewasa. Dalam hubungan ini, anak harus menjadi sujek dalam pendidikan.

b.    Kurikulum yang baik adalah kurikulm  yang berbasis kaerifan lokal (local of wisdom), aspiratif dan adaptif terhadap perkembangan dan perubahan. Tujuannya agar peserta didik memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan.

c.    Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang dinamis tidak anti perubahan, fleksibel tidak kaku dan terbuka, dan eksperimental dapat di teliti dan di evaluasi. Kurikulum seperti ini lebih aspiratif dan akomodatif (stakholder)dapat dirvisi dan dievaluasi setiap saat sesuai dengan kebutuhan.

d.   Kurikulum yang baik, memberikan kemerdekaan dan kebebasan pada peserta didik untuk menyampaikan pendapat, bersikap dan berbuat. Pengajaran tidak boleh didominasi oleh guru, sikap seperti ini akan menyebabkan anak didik menjadi pasif. Akibatnya anak didik hanya menerima pengetahuan sebanyak-banyaknya dari guru. Oleh karena itu, aliran ini, sangat menekankan pentingnya  (learning by doing) dan pemecahan masalah (problem solving) dalam setiap proses kegiatan belajar mengajar.

 Dari paparan di atas, ada beberapa hal yang dapat kita rangkum. Pertama, kurikulum harus dapat meningkatkan kualitas hidup anak didik sesuai dengan jenjang pendidikan. Kedua, kurikulum dapat membina dan mengembangakan semua potensi anak didik. Ketiga, kurikulum harus sanggup mengubah sikap dan perilaku anak didik menjadi kreatif, adaptif dan mandiri. Keempat, kurikulum berbagai mata pelajaran/bidang studi harus bersifat dinamis, akomodatif dan fleksibilitas (Arifin HM, 1991:43).

Dengan demikian, melalui proses pendidikan dengan menggunakan kurikulum yang bersifat integrated curriculum (masalah-masalah dalam masyarakat disusun terintegrasi) dengan metode pendidikan belajar sambil berbuat (learning by doing) dan metode problem solving (pemecahan masalah) diharapkan peserta didik menjadi maju (progress) memiliki kecakapan praktis dan dapat memecahkan problem sosial sehari-hari dengan baik.  

 

3.    Pandangan Pragmatisme-Progresivisme tentang Budaya (Kultur)

Saat ini, ada kecenderungan bagi negara maju maupun negara berkembang perhatiannya hanya terfokus kepada pemberdayaan sumber daya manusia dan sumber daya alam. Sementara sumber daya budaya relatif kecil pendapat perhatian. Berbeda dengan aliran pragmatisme dan progresivisme yang memiliki pandangan dan perhatian terhadap kebudayaan.

Bagi aliran filsafat pragmatisme dan progresivismei, kebudayaan sebagi hasil cipta, karsa dan karya manusia diharapkan  dapat membawa perubahan dan kemajuan bagi kehidupan masyarakat. Budaya berpkir maju, seperti membangun gedung-gedung yang menjulang tinggi, rumah mewah dan apartemen, pembangunan sistem transportasi modern adalah ciri masyarakat berpikir modern. Semakin tinggi tingkat berpikir manusia, semakin tinggi pula tingkat budaya dan peradaban manusia.  Dengan demikian pendidikan kebudayaan bagi peserta didik wajib dipupuk sejak dini, dan di ajarkan di lembaga pendidikan sekolah. 

Bagi John Dewey, ingin mengubah  tradisi atau budaya mengajar yang  bersifat DDCH (Duduk, Dengan, Catat, Hafal) yang membuat peserta didik bersifat reseptif dan pasaif. Yang ia inginkan adalah sebaiknya guru memberikan kesempatan  peserta didik untuk melatih semua kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik secara utuh. Tujuannnya pelatihan ini adalah agar minat dan bakat serta kecerdasan anak didik dapat berkembang lebih dinamis, kretif dan progresif.

 

J.      Tujuan Filosofis Pendidikan  Aliran Pragmatisme dan Progresivisme

Menurut W.T.Feldinann, dalam bukunya ”The Philosophy of John Dewey: A Critical Analysis”. Ia mengutip pendapatnya John Dewey tentang paradigma filosofis tujuan pendidikan, John Dewey menyebutkan:

Education may be conceived either restrospectively or prospectively. That is to say; may be treated as process of acomadating of the future to the past, or as an utilization of the past for a resource in a developing the future. The former finds its stadarts and pattern in what has gone before.

(Pendidikan itu dapat dijelaskan baik melalui pemikiran masa lalu (retrospek) maupun masa mendatang (prospek). Dengan kata lain, pendidikan itu dapat dilacak sebagai proses akomodasi masa depan terhadap masa lalu, atau sebagai pendayagunaan masa lalu sebagai sumber pengembangan masa depan. Pendidikan masa depan menemukan standar dan polanya melalui apa yang sudah tejadi sebelumnya).

Dari pernyataan  di atas, secara filosofis John Dewey menghendaki bahwa dalam merumuskan tujuan pendidikan yang progresif, hendaklah merekonsrtruksi pemikiran masa lalu yang memiliki nilai-nilai relevansi bagi kemajuan untuk masa depan. Dengan kata lain, pemikiran masa lalu dapat menjadi sumber  inspiratif bagi pengembangan pendidikan  masa depan. Model pendidikan progresif menjadi pola dan standar bagi lembaga pendidikan, khususnya di Amerika Serikat dan umumnya di Eropa.

Selanjutnya, untuk mengubah hambatan dalam demokrasi pendidikan, John Dewey menawarkan beberapa rumusan tujuan pendidikan, dengan jalan:

1.    Memberi kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk belajar secara mandiri (perorangan).

2.    Memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik untuk belajar melalui pengalaman yang emperik.

3.    Memberi motivasi tentang tujuan hakikat belajar bagi peserta didik, agar kegiatan belajar tersebut menjadi kebutuhan pokok bagi anak didik.

4.    Melibatkan dan mengikutsertakan peserta didik di dalam setiap kegiatan belajar mengajar yang merupakan kebutuhan pokok anak.

5.    Menyadarkan peserta didik bahwa hidup ini dinamis dan terus berubah. Oleh karena itu, peserta didik harus siap menerima perubahan tersebut dengan kemerdekaan beraktivitas dan orientasi kehidupan masa depan (Soemanto, 1990:4).     

Beranjak dari uraian di atas, pemikiran John Dewey tentang tujuan pendidikan progresivisme, ialah memberikan sejumlah keterampilan dan alat yang diperlukan oleh peserta didik agar dapat berinteraksi dengan dirinya sendiri atau dengan lingkungannya, yaitu lingkungan yang senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan. Alat-alat tersebut hendaknya meliputi kemampuan menyelesaikan masalah (problem solving skill) yang dapat digunakan oleh peserta didik untuk mendefinisikan, meganalisis, dan menyelesaikan berbagai persoalan, baik secara pribadi maupun sosial. Dalam proses belajar mengajar harus difokuskan pada perilaku kooperatif dan disiplin pribadi, dimana kedua amat diperlukan untuk mengfungsikan masyarakat yang demokratis (Athur K. Ell, 1986:119).

 

K. Pengaruh Aliran Pragmatisme dan Progresivisme di Indonesia

Pemikiran filsafat pendidikan yang progresif dan pragmatis sebagaimana yang dikemukakan oleh William James dan John Dewey, memiliki pengaruh yang kuat terhadap teori dan praktik pendidikan yang berlangsung di Indonesia saat ini. Penulis mecoba mengidentifikasi pengaruh positif dan negatif dalam praktik pendidikan kita, sebagai berikut:

1.    Pengaruh Positif

a.    munculnya paradigma baru dalam pendidikan seperti: visi dan misi,  tujuan pendidikan, kurikulum dan kegiatan proses belajar mengajar sangat dipengaruhi oleh aliran progresivisme. Sebagai contoh ilustrasi: rumusan tujuan pendidikan kita, isinya  menekankan pentingnya keterampilan, penanaman nilai-nilai budaya kepada anak didik yang berlaku di masyarakat.

b.    Kita lihat lulusan-lulusan lembaga pendidikan di Indonesia bersifat ekonomi materialis yang menawarkan keuntungan materiil. Oleh karena itu, program studi atau jurusan yang tidak  menjajikan pekerjaan bagi lulusannya akan di tinggalkan oleh mahasiswa dan masyarakat.

c.    Umumnya pendidikan kita di Indonesia sudah menerapkan konsep belajar sambil bekerja (learning by doing), belajar sambil bermain.

d.   Lembaga-lembaga pendidikan kita sudah melibatkan partisipasi masyarakat baik untuk terlibat dalam pengambilan keputusan maupun sebagai tempat belajar, sebagai contoh konkret: para teknokrat, budayawan, ekonom, usahawan, politisi, dan sebagainya sudah di undang dan di datangkan di sekolah dan perguruan tinggi dalam rangkah melatih, membimbing dan membina guna memberi wawasan kepada peserta didik dan para mahasiswa.

e.    Saat ini lembaga pendidikan kita mengaplikasikan model pembelajaran yang lebih demokratis kepada anak didik, dengan cara memberikan kebebasan untuk berkreasi, berimajinasi, berinovasi dan bereksperimen, dengan menerapkan model dan pendekatan berbasis pada anak didik (student centris), melaui metode dan pendekatan: seperti intractive learning, cooperative learning, collaboratif learning, problem based learning, quantum learning, dan lain sebagainya.

2.    Pengaruh Negatif

a.       Aliran pragmatik dan progresif menempatkan guru bukan lagi sebagai agen spritual, yang dapat digugu, ditiru, dan diteladani. Melainkan hanya sebagai alat, pelayan dan pembantu serta pelengkap saja, yang suatu saat tidak diperlukan lagi.

b.      Aliran pragmatik dan progresif berbasis pada pemikiran rasional, positivistik, materialisme, hedonisme, liberal bahkan sekuler. Akibatnya praktik pendidikan ditentukan oleh masyarakat yang cenderung materialistik, menjadikan murid kurang memiliki kesopanan dan rasa hormat pada guru.

c.       Pendidikan pragmatik dan progresif semata-mata mementingkan ekonomi, sehingga menggeser dan meremahkan mata pelajaran yang bersentuhan dengan agama, seni dan sastra, serta ilmu humaniora. Dan bagi mereka yang menguasai mata pelajaran tersebut dianggap kurang bergensi.

 

L.  Pandangan Islam Terhadap Aliran Pragmatisme dan Progresivisme

Prinsip-prinsip umum yang ada dalam teks Al-Qur’an dan Hadits yang menghasilkan perdaban teks (hadharah al-nash) menjelaskan bagaimana semestinya tujuan pendidkan Islam itu di laksanakan secara visioner. Visioner berarti kemampuan seseorang melihat pada inti persoalan dengan  penuh wawasan dan pandangan yang luas (Abuddin Nata: 2010:23). Seorang visioner   dalam bersikap, bertutur kata dan perbuatan serta berpikir harus meyakini adanya Tuhan sang penguasa dan pencipta Alam semesta (Abu Azmi Azizah, 2000:57).

AS. Hornby (1986:958), menyebutkan bahwa makna visi adalah kemampuan melihat atau berimajinasi melihat ke depan, dan mencapai kebenaran berdasarkan fakta, atau power of seeing or imagining, looking ahead, grasping the truth that underlies fact (Munir al-Baalbaki 1996:1033). Dalam bahasa Arab, visi disebut dengan bashirah atau ru’yah. Karena visi bersifat wawasan yang luas dan pandangan ke depan, maka visi merupakan ungkapan yang umum dan abstrak, belum dijabarkan dalam bentuk perilaku yang konkret. Penjabaran dari visi adalah rumusan tujuan yang dituangkan dalam bentuk operasional

Sebagai bahan perbandingan, Abd. Rachman Assegaf (2011:220) dalam bukunya “Filsafat Pendidikan Islam, Paradigma Baru Pendidikan Berbasis Integratif-Interkonektif” menguraikan secara gamblang tentang karekteristik perbedaan  filsafat Barat dengan falsafah Al-Hadhariyah (perspektif Islam) seperti yang terlihat pada tabel 2 di bawah ini:

Tabel 2. Karakteristik falsafah al-Hadhariyah dan filsafat Barat

(pragmatik dan Progresif)

 

Filsafat Barat

Falsafah al-Hadhariyah

(Perspektif Islam)

Antroposentris, yaitu dalam konsep teorinya tidak menghubungkan dengan wahyu dan agama

Teo-Antroposentris, yaitu konsep dan teorinya integral antara akal manusia dengan wahyu Tuhan

 

Positivistik-emperik, yaitu hanya mengakui adanya dan berdasarkan pada gejalah yang tampak

Real-Transedental, yaitu mengakui adanya yang alam nyata dan Tuhan

Sekularistik, yaitu mengenyampingkan dimensi ketuhanan dan keakhiratan dan bahwa pendidikan didasarkan pada rasio, budaya, dan nilai-nilai sosial

Non-Sekularistik, yaitu mengakui adanya dimensi Ketuhanan dan keakhiratan serta pentingnya peran moral dan agama dalam pendidikan

 

Bersumber pada rasio dan budaya

Bersumber pada wahyu, rasio dan budaya

Etika pragmatik-hedonistik, yaitu kesenangan yang pragmatis (yang sesaat)

Etika demi keridhaan Allah SWT (science for mardhatillah)

 

Pertimbangan interaksi sosial semata

Interaksi vertikal dan horizontal (hablu minallah wa hablun minanas)

 

Ganjaran dan hukuman hanya di dunia

Pahala dan dosa (di dunia dan akhirat)

Modal psikis berpikir berangkat dari rasio dan skeptic

Modal psikis berpikir berangkat dari keyakinan iman, qalbu (conscience), dan rasio

 

Dasar ilmu adalah value-free (bebas nilai)

Dasar ilmu adalah value-bond dan humanistik

 

Ibarat mata air, sumber Al-qur’an dan Hadits adalah yang paling murni dan jerni dalam membentuk ciri khas filsafat pendidikan Islam: falsafah al-hadhariyah. Dari mata air inilah teerbukti telah mampu membangkitkan kebudayaan dan peradaban Islam hingga memancarkan hadharah al-Islam selama 5 abad. Keunggulan, falsafah al-hadhariyah bertumpu pada prinsip keterpaduan antara dimensi Ketuhanan (teosentris) dengan kemanusiaan (antroposentris), serta mengakui adanya alam nyata sekaligus alam ghaib, fisik dan metafisik.

M.   ANALISIS

Terlepas dari persoalan latar belakang masing-masing agama mereka. Yang jelas tokoh-tokoh ini, telah  memberikan kontribusi  pemkiran bagi lahirnya berbagai disiplin ilmu, mulai dari teori, aliran, metode dalam ilmu pengetahuan. Tentu saja, ilmu pengetahuan yang merupakan sumber dari hasil pemikiran cipta, karsa dan rasa dari para tokoh-tokoh filsuf dan pendidik tersebut,  sudah barang tentu ada yang tidak relevan dengan kondisi dunia pendidikan saat ini, dan dinamika perubahan masyarakat dunia (kekinian). Dan  mungkin saja pemikiran mereka masih ada relevansinya dalam konteks persoalan epistemologi dan aksiologi pendidikan kontemporer, yang dapat kita jadikan sebagai bahan kajian yang analitik konstruktif untuk pengembangan ilmu pendidikan.

Usaha yang dilakukan oleh William James dan John Dewey sebagai pemikir filsafata pragmatisme dan progresivisme telah memberikan kontribusi dan pengaruh  dalam dunia pendidikan di Indonesia maupun Negara lain khususnya di Amerika. Oleh karena itu, patut  diberikan apresiasi dan penghargaan atas ide dan gagasan beliau mengenai pendidikan yang pragmatis dan progresif.

Adapun sikap kritis terhadap pandangan filsafat pragmatis-progresif perlu kita lakukan secara objektif-akademik, agar pendidikan di Indonesia tidak kehilangan spirit, jiwa dan rohnya. Sebagai bangsa yang berbudaya dimana jelas terrlihat bahwa budaya kita sangat berbeda dengan budaya mereka. Di samping itu kita adalah Negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Maka dari itu gagasan mereka perlu untuk kita filter agar sesuai dengan karakter bangsa kita  khususnya dalam pendidikan Islam. Pemikiran dan gagasan aliran ini belum cukup dan tuntas menjawab problem yang di hadapi oleh umat Islam. Gagasan dan pemikiran aliran ini, perlu dilengkapi dengan nilai-nilai Ketauhidan, kerohanian, dan transedental. Sekaligus gagasan dan pemikiran keseimbangan antara manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan alam semesta dan makhluk lainnya, sebagimana tujuan dari pendidikan Islam yaitu menjadikan manusia sebagai Insan Kamil.

 

N.    Kesimpulan/Rangkuman

Berdasarkan hasil pembahasan dapat sebelumnya, dapat kita rumuskan beberapa kesimpulan, sebagai berikut:

1.     Pragmatisme dan progresivisme sebagai aliran filsafat pendidikan di era moder. Ia lahir dan muncul melalui periodesasi sejarah yang cukup panjang, dan pergolakan pemikiran di kalangan filosofis. Adapun tokoh-tokoh pemikir dan penggagas aliran ini ialah William James dan John Dewey.

2.    Ide dan gagasan tujuan pendidikan  aliran ini tertuang dalam rumusan kurikulum, sebagai berikut: Pertama, kurikulum harus dapat meningkatkan kualitas hidup anak didik. Kedua, kurikulum yang dapat membina dan mengembangkan perilaku potensi peserta didik. Ketiga, kurikulum yang sanggup mengubah perilaku peserta didik menjadi kreatif, adaptif dan mandiri. Keempat, kurikulum yang berbagai macam dalam mata pelajaran harus bersifat fleksibel, dan terbuka.

3.    Tujuan pendidikan pragmatis dan progresif banyak memberikan pengaruh positif terhadap corak dan model pembelajaran di lembaga pendidikan di Indonesia. Demikian pula sebaliknya, juga memberikan pengaruh negatif, dimana tujuan pendidikan aliran ini berbasis pada rasionalitas, liberal, materialisme, hedonismem, dan bahkan sekuler sehingga mengabaikan sentuhan nilai-nilai spritual dan nilai ilahiyah pada mata pelajaran agama.

 

Prinsip-Prinsip Pendidikan Pragmatisme

1.      Pendidikan berbasis pengalaman

2.      Terintegrasi dengan lingkungan

3.      Pendidikan sebagai learning by doing

4.      Pendidikan sebagai sarana solving problem

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arifin HM, Ilmu Pendidikan Islam suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, Bumi Aksara, Jakarta, 1991.

 

Abu Azmi Azizah, Bagaimana Berpikir Islami, Era Intermedia, Solo, 2000.

 

Abd Rachman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2013.

 

Abd Rachman Assegaf, Aliran Pemikiran Pendidikan Islam, Hadharah Keilmuan Tokoh Klasik Sampai Modern, PT. Raja Grafindo Persada, 2012.

 

Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, Dengan Pendekatan Multidispliner, Jakarta, Rajawali Press, 2010.

 

Athur K. Ellis, Introduction to the Foundation of Education, New Jersey-Englewood Clief: Prentice Hall, 1986.

 

AS. Hornby, Oxford Advanced Dictionary of Current English, Great Britain:Oxford University Press, 1986.

 

Francis Wahono, Kapitalisme Pendidikan, Antara Kompetisi dan Keadilan, Pustaka Pelajar, Cet II, Yogyakarta, 2001.

 

Jalaluddin, dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan, Manusia, Filsafat, dan Pendidikan, Jakarta,  PT. Raja Grafindo Persada. 2012.

 

Jork Park, Selected Reading in The Philosophy of Education, Macmillin Publishing and Co In, New York, 1974.

 

Joseph. L. Blau, Men and Movement in America Philosophy, Prentice Hall, New Jersey, 1965.

 

Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan, Sistem dan Metode, Yogyakarta, Yayasan Penerbitan FIP IKIP Yogyakarta, 1987.

 

Imam Barnadib, Dasar-Dasar Kependidikan, Balai Aksara, Yogyakarta, 1996.

 

Noeng Muhadjir, Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial Suatu Teori Pendidikan, Yogyakarta, Rake Sarasin, Edisi IV, Cet. I, 1987.

 

Richard Pratte, Contemporary Theories Of Education, Scranton: intext Educational Publisher, 1971.

 

R. George Knight, Issue and Alternative in Educational Philosophy, Andrews University Press, Michigan, 1982.

 

Rasjidi, Filsafat Agama, Jakarta, Bulan Bintang, 1995.

Soemanto. W, Psikologi Pendidikan. Rieneka Cipta, Jakarta, 1990.

Sutarjo A, JR, Sejarah Pemikiran Barat, Dari Klasik Sampai Yang Moderen, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2013.

 

W.T. Feldman, The Philosophy of John Dewey: A Critical Analysis, Greenwood Press, New York, 1968.

 

Wowo Sunaryo Kuswana, Filsafat Pendidikan Teknologi, Vokasi dan Kejuruan, Alfabeta, Bandung, 2013.

 

Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1995.

 

 



[1] Staf  pengajar  STAI Al-Falah Banjarbaru