Oleh: Muhamad Ramli[1]

ABSTRAK

  

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan tentang manajemen pembelajaran di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan dan diakhiri dengan evaluasi.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan subyek penelitian Pimpinan Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru, Koordinator, pengelola, Tata Usaha, Ustadz, santri serta beberapa pihak terkait. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan, wawancara dan analisis dokumen. Keabsahan data dilakukan dengan melakukan perpanjangan waktu penelitian dan triangulasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah dengan model analisis interaktif.

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa : 

1)      Perencanaan : Perencanaan pebelajaran di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru telah dilaksanakan dengan baik dan berkelanjutan yakni setiap menjelang awal tahun ajaran.  Pimpinan pondok bersama-sama dengan para koordinator, ustadz dan karyawan melakukan perencanaan satu tahun kedepan. 

2)    Pelaksanaan: Pelaksanaan pembelajaran dilakukan dalam semua kegiatan santri di dalam maupun di luar kelas, secara umum terlaksana sesuai dengan perencanaan yang dilakukan sebelum pembelajaran dilaksanakan, mengacu pada kurikulum yang telah dikembangkan oleh pesantren secara mandiri, dengan metode yang bervariatif dan disesuaikan dengan kemampuan santri. Bahan ajar yang digunakan berupa (kutubut turats) kitab-kitab klasik yang telah ditetapkan oleh para pendahulu. 3) Evaluasi: Evaluasi pembelajaran terlaksana dengan baik yaitu sebagai tolok ukur keberhasilan proses pembelajaran. Dilakukan secara komprehensip, beragam dan rutin dan melibatkan semua unsur. Hasil evaluasi digunakan untuk seleksi, menentukan kenaikan kelas dan untuk pelaporan. Aspek yang diujikan kepada santri meliputi aspek pengetahuan, aspek sikap dan keterampilan.  

 Kata kunci: Manajemen, Pembelajaran, Pondok Pesantren. 

A.    PENDAHULUAN

Kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan yang berkualitas bagi anak-anaknya di era globalisasi ini semakin meningkat, sekolah yang berkualitas semakin dicari, dan sekolah yang mutunya rendah semakin ditinggalkan. Orang tua tidak peduli apakah sekolah negeri ataupun swasta. Kenyataan ini terjadi hampir di setiap kota di Indonesia, sehingga memunculkan sekolah-sekolah unggulan di setiap kota.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka manajemen pembelajaran di ruang kelas telah pula banyak menarik perhatian para pen­eliti dan praktisi pendidikan dalam rangka me­ningkatkan mutu pembelajaran. Oleh karena itu, manajemen pembelajaran perlu digalakkan, se­hingga dapat diketahui secara nyata, apa, menga­pa dan bagaimana upaya-upaya yang seharusnya dilakukan dalam meningkatkan mutu pembelaja­ran yang diharapkan.

Manajemen pembelajaran perlu dikelola dengan baik agar dapat mencapai hasil yang optimal. Untuk mewujudkan hal terse­but, manajemen pembelajaran merupakan kunci keberhasilan menuju pembelajaran yang berku­alitas. Asumsi penulis, dalam hal ini adalah (1) manajemen pembelajaran merupakan kunci ke­berhasilan pembelajaran; (2) keberhasilan pem­belajaran dapat terwujud jika ditentukan oleh kualitas manajemennya. Semakin baik kualitas manajemen pembelajaran, semakin efektif pula pembelajaran tersebut dapat mencapai tujuan­nya; dan (3) manajemen pembelajaran yang efek­tif mempersyaratkan adanya kemampuan men­ciptakan, mempertahankan dan memperbaiki pembelajaran, baik yang dilakukan di dalam sekolah maupun di luar sekolah. Dalam hal ini, teori manajemen yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan penilaian, di ­sini sangat berperan.

Berbicara tentang manajemen pembelaja­ran di pesantren sebenarnya tidak jauh berbeda dengan manajemen pembelajaran pada umumnya, pada pembahasan ini akan dibahas beberapa hal seba­gai berikut:

Menurut Arikunto, istilah manaje­men merupakan penyelenggaraan agar sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien.[2] Menurut Purwadarminta manajemen berarti proses, cara, perbuatan men­gelola atau proses melaksanakan kegiatan terten­tu dengan mengerahkan tenaga orang lain.[3] Seba­gaimana dirujuk oleh Arikunto[4] menurut Hamiseno, manajemen adalah kegiatan secara bersama-sama dalam melakukan suatu tindakan yang dimulai dari penyusunan data, merancang, mengorganisasikan, melaksanakan sampai den­gan pengawasan dan penilaian yang menghasil­kan suatu hasil akhir, yaitu memberikan informa­si bagi penyempurnaan kegiatan. Pada umumnya di dalam kegiatan bertujuan untuk menciptakan, memelihara, atau menciptakan kondisi yang me­mungkinkan terjadinya kegiatan pembelajaran yang efektif, seperti membuat aturan atau tata tertib kelas atau mengembangkan hubungan yang sehat dan akrab antara guru – siswa dan siswa-siswa.

Sedangkan pembelajaran adalah segala kegiatan yang dilakukan guru untuk me­mudahkan siswa mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.[5] Hal ini juga ditegaskan oleh Suryosubroto, bahwa pembelajaran merupakan proses yang mengandung dua pengertian, yaitu rentetan ta­hapan atau fase dalam mempelajari sesuatu dan dapat pula berarti rentetan kegiatan perencanaan oleh guru, pelaksanaan kegiatan sampai dengan evaluasi, dan program tindak lanjut.[6]

Dengan de­mikian dapat disimpulkan, bahwa manajemen pembelajaran pesantren merupakan kegiatan dalam melaksanakan tindakan untuk menciptakan su­asana komunikasi yang edukatif antara guru/ustadz dan siswa/santri yang mencakup segi kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam rangka mencapai tujuan pembelarajan yang telah ditetapkan.

Namun, pesantren kian tahun kian banyak dan menjamur serta berbeda-beda pula tipologinya sehingga tidak semua pesantren baik mutunya sehingga terdapat kelemahan dan kekurangan di pondok pesantren, diantaranya :

1.        Pola kehidupan yang sederhana (mencontoh orang tasawuf), sehingga dalam kebanyakan pendangan orang, telihat kumuh dan tidak terawat.

2.        Kurangnya kemampuan dalam menalar, karena doktrin harus menghapal sehingga juga banyak yang kurang memahami pelajaran yang dihapalnya. 

3.        Kurang mengikuti perkembangan kitab-kitab terbaru dengan problematika yang terjadi di masyarakat.

4.        Umumnya pesantren tidak mempunyai sarana prasarana yang memadai untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.

5.        Lebih dominan memunculkan sikap otoriter, tidak propesional dalam pengelolaannya, tidak mudah menerima pembaharuan dari luar, dan terkesan eksklusif.

6.        Panatik terhadap salah satu pendapat (madzhab) dengan tidak mempelajari madzhab lainnya, sehingga bila ada persoalan dalam masalah fiqih maka terjadi pertentangan dan saling menyalahkan.

7.        Metode pelajaran yang digunakan kyai/ ustadz dalam proses belajar mengajar sering mengabaikan sapek kognitif dan lebih menekankan aspek afektif dan psikomotor saja. Jadi yang diperhatikan adalah bagaimana santri mau dan mampu menyadari nilai-nilai ajaran Islam dan mampu menginternalisasikannya dalam diri kemudian mampu dan mau mewujudkannya dalam prilaku dan kehidupan. Namun santri kurang diberi kesempatan untuk menyampaikan ide-idenya apalagi mengajukan kritik apabila menemukan kekeliruan dalam pelajaran sehingga daya nalar dan kreativitas berpikir mereka kurang terasah.

 

Oleh karena itu penelitian ini adalah studi kasus manajemen pembelajaran di Pondok Pasantren Putera Al Falah Banjarbaru berdasarkan keunikan-keunikan yang dimiliki pesantren tersebut. Hal ini dapat ditunjukkan beberapa penomena yang menarik yang menjadi keunikan pesantren tersebut, yaitu :

1.      Manajemen kurikulum dan pembelajaran, serta pembinaan santri di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru termasuk baik, hal ini terlihat dari kebanyakan alumni pesantren yang telah berkiprah di tengah-tengah masyarakat baik di instansi pemerintahan maupun swasta.

2.      Jumlah santri yang mendaftar setiap tahun stabil bahkan kian tahun kian bertambah, ini dibuktikan data yang penulis dapatkan dari Panitian Penerimaan Santri Baru bahwa rata-rata santri yang diterima setiap tahunnya berkisar 400 orang, karena keterbatasan asrama dan ruang kelas, namun pada dua tahun terkhir santri yang diterima sekitar 500 orang karena ada penambahan ruang kelas dan pemaksimalan asrama. 

3.      Alumni Pondok Pesantren Al Falah Putera siap berkompetisi, para alumninya ada yang melanjutkan keperguruan tinggi dalam dan luar negeri dan mereka tidak kalah bersaing, bahkan beberapa alumninya sekarang telah menyelesaikan pendidikan S 3.

4.      Lebih 50 persen ustadz-ustadz di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru sudah berpendidikan S 1 yang berasal dari Perguruan Tinggi dalam dan luar negeri bahkan beberapa orang diantaranya sudah menyelesaikan pendidikan S 2 dan sebagian lagi masih dalam proses pendidian S 2. 

 

Dengan pertimbangan yang telah disebutkan di atas dan segenap keunikan yang dimiliki oleh Pondok Pesantren Putera Al  Falah inilah yang mendorong peneliti untuk mengkaji, mengamati, dan meneliti hal ihwal di pesantren tersebut terkait dengan manajemen pembelajaran dan bagaimana pengelolaannya. Peneliti sangat berharap hasil penelitian ini kelak dapat bermanfaat khususnya bagi peneliti pribadi dan umumnya pada semua lembaga pendidikan.

 

B.      FOKUS PENELITIAN

 

Berdasarkan uraian di atas, maka fokus penelitian secara umum dari penelitian ini adalah bagaimana manajemen pendidikan di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru. Adapun secara khusus penelitian ini difokuskan kepada beberapa pertanyaan sebagai berikut : 

1.    Bagaimana perencanaan pembelajaran di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru ? 

2.    Bagaimana  pelaksanaan pembelajaran di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru? 

3.    Bagaimana evaluasi pembelajaran di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru ? 

C.    TUJUAN PENELITIAN 

Sejalan dengan fokus masalah di atas, tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk menjelaskan atau mendeskripsikan manajemen pendidikan di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru. Sedangkan tujuan khusus yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

 

1.      Untuk mendapatkan gambaran tentang proses perencanaan pembelajaran di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru. 

2.      Untuk mendapatkan gambaran konprehensif tentang pelaksanaan pembelajaran di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru.

3.      Untuk mendapatkan gambaran tentang evaluasi pembelajaran di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru.

D.    PENDEKATAN PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang atau prilaku yang dapat diamati. Bodgan dan Tylor, menyatakan bahwa “metode kualitatif adalah prosedur-prosedur riset yang menghasilkan data kualitatif yang berisi ungkapan atau catatan orang itu sendiri atau tingkah laku mereka yang observasi”[7]. 

Metode kualitatif dipilih agar dapat diketahui data secara holistik dengan cara peneliti membaur dengan objek secara langsung. Dengan hal tersebut diharapkan peneliti dapat mengetahui seluk beluk yang ada di lapangan dan menuliskannya dalam data hasil penelitian sekaligus menganalisisnya. Dengan metode kualitatif, peneliti tidak akan disibukkan untuk menghitung angka-angka dan menginstrumenkannya seperti dalam penelitian kuantitatif dan lebih pada kedalaman hasil dan kualitas penelitian.[8] Deskriptif, berarti peneltian ini tujuan utamanya adalah menerangkan apa adanya atau apa yang ada pada saat diteliti. Induktif, berarti dari fenomena satu tempat dan tempat yang lain lalu digeneralisirkan menjadi fenomena umum.

E.     SUMBER DATA

 

Data dalam penelitian ini adalah keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan bukti dan bahan dasar kajian. Sedangkan sumber data dalam penelitian ini adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Subjek penelitian adalah sumber utama data penelitian yaitu yang memiliki data mengenai variabel-variabel yang diteliti. Sebagaimana menurut Moleong sumber data utama adalah kata-kata atau tindakan, selebihnya adalah data dokumen lain dan data tambahan.[9] 

Adapun sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data skunder. Data primer bersumber dari Pimpinan Pondok Pesantren, Koordinator setiap jenjang pendidikan yang di selenggarakan di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru, yaitu Koordinator Tajhizi, Koordinator Wustha dan Koodinator Ulya, pengurus bidang kurikulum, pengurus bidang kesantrian, Kepala TU, serta ustadz dan santri di Pondok Pesantren Al Falah Putera. Sedangkan data skunder besumber dari dokumen-dokumen dan data-data yang diperlukan dalam penelitian ini. 

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. 

F.     TEMUAN HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 

1.        PERENCANAAN PEMBELAJARAN DI PONDOK PESANTREN AL FALAH PUTERA BANJARBARU.

Perencanaan pembelajaran di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru telah dilaksanakan setiap menjelang awal tahun ajaran baru. Pimpinan pondok bersama-sama dengan koordinator setiap jenjang pendidikan, pengelola, ustadz dan karyawan merencanakan hal-hal yang berhubungan dengan pembelajaran untuk satu tahuan kedepan, yaitu dengan; (1) melibatkan staf-staf yaitu koordinator setiap jenjang pendidikan, pengelola, para ustadz dan pihak terkait. (2) mensosialisasikan hasil perencanaan kepada warga pesantren dan pihak terkait. (3) dalam merencanakan selalu menekankan prinsip-prinsip fleksibilitas, parktis dan kontinuitas. (4) melaksanakan kontrol dan revisi terus menerus untuk perencanaan rencana di tahun-tahun berikutnya. (5) selalu mengedepankan prinsip konsisten dan kemandirian.  

Perencanaan yang dilakukan oleh ustadz sebelum pembelajaran juga sudah terlaksana, meliputi; (1) penggunaan kurikulum yang telah dikembangkan oleh pondok secara mandiri yaitu berupa kitab-kitab klasik yang disusun berdasarkan pola tingkatan,  (2) membuat batasan-batasan yang akan diajarkan selama satu tahun yang dibagi ke dalam dua semester dengan alokasi waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran, tanpa di kembangkan ke dalam bentuk RPP (3) memahami bahan yang akan diajarkan, (4) penyediaan bahan ajar berupa (kutubut turats) kitab-kitab klasik yang telah ditetapkan oleh para pendahulu, yaitu pendiri pondok, namun terdapat juga sebagian kitab-kitab yang digunakan di pesantren-pesantren modern saat ini, seperti kitab Nahwu Wadhih, al-Arabiyahtun Nasi’in, al-Muhawaratul Haditsiyah dan lain-lain. 

Perencanaan kebutuhan belajar santri merupakan tugas yang harus dilakukan oleh pengasuh, pengurus pondok beserta dengan anggota-anggotanya. Adapun hal-hal yang harus dilakukan diantaranya adalah merencanakan manajemen pembelajaran santri. Dalam hal ini, berdasarkan pengetahuan penulis di pondok pesantren sudah ada perencanaan kebutuhan santri, karena ini adalah suatu hal yang penting dalam pendidikan pesantren. Rencana pelaksanaan adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan manajemen pelaksanaan kegiatan guna mencapai apa yang menjadi harapan. Rencana pelaksanaan pada hakekatnya merupakan perencanaan jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan apa yang akan dilakukan. Dengan demikian rencana pelaksanaan upaya untuk memperkirakan tindakan yang akan dilakukan dalam tindakan.[10] 

Sementara penelitian yang relevan, Hartati (2013) dalam hasil penelitiannya mengatakan perencanaan pembelajaran di SMA Negeri 1 Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan dilaksanakan kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan para guru dalam rapat menjelang tahun pelajaran baru pada setiap semester. Kegiatan perencanaan dilaksanakan karena terjadi permasalahan dalam mutu pembelajaran oleh guru SMA Negeri 1 Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan, sehingga lebih menunjang pembelajaran dan kurikulum. 

Adapun Usman (2009) dalam penelitiannya di SMA 1 Pangkajene menyebutkan bahwa setiap awal tahun ajaran baru, sebelum masuk pada semester ganjil dewan guru bersama kepala sekolah dan guru dan komite sekolah memanfaatkan waktu libur sekolah dengan mengadakan worksop dengan agenda pembahasan RAPBS untuk satu tahun, pembagian tugas guru, menyusun silabus pembelajaran, menyusun rencana pembelajaran, dan KKM, setiap mata pelajaran, hal ini dilakukan agar setiap guru memiliki kesiapan perangkat pembelajaran sebelum masuk waktu belajar. 

Perencanaan dilakukan di lembaga ini secara konsisten dari tahun ke tahun sejak dulu sampai sekarang tidak pernah berubah, dimana proses perencanaan dilaksanakan sebelum akhir tahun ajaran karena akhir tahun adalah laporan tuntas kemudian di awal tahun merupakan revisi dari perencanaan sebelumnya. Oleh karena itu menurut Effendi agar tidak terjadi lompatan yang dapat menimbulkan masalah baru maka perencanaan harus dibuat dengan berkesinambungan atau dengan azas kontinyuitas.[11] 

Kurikulum yang dikembangkan di pesantren ini sebagaimana terdapat dalam temuan penelitian ini adalah kurikulum yang bermuatan kitab-kitab klasik yang dikembangkan oleh pesantren secara mandiri, sebagaimana pendapat ahli mengatakan kitab kuning menjadi text books references dan kurikulum dalam sistem pendidikan di pesantren. Sama halnya dengan kurikulum sistem konvensional pondok pesantren di Jawa pada umumnya, menggunakan kitab kuning atau kitab klasik (al-kutub al-qadimah) ‘ala ahl al-sunnah wa al-jama’ah.[12] 

Kitab-kitab yang harus dipelajari dari tingkatan Tajhizi (dasar), Wusta (menengah) dan Ulya (atas) disusun sedemikian rupa, mulai dari yang paling mudah, ringkas dan tidak terlalu rumit sampai kepada kitab yang cukup sulit untuk dipahami, tebal dan berjilid-jilid banyaknya. Sebagaimana penelitian yang relevan Widodo dkk. (2002) menegaskan bahwa kitab-kitab yang dipelajari di Pondok Pesantren Tebuireng pada tingkat dasar masih bersifat elementer dan relatif mudah dipahami. Misalnya, ‘Aqidatul al-Awwam (tauhid), Safinah an-Najah (fiqh), Washaya al-Abna (akhlak), dan Hidayat al-Shibyan (tajwid). Pada tingkat menengah kitab yang diajarjan yaitu: Matan Taqrib, Fath al-Qarib dan Minhaj al-Qawim (fiqh), Jawahir al-Kalamiyyah dan al-Din al-Islam (tauhid), Ta’lim al-Muta’allim (akhlak), ‘Imrithi dan Nahwu al-Wadhih (nahwu), al-Amtsilah al-Tashrifiyyah, Matan al-Bina dan Kaelani (sharaf) serta Tuhfah al-Athfal, Hidayah al-Mustafid, Musyid al-Wildan dan Syifa al-Rahman (tajwid). Pada tingkat atas kitab yang digunakan, yaitu: Jalalayn (tafsir), Mukhtar al-Hadits, al-Arba’in Nawawi, Bulugh al-Maram dan Jawahir al-Bukhari (hadits), Mihaj al-Mughits (musthalah hadits), Tuhfah al-Murid, Husun al-Hamidiyyah, ‘Aqidatul Islamiyyah dan Kifayah al-Awwam (tauhid), Kifayah al-Akhyar dan Fath al-Mu’in (fiqh), Waraqat al-Sulam (ushul fiqh), Alfiyyah Ibnu Malik, Mutammimah, Imrithi, Syahrawi dan al-Ilal (nahwu dan sharaf) serta Mihaj al-Abidin dan Irsyad al-Ibad (tasawuf dan akhlak). 

Menurut Mubin dan Hidayat (2003) dalam penelitiannya pada tiga pesantren besar di Kalimantan Selatan yaitu Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih, Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai dan Darussalam Martapura mengatakan bahwa Pondok Pesantren Ibnul Amin menggunakan kurikulum sepenuhnya buatan pondok yang dikembangkan secara mandiri oleh pesantren, sementara Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah menggunakan kurikulum yang dekembangkan dengan 70% agama, dan 30% umum sehingga kurikulum dibagi kepada tiga kelompok mata pelajaran, yaitu kelompok mata pelajaran Agama, kelompok pelajaran bahasa, dan kelompok pelajaran umum. Adapun Pondok Pesantren Darussalam pada tingkatan Wustha dan Ulya putra dan putri menggunakan kurikulum sepenuhnya buatan pondok yang bermaterikan kitab-kitab kuning. 

Terkait dengan strategi apa yang digunakan oleh para ustadz dalam kegiatan belajar mengajar, bagaimana teknis evaluasinya, dan apa saja media pembelajarannya, di pesantren ini belum dibuat secara tertulis. Namun demikian pada dasarnya guru-guru pesantren ini sebenarnya sudah melakukan persiapan mengajar, hanya saja tidak tertulis. Dengan  memfungsikan perencanaan pembelajaran dapat mendorong guru untuk lebih siap dalam melakukan kegiatan pembelajaran dengan perencanaan yang matang. Oleh karena itu, setiap akan melakukan pembelajaran, guru wajib memiliki persiapan, baik secara tertulis maupun tidak tertulis. 

Terhadap persiapan mengajar yang tidak tertulis, tentu sulit untuk dipelajari apalagi untuk dievaluasi. Sebaliknya persiapan mengajar yang tertulis dan selanjutnya disebut perencanaan pembelajaran akan lebih memudahkan guru untuk dijadikan sebagai guideline  pembelajaran di kelas yang sewaktu-waktu dapat dipelajari dan dievaluasi. Terlepas dari dua situasi ini dan apapun bentuk perencanaan mengajar yang dibuat, yang jelas perencanaan itu  amat penting bagi guru. Kalau tidak ada perencanaan, tidak hanya santri yang tidak akan terarah dalam proses pembelajaran tetapi guru juga tidak akan terkontrol, dan bisa salah arah dalam proses belajar yang dikembangkan pada santri. Tentu saja,  perencanaan tidak menjamin terjadinya kelas efektif, namun untuk menciptakan kelas efektif harus dimulai dengan perencanaan. 

Pada garis besar, perencanaan pembelajaran itu bertujuan untuk mengarahkan dan membimbing kegiatan guru dan siswa dalam proses pembelajaran seperti yang dikemukakan oleh Hernawan bahwa tujuan perencanaan bukan hanya penguasaan prinsip-prinsip fundamental tetapi juga mengembangkan sikap yang positif terhadap program pembeljaran, meneliti dan menentukan pemecahan masalah pembelajaran. Secara ideal tujuan perencanaan pembelajaran adalah menguasai sepenuhnya bahan dan materi ajar, metode dan penggunaan alat dan perlengkapan pembelajaran, menyampaikan kurikulum atas dasar bahasan dan mengelola alokassi waktu yang tersedia dan membelajarkan siswa sesuai yang diprogramkan.[13] 

Sedangkan menurut Alben Ambarita menyebutkan perencanaan pembelajaran adalah tugas penting guru untuk mempertimbangkan tentang siapa mengerjakan apa, kapan dilaksanakan dan bagaimana melaksanakannya, perintah pembelajaran yang terjadi, di mana kejadian terjadi, perkiraan waktu yang digunakan untuk pembelajaran, dan sumber-sumber serta bahan yang dibutuhkan.[14]

Perencanaan pembelajaran yang disusun oleh pendidik dituangkan dalam perangkat pembelajaran, yaitu silabi dan rencana pembelajaran. Silabi adalah garis besar, ringkasan, ikhtisar, atau garis-garis besar program pembelajaran. Rencana pembelajaran yaitu perencanaan pembelajaran yang dijadikan pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi. 

Menurut Mulyasa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai satu atau lebih kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan dalam silabus.[15] 

Perencanaan pembelajaran pada dasarnya tidak hanya dengan pemahaman bahan ajar atau penguasan materi yang akan diajarkan, tetapi lebih dari itu perencanaan pembelajaran adalah berupaya menjadikan pembelajaran bisa berjalan efektif dan efisien. Perencanaan program semester yang dibuat oleh guru memiliki manfaat yang sangat banyak baik bagi guru maupun peserta didik. Menurut Wiranataputra dan Udin S. mengatakan bahwa guru dapat mempersiapkan diri secara terencana sehingga dapat menyelesaikan program pengajaran yang akan disampaikan dengan tepat waktu. Guru dapat mengontrol dan medeteksi penyelesaian seluruh program bahan pengajaran yang harus diajarkan dalam semester yang bersangkutan.[16] 

Dengan demikian perencanaan pembalajaran di pesantren ini sudah menjadi ciri khas dan telah dilakukan serta akan dilakukan secara terus menerus mengingat bahwa setip perencanaan selalu dievaluasi. Sekalipun dalam perjalannya pasti menemui kendala, disamping pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan, pola kehidupan serta kebutuhan pendidikan itu sendiri. Kemudian hasil dari evaluasi itu senantiasa menjadi dasar pemikiran untuk perbaikan penyusunan perencanaan pembelajaran di masa yang akan datang. yaitu dengan: (1) melibatkan staf-staf yaitu koordinator setiap jenjang pendidikan, pengelola, para ustadz dan pihak terkait. (2) mensosialisasikan hasil perencanaan kepada warga pesantren dan pihak terkait. (3) dalam merencanakan selalu menekankan prinsip-prinsip fleksibilitas, parktis dan kontinyuitas. (4) melaksanakan kontrol dan revisi terus menerus untuk perencanaan rencana di tahun-tahun berikutnya. (5) selalu mengedepankan prinsip konsisten dan kemandirian. 

Perencanaan yang dilakukan oleh ustadz sebelum pembelajaran juga sudah terlaksana, meliputi; (1) penggunaan kurikulum yang telah dikembangkan oleh pondok secara mandiri yaitu berupa kitab-kitab klasik yang disusun berdasarkan pola tingkatan,  (2) membuat batasan-batasan yang akan diajarkan selama satu tahun yang dibagi kedalam dua semester dengan alokasi waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran, tanpa di kembangkan ke dalam bentuk RPP (3) memahami bahan yang akan diajarkan, (4) penyediaan bahan ajar berupa (kutubut turats) kitab-kitab klasik yang telah ditetapkan oleh para pendahulu, yaitu pendiri pondok, namun terdapat juga sebagian kitab-kitab yang digunakan di pesantren-pesantren modern saat ini, seperti kitab Nahwu Wadhih, al-Arabiyahtun Nasi’in, al-Muhawaratul Haditsiyah dan lain-lain. 

2.        PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DI PONDOK PESANTREN AL FALAH PUTERA BANJARBARU. 

Pelaksanaan pembelajaran di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru dilakukan dalam semua kegiatan santri mulai dari bangun tidur sampai akan tidur lagi, baik ketika berada di dalam kelas maupun ketika berada di luar kelas secara umum berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan. Pembelajaran di dalam kelas dilaksanakan sesuai dengan batasan yang telah ditentukan dimulai dengan kegiatan pendahuluan, dilanjutkan dengan kegiatan inti dan diakhiri dengan kegiatan penutup dengan menggunakan metode yang bervariatif, namun tetap tidak meninggalkan metode bandongan, sorogan dan hapalan, pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan tingkat kemampuan para santrinya, bahan ajar yang digunakan berupa (kutubut turats) kitab-kitab klasik yang telah ditetapkan oleh para pendahulu, yaitu pendiri pondok, namun terdapat juga sebagian kitab-kitab yang digunakan di pesantren-pesantren modern saat ini. 

Pelaksanaan pembelajaran di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru dilakukan dalam semua kegiatan santri mulai dari bangun tidur sampai akan tidur lagi, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Walaupun yang tercatat dalam kurikulum hanya susunan kitab-kitab yang dipelajari dari tingkat Tajhizi, Wustha dan Ulya yang disusun sedemikian rupa sesuai dengan tingkat kemampuan santri, tetapi dalam pelaksanaan pembelajaran di pesantren ini semua kegiatan santri dari bangun tidur sampai dengan akan tidur lagi adalah kumpulan kurikulum yang tidak tercatat. Dalam ungkapan yang lain, dua puluh empat jam kehidupan santri-sehari merupakan proses dan representasi pelaksanaan pembelajaran. Pembelajaran di pesantren tidak selesai dengan usainya pengajian kitab kuning. Ketika para santri istirahat, kemudian makan, shalat, tidur dan bangun tengah malam; semua kegiatan ini adalah bagian intrinsik dari pendidikan pesantren. 

Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Mulyasa bahwa kegiatan-kegiatan kurikuler tidak terbatas dalam ruang kelas, melainkan mencakup juga kegiatan di luar kelas. Pandangan modern menjelaskan, bahwa antara kegiatan intrakurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler tidak ada pemisahan yang jelas. Semua kegiatan yang bertujuan memberikan pengalaman pendidikan kepada siswa tercakup dalam kurikulum.[17]   

Ahmad Tafsir menjelaskan, untuk memberi pengalaman belajar pendidikan agama ada empat tempat penyelenggaraan pendidikan agama, yaitu di rumah, di sekolah, di tempat ibadah dan di masyarakat. Dari keempat tempat penyelenggaraan pendidikan agama tersebut yang paling efektif adalah di pesantren karena pesantren mampu melaksanakan tugas-tugas dari empat tempat tersebut bahkan frekuensi waktunya lebih lama di pesantren dengan lingkungan yang leligius.[18] 

Menurut Mochtar yang membedakan pesantren dengan lembaga-lembaga sekolah atau madrasah adalah pengembangan pola akademiknya dengan pendekatan masyarakat belajar (learning society) dan model masyarakat Islami (sub-kultur).  Pesantren sebagai masyarakat-belajar ditandai oleh sistem pendidikan 24 jam dimana para santri terlibat dalam proses belajar secara terus menerus. Pengajaran yang dilakukan dengan cara sorogan, bandungan, mutala’ah dan madras dilanjutkan dengan proses internalisasi nilai-nilai di bawah bimbingan sang kiai. Sementara pesantren sebagai masyarakat Islami merupakan penjabaran lebih jauh dari sekedar masyarakat-belajar. Pesantren membawakan pandangan keduniaan tersendiri yang ditampilkan dalam prilaku sehari-hari dengan simbol-simbol khusus. Pilar-pilar utama dari model kemasyarakatan Islami (pesantren) bertumpu pada kiai dan sumber-sumber utama pengetahuannya (al Kutub al Qadimah).[19] 

Terkait dengan pembelajaran yang dilakukan oleh para ustadz ketika melaksanakan pembelajaran di dalam kelas dilaksanakan sesuai dengan batasan yang telah ditentukan ketika merencanakan pembelajaran,  dimulai dengan kegiatan pendahuluan, dilanjutkan dengan kegiatan inti dan diakhiri dengan kegiatan penutup dengan menggunakan metode yang bervariatif, namun tetap tidak meninggalkan metode bandongan, sorogan dan hapalan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rusman bahwa dalam kegiatan pendahuluan guru terlebih dahulu mempersiapkan peserta didik secara fisik dan psikis, kemudian mengajukkan pre test dari materi sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari. Kemudian menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dan menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan silabus.[20] Membuka pelajaran adalah perbuatan guru untuk menciptakan suasana siap mental dan menimbulkan perhatian siswa agar terpusat kepada yang akan dipelajari. 

Secara umum pelaksanaan pembelajaran dimulai dengam memberi salam/tegur sapa, mengabsensi santri, membaca al-Fatihah, do’a, mengaktifkan santri dengan menunjuk salah seorang santri untuk membaca terlebih dahulu materi kitab kuning yang akan dipelajari, mengaktifkan pikiran santri memahami kitab kuning dengan mencatat setiap penjelasan yang diberikan guru, berdiskusi dengan melibatkan seluruh santri baik mengenai materi pelajaran ataupun unsur nahwu dan sharafnya, memelihara ketertiban santri, menggunakan ekspresi liasa, tulisan, isyarat dan gerakan badan, menunjukkan sikap ramah, terbuka, penuh pengertian dan sabar terhadap santri, menjalin hubungan akrab dengan santri, memberikan nasehat, menyimpulkan pelajaran yang telah dilaksanakan. 

Berkenaan dengan hal ini Rusman mengatakan, kegiatan inti, dalam proses pembelajaran meliputi eksplorasi dan konfirmasi. Dalam kegiatan eksplorasi yaitu mengaktifkan peserta didik, menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media dan sumber belajar lain, memfasilitasi terjadinya interaksi antara guru dengan peserta didik, antara peserta didik dengan lingkungan, maupun dengan sumber belajar lain. Kegiatan elaborasi meliputi pembiasaan peserta didik dalam membaca dan menulis, memberikan tugas, diskusi, memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisa, berkesempatan dalam berkelompok, berkopetisi dan hal-hal yang dapat menumbuhkan kemandirian, serta bertanggung jawab pada diri peserta didik. Dalam kegiatan konfirmasi adalah memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk merenungi hasil tugas yang telah diselesaikannya dan membantu menyelesaikan masalah dan memberi motivasi pada peserta didik yang kurang atau masih pasif.[21] 

Terkait dengan metode yang digunakan sejak awal berdirinya Pondok Pesantren Al Falah hingga saat ini metode pengajaran bandongan dan sorogan masih tetap digunakan. Namun dalam pelaksanaannya telah terjadi penyesuaian. Muatan pendidikan pesantren secara formal terkait dengan al-kutub al-qadimah (kitab-kitab klasik), tetapi secara praktis bergantung pada penafsiran dan pengembangan sang kiai. Metode pengajaran di pesantren adalah bandongan atau wetonan dan sorogan. Bandongan dilakukan dengan cara kiai/ustadz membacakan teks-teks kitab yang berbahasa Arab, menterjemahkannya ke dalam bahasa lokal, dan sekaligus menjelaskan maksud yang terkandung dalam kitab tersebut. Metode ini dilakukan dalam rangka memenuhi kopetensi kognitif santri dan memperluas referensi keilmuan bagi mereka. Memang dalam bandongan ini, hampir tidak pernah terjadi diskusi antara kiai/ustadz dengan santrinya, tetapi teknik ini tidaklah berdiri sendiri, melainkan diimbangi dengan sorogan dan teknik lain yang melibatkan santri lebih aktif. 

Meskipun sorogan dan bandongan ini dianggap statis, bukan berarti tidak menerima inovasi. Metode ini sebenarnya konsekuensi dari layanan yang ingin diberikan kepada santri. Berbagai usaha dewasa ini dalam berinovasi dilakukan justru mengarah kepada layanan secara individual kepada anak didik. Metode sorogan justru mengutamakan kematangan dan perhatian serta kecakapan seseorang.  

Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Dardak (2010) mengatakan pelaksanaan pembelajaran di pondok pesantren al-Ikhlas merupakan kegiatan utama di lembaga ini. Dalam pelaksanaan pembelajaran setiap ustadz/guru diberi kebebasan memilih strategi dan metode pembelajaran yang paling efektif sesuai dengan karaktristik kitab-kitab yang dipelajari santri, serta kondisi nyata sumber daya manusia yang tersedia. 

Sementara itu Ahmari (2013) dalam penelitiannya menyebutkan pelaksanaan pembelajaran kitab tanpa harakat atau kitab kuning di pondok pesantren Manbaul Ulum masih memiliki corak tradisional, yakni menggunakan ilmu-ilmu khas pesantren yang terdapat dalam kitab kuning dan tidak memasukkan ilmu-ilmu umum dalam kurikulum pendidikannya. Sedangkan metode pembelajaran kitab yang dipakai di dalam kelas Madrasah Diniyah meliputi metode bandongan, metode hapalan, dan metode evaluasi. Sedangkan metode yang dipakai dalam pengajian umum adalah metode bandongan, dikarenakan jumlah santri yang sangat besar. Dalam proses berlangsungnya, sebelum dan sesudah pembelajaran kitab didahului dengan do’a-do’a yang ditujukan kepada nabi Muhammad Saw, orang tua, guru, dan pengarang kitab, sehingga ilmu yang dipelajari membawa berkah. 

Sementara Prasetyo (2010) dalam penelitiannya menyebutkan pembelajaran di Pondok Pesantren Bahrul Muhtadin menggunakan sistem belajar mengajar tradisional dengan pengajian kitab secara bandongan atau sorogan dan menggunakan panduan kitab-kitab kuning salaf karya ulama terdahulu baik dalam bidang tauhid, fiqih, maupun tasawuf. Pelasanaan pembelajaran di Pondok Pesantren Bahrul Muhtadin dimulai sejak pagi hari hingga malam hari, secara garis besar kegiatan tersebut dilaksanakan berdasarkan programnya. Unsur-unsur pelaksanaan pembelajaran meliputi beberapa asfek antara lain: waktu pelaksanaan, kurikulum pembelajaran, metode pembelajaran, dan evaluasi. Adapun dalam rangka pembentukan kepribadian santri pesantren Bahrul Muhtadin menerapkan beberapa hal, antara lain: pemahaman santri terhadap materi yang diajarkan, pembiasaan hidup bermoral, dan penerapan disiplin melalui tata tertib. 

3.        EVALUASI PEMBELAJARAN DI PONDOK PESANTREN AL FALAH PUTERA BANJARBARU. 

Evaluasi pembelajaran di Pondok Pesantren Al Falah  terlaksana dengan baik yaitu sebagai tolok ukur keberhasilan proses pembelajaran yang dilakukan secar konprehensif, beragam, rutin dan berkesinambungan dengan prinsip kejujuran, objektif dan konsisten, tegas dalam reward dan punishment  serta melibatkan semua unsur dan dilaporkan secara periodik, yang ditandai dengan adanya laporan prestasi hasil belajar santri, laporan keaktifan santri, dan laporan kehadiran ustadz. 

Evaluasi yang dilakukan oleh ustadz di pesantren ini adalah bertujuan untuk mengetahui tingkat penguasaan santri terhadap materi yang telah diberikan, untuk seleksi, yaitu memilih dan menentukan santri yang sesuai dengan jenis pendidikan tertentu, untuk menentukan kenaikan kelas dan untuk menempatkan santri sesuai dengan potensi yang dimilikinya serta untuk mengadakan pelaporan kepada orang tua santri atau wali santri. 

Aspek yang diujikan pada santri adalah sudah mengarah kepada aspek pengetahuan yaitu berupa tes tertulis terhadap materi kitab-kitab yang telah dipelajari, aspek sikap dinilai dalam keseharian santri baik ketika berada di dalam kelas maupun ketika berada di luar kelas dan aspek keterampilan dalam bentuk ujian membaca kitab baik ketika telah akan selesai pembelajaran di dalam kelas ataupun ketika ujian umum berlangsung.

Sebagaimana Arifin mengatakan bahwa untuk memperoleh hasil evaluasi yang lebih baik, maka kegiatan evaluasi harus bertitik tolak dari prinsip-prinsip umum sebagai berikut: 1) Kontinuitas, evaluasi tidak boleh dilakukan secara insidental karena pembelajaran itu sendiri adalah suatu proses yang kontinu. 2) Komprehensif, dalam melakukan evaluasi terhadap suatu objek, guru harus mengambil objek itu sebagai bahan evaluasi. 3) Adil dan objektif, dalam melakukan evaluasi, guru harus berlaku adil tanpa pilih kasih. 4) Kooperatif, dalam kegitan evaluasi guru harus bekerja sama dengan semua pihak. 5) Praktis, mudah digunakan.[22]   

Selanjutnya dikatakan oleh Langgulung bahwa evaluasi memiliki dua fungsi penting bagi pendidikan dan pengajaran, yaitu: (1) sebagai sarana untuk mengetahui tingkat pencapaian atas tujuan pendidikan, baik pada tingkat institusional maupun skala nasional, (2) sebagai alat penguatan atau peneguhan terhadap sesuatu yang telah dianggap tepat dalam bidang pendidikan.[23] 

Sementara Arifin mengatakan bahwa penilaian adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan untuk mengumpulkan informasi tentang proses dan hasil belajar peserta didik dalam rangka membuat keputusan-keputusan berdasarkan kriteria dan pertimbangan tertentu. Keputusan yang dimaksud adalah keputusan tentang peserta didik, seperti nilai yang akan diberikan atau juga keputusan tentang kenaikan kelas dan kelulusan.[24] 

Proses penilaian harus didasarkan atas data dan fakta. Karena penilaian yang benar didasarkan kepada data dan fakta akan memperikan sumbangan informasi bagi kemajuan organisasi. Sebaliknya penilaian yang tidak didasarkan kepada data dan fakta yang valid reliable akan menjerumuskan individu atau kelompok-kelompok organisasi pada fase penurunan atau kehancuran.[25] 

Terkait dengan evaluasi yang dilakukan oleh ustadz  di pesantren ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penguasaan santri terhadap materi yang telah diberikan, untuk seleksi, yaitu memilih dan menentukan santri yang sesuai dengan jenis pendidikan tertentu, untuk menentukan kenaikan kelas dan untuk menempatkan santri sesuai dengan potensi yang dimilikinya serta untuk mengadakan pelaporan kepada orang tua santri atau wali santri. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Arifin bahwa evaluasi bertujuan untuk; (1) mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi yang telah diberikan. (2) Untuk mengetahui kecakapan, motivasi, bakat, minat, dan sikap peserta didik terhadap program pembelajaran. (3) Untuk mengetahui tingkat kemajuan dan kesesuaian hasil belajar peserta didik dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan. (4) Untuk mendiagnosis keunggulan dan kelemahan peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Keunggulan peserta didik dapat dijadikan dasar bagi guru untuk memberikan pembinaan dan pengembangan lebih lanjut, sedangkan kelemahannya dapat dijadikan acuan untuk memberikan bantuan atau bimbingan. (5) Untuk seleksi, yaitu memilih dan menentukan peserta didik yang sesuai dengan jenis pendidikan tertentu. (6) Untuk menentukan kenaikan kelas. (7) Untuk menempatkan peserta didik sesuai dengan potensi yang dimilikinya.[26] 

Selanjutnya Arifin mengatakan bahwa semua hasil evaluasi harus dilaporkan kepada berbagai pihak yang berkepentingan, seperti orang tua/wali, kepala sekolah, pengawas pemerintah, mitra sekolah, dan peserta didik itu sendiri sebagai bentuk akuntabilitas publik. Hal ini dimaksud agar proses pembelajaran, termasuk proses dan hasil  belajar yang dicapai peserta didik serta perkembangannya dapat diketahui oleh berbagai pihak, sehingga orang tua/wali (misalnya) dapat menentukan sikap yang objektif dan mengambil langkah-langkah yang pasti sebagai tindak lanjut dari laporan tersebut.[27] 

Adapun penilaian dalam proses pembelajaran menurut Kunandar memiliki fungsi formatif, fungsi sumatif, fungsi diagnostik dan fungsi seleksi. Di pesantren ini penilaian proses pembelajaran berdasarkan fungsi formatif penilaian terlaksana dengan memberikan umpan balik terhadap ustadz sebagai dasar untuk memperbaiki proses pembelajaran dan mengadakan program remedial bagi siswa yang belum menguasai sepenuhnya materi pelajaran. Demikian pula fungsi sumatif dan seleksi dalam hal ini penilaian kemajuan hasil belajar santri dalam mata pelajaran tertentu, sebagai bahan untuk memberikan laporan kepada berbagai pihak, penentuan kenaikan kelas dan penentuan lulus tidaknya santri tersebut. Fungsi seleksi dan penempatan di pesantren ini untuk menempatkan peserta didik dalam program pembelajaran tertentu, seperti program bahasa, tahfizh, amtsilati dan bidang lainnya sebelumnya akan diadakan seleksi sebelum penempatan dilakukan. Sedangkan fungsi diagnostik belum terlaksana sepenuhnya karena belum adanya tenaga yang mampu menangani untuk memahami latar belakang psikologis, fisik dan lingkungan santri yang mengalami kesulitan belajar.[28] 

Sebagaimana yang dikatakan oleh Arifin dalam melakukan evaluasi terhadap objek, guru harus mengambil seluruh objek evaluasi. Misalanya, jika objek evaluasi itu adalah peserta didik, maka seluruh aspek kebribadian peserta didik itu harus dievaluasi, baik yang menyangkut kognitif, afektif maupun psikomotorik.[29] Aspek yang diujikan pada santri adalah sudah mengarah kepada aspek pengetahuan yaitu berupa tes tertulis terhadap materi kitab-kitab yang telah dipelajari, aspek sikap dinilai dalam keseharian santri baik ketika berada di dalam kelas maupun ketika berada di luar kelas dan aspek keterampilan dalam bentuk ujian membaca kitab baik ketika telah akan selesai pembelajaran di dalam kelas ataupun ketika ujian umum berlangsung. 

Sebagaimana menurut Howard Kingsleyang dikutiNana Sudjanmembagtigmacam hasil belajar, yaitu : (a). Keterampilan dakebiasaan; (b). Pengetahuan dan pengertian; (c). Sikadacita-cita menuruahllaiyaitu Bloom dalam bukunyNana Sudjanamembuat klasifikasi hasibelajar menjadi 3 dimensyaitu ranah kognitifafektif dapsikomotorik.[30] 

Terkait dengan pelaporan kehadiran ustadz dan dan santri di pesantren ini sudah terlaksana dengan baik karena pelaporan dilakukan secara barkala dan rutin setiap bulannya. Pelaporan merupakan salah satu kegiatan organisasi, subtansi yang dilaporkan harus menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Dengan pelaporan ini akan diketahui hasil-hasil yang dicapai, kendala yang muncul, dan penyimpangan yang terjadi. 

Mengenai penghargaan yang diberikan kepada santri, pemberian penghargaan ini biasanya diberikan pada setiap akhir tahun pelajaran atau  setelah pelaksanaan kenaikan kelas. Santri yang berprestasi dalam bidang akademik terutama yang menempati peringkat ke satu sampai ketiga pada setiap kelas dalam setiap rombongan belajarnya akan diberikan hadiah dan penghargaan. Selain penghargaan tersebut biasanya setiap akhir tahun pelajaran juga akan diadakan pemilihan santri teladan.  Sekalipun hadiah yang diberikan tidak seberapa tetapi dapat menjadikan santri yang mendapat penghargaan merasa bangga dengan penghargaan yang telah diberikan kepadanya. Menurut Arifin tujuan umum penilaian berbasis kelas adalah untuk memberikan penghargaan terhadap pencapaian hasil belajar peserta didik dan memperbaiki program dan kegiatan pembelajaran.[31]

G.    Kesimpulan

 Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru tentang manajemen pembelajaran di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru, mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 

1.        Perencanaan pembelajaran di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru telah dilaksanakan setiap menjelang awal tahun ajaran baru. Pimpinan pondok bersama-sama dengan koordinator setiap jenjang pendidikan, pengelola, ustadz dan karyawan merencanakan hal-hal yang berhubungan dengan pembelajaran untuk satu tahuan ke depan, yaitu dengan; (1) melibatkan staf-staf yaitu koordinator setiap jenjang pendidikan, pengelola, para ustadz dan pihak terkait. (2) mensosialisasikan hasil perencanaan kepada warga pesantren dan pihak terkait. (3) dalam merencanakan selalu menekankan prinsip-prinsip fleksibilitas, parktis dan kontinyuitas. (4) melaksanakan kontrol dan revisi terus menerus untuk perencanaan rencana di tahun-tahun berikutnya. (5) selalu mengedepankan prinsip konsisten dan kemandirian.  Perencanaan yang dilakukan oleh ustadz sebelum pembelajaran juga sudah terlaksana, meliputi; (1) penggunaan kurikulum yang telah dikembangkan oleh pondok secara mandiri yaitu berupa kitab-kitab klasik yang disusun berdasarkan pola tingkatan,  (2) membuat batasan-batasan yang akan diajarkan selama satu tahun yang dibagi kedalam dua semester dengan alokasi waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran, tanpa di kembangkan ke dalam bentuk RPP (3) memahami bahan yang akan diajarkan, (4) penyediaan bahan ajar berupa (kutubut turats) kitab-kitab klasik yang telah ditetapkan oleh para pendahulu, yaitu pendiri pondok, namun terdapat juga sebagian kitab-kitab yang digunakan di pesantren-pesantren modern saat ini, seperti kitab Nahwu Wadhih, al-Arabiyahtun Nasi’in, al-Muhawaratul Haditsiyah dan lain-lain.

 

2.        Pelaksanaan pembelajaran di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru dilakukan dalam semua kegiatan santri mulai dari bangun tidur sampai akan tidur lagi, baik ketika berada di dalam kelas maupun ketika berada di luar kelas secara umum berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan. Pembelajaran di dalam kelas dilaksanakan sesuai dengan batasan yang telah ditentukan dimulai dengan kegiatan pendahuluan, dilanjutkan dengan kegiatan inti dan diakhiri dengan kegiatan penutup dengan menggunakan metode yang bervariatif, namun tetap tidak meninggalkan metode bandongan, sorogan dan hapalan, pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan tingkat kemampuan para santrinya, bahan ajar yang digunakan berupa (kutubut turats) kitab-kitab klasik yang telah ditetapkan oleh para pendahulu, yaitu pendiri pondok, namun terdapat juga sebagian kitab-kitab yang digunakan di pesantren-pesantren modern saat ini.

 

3.        Evaluasi pembelajaran  di Pondok Pesantren Al Falah Putera  terlaksana dengan baik yaitu sebagai tolok ukur keberhasilan proses pembelajaran yang dilakukan secar konprehensif, beragam, rutin dan berkesinambungan dengan prinsip kejujuran, objektif dan konsisten, tegas dalam reward dan punishment  serta melibatkan semua unsur dan dilaporkan secara periodik, yang ditandai dengan adanya laporan prestasi hasil belajar santri, laporan keaktifan santri, dan laporan kehadiran ustadz. Evaluasi yang dilakukan oleh ustadz di pesantren ini adalah bertujuan untuk mengetahui tingkat penguasaan santri terhadap materi yang telah diberikan, untuk seleksi, yaitu memilih dan menentukan santri yang sesuai dengan jenis pendidikan tertentu, untuk menentukan kenaikan kelas dan untuk menempatkan santri sesuai dengan potensi yang dimilikinya serta untuk mengadakan pelaporan kepada orang tua santri atau wali santri. Aspek yang diujikan pada santri adalah aspek pengetahuan yaitu berupa tes tertulis terhadap materi kitab-kitab yang telah dipelajari, aspek sikap dinilai dalam keseharian santri baik ketika berada di dalam kelas maupun ketika berada di luar kelas dan aspek keterampilan dalam bentuk ujian membaca kitab baik ketika telah akan selesai pembelajaran di dalam kelas ataupun ketika ujian umum berlangsung.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Ahmad Tafsir.  Metodek Khusus Pendidikan Agama Islam. Bandung: Remaja Rosda Karya.

 

Alben Ambarita. Manajemen Pembelajaran. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2006.

 

 

 

Bogdan, L. Robert dan Sari Knoop Biklen. Qualitative Reseach For Education an Introduction to Theory and Method. Boston: Allyn & Bacon. 1982.

 

 

 

Bogdan, L. Robert dan Tylor Steven J.  Kualitatif Dasar-dasar Penelitian. Ed. Afandi, A. Khozin. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 1993.

 

 

 

Departemen Agama RI. Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah Pertumbuhan dan Perkembangannya. (Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam. 2003.

 

 

 

Efendi A.R. Dasar-dasar Manajemen Pendidikan untuk Peningkatan Kualitas Sekolah Dasar. Malang: IKIP. 1997.

 

 

 

Hasan Langgulung. Manusia dan Pendidikan. Jakarta: Husna Zikra. 1995.

 

Hernawan, H A dkk. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Upi Press, 2007.

 

 

 

Kunandar. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Perss. 2009.

 

MochtaEffendi, 1986, manajemen : suatu pendekatan Berdasarkan ajaran IslamJakartaPT. Bhatara Karya Aksa. 1986.

 

Moleong, Lexy. Metode Penelitian Kualitatif. (Bandung: Pemaja Rosdakarya. 2011.

 

 

 

Mulyasa, E. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2007.

 

 

 

Mulyasa, E. Manajemen Berbasis Sekolah; Konsep, Setrategi, dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2009

 

NanSudjana,Penilaian HasiBelajar MengajarBandung:  Remaj Rosdakarya, 2002.

 

Nijar Ali & Ibi Syatibi. Manajemen Pendidikan Islam; Ikhtiar menata kelembagaan Pendidikan Islam. Bekasi: Pustaka Isfahan. 2009.

 

Poerwadarminta, W.J.S.  Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN. Balai Pustaka, 1995.

 

 

 

Rusman. Model-model Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Press. 2010.

 

Suryusobroto, B. Proses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009.

 

 

 

Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa Sebuah Pendekatan Evaluatif. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996.

 

 

 

Udin S. Winataputra, (1997). Strategi Belajar Mengajar Modul 9-19. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Proyek Peningkatan Mutu Guru Kelas SD Setara D-II, 1997.

 

 

 

Winataputra, Udin S. (1997). Strategi Belajar Mengajar Modul 9-19. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Proyek Peningkatan Mutu Guru Kelas SD Setara D-II.

 

Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, Jakarta: Direkturat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, 2012.

 

Zainal Arifin. Evaluasi Pembelajaran; Prinsip, Teknik, Prosedur. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2011.

 



[1]  Penulis adalah dosen pada Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam  STAI Al Falah Banjarbaru dengan keahlian Ilmu Manajemen Pendidikan.

[2] Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa Sebuah Pendekatan Evaluatif. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada1996), h. 7.

[3] Poerwadarminta, W.J.S.  Kamus Umum Bahasa Indonesia. (Jakarta: PN. Balai Pustaka, 1995), h. 411.

[4] Suharsimi Arikunto, Op Cit, h. 8

[5] Udin S. Winataputra, (1997). Strategi Belajar Mengajar Modul 9-19. (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Proyek Peningkatan Mutu Guru Kelas SD Setara D-II, 1997), h. 8

 

[6] Suryusobroto, B. Proses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), h. 19.

 

[7] Bogdan, L. Robert dan Tylor Steven J.  Kualitatif Dasar-dasar Penelitian. Ed. Afandi, A. Khozin. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 1993), h. 30

[8] Bogdan, L. Robert dan Sari Knoop Biklen. Qualitative Reseach For Education an Introduction to Theory and Method. (Boston: Allyn & Bacon. 1982), h. 39

 

[9] Moleong, Lexy. Metode Penelitian Kualitatif. (Bandung: Pemaja Rosdakarya. 2011), h. 112

 

[10] Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), h. 212

[11] Efendi A.R. Dasar-dasar Manajemen Pendidikan untuk Peningkatan Kualitas Sekolah Dasar. (Malang: IKIP. 1997), h. 13

[12] Departemen Agama RI. Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah Pertumbuhan dan Perkembangannya. (Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam. 2003), h. 11

 

[13] Hernawan, H A dkk. Belajar dan Pembelajaran. (Bandung : Upi Press, 2007) h. 115

[14]Alben Ambarita. Manajemen Pembelajaran.( Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2006) h. 73

[15]Mulyasa, E. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2007), h. 187,184

[16] Winataputra, Udin S., 1997, Op. Cit., h. 235

[17] Mulyasa, E. Manajemen Berbasis Sekolah; Konsep, Setrategi, dan Implementasi. (Bandung: Remaja Rosdakarya. 2009), h. 10

[18] Ahmad Tafsir.  Metodek Khusus Pendidikan Agama Islam. (Bandung: Remaja Rosda Karya). 1997, h. 134

[19] MochtaEffendi, 1986, manajemen : suatu pendekatan Berdasarkan ajaran IslamJakartaPT. Bhatara Karya Aksa. 1986, h. 75-78

 

[20] Rusman. Model-model Pembelajaran. (Jakarta: Rajawali Press. 2010), h. 10

 

[21] Ibid.

[22] Zainal Arifin. Evaluasi Pembelajaran; Prinsip, Teknik, Prosedur. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2011, h. 30-31

[23] Hasan Langgulung. Manusia dan Pendidikan. Jakarta: Husna Zikra. 1995, h. 147

[24] Arifin, Op. Cit. h. 4

[25] Nijar Ali & Ibi Syatibi. Manajemen Pendidikan Islam; Ikhtiar menata kelembagaan Pendidikan Islam. (Bekasi: Pustaka Isfahan. 2009), h. 97

 

[26] Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, ( Jakarta: Direkturat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, 2012)  h. 23

[27] Zainal Arifin,  Op. Cit, h. 110

 

[28] Kunandar. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. (Jakarta: Rajawali Perss. 2009), h. 391

[29] Zainal Arifin, Op. Cit. h. 31

 

[30] NanSudjana,Penilaian HasiBelajar Mengajar(Bandun  Remaj Rosdakarya, 2002)hlm22

[31] Ibid., h. 182