PERANAN GURU AGAMA ISLAM DALAM MENANAMKAN NILAI ANTI KORUPSI PADA SISWA SMA

DI KOTA BANJARMASIN

 

                                   Oleh: H. Hilmi Mizani*

 

Abstrak

 

Fenomena korupsi yang terjadi di Indonesia sudah menjadi penyakit yang kronis dan sulit disembuhkan. Walaupun begitu banyak usaha yang dilakukan pemerintah hasilnya belum begitu maksimal. Salah satu lembaga yang cukup signifikan dalam rangka membentuk watak dan kepribadian adalah lembaga pendidikan. Institusi pendidikan diyakini sebagai tempat terbaik untuk menyebarkan dan menanamkan nilai-nilai anti korupsi. Murid yang akan menjadi tulang punggung bangsa di masa mendatang sejak dini harus diajar dan dididik untuk membenci serta menjauhi praktek korupsi. Bahkan lebih dari itu, diharapkan dapat turut aktif memeranginya.

Masalahnya adalah apakah penanaman nilai-nilai anti korupsi sudah dilakukan disekolah, khususnya oleh guru Pendidikan Agama Islam. Untuk itulah melalui penelitian ini diharapkan dapat mengungkap peran Guru Agama Islam dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi pada siswanya.

 

Kata kunci : Anti Korupsi, Pengetahuan dan Nilai. 

 

 

 

 

 

A.    Pendahuluan

 

Salah satu cita-cita kehidupan masyarakat Indonesia seperti yang tertuang dalam pembukaan UUD 45 adalah memajukan kesejahteraan umum, yang berarti terbentuknya masyarakat yang adil dan makmur sejahtera lahir dan batin. Terwujudnya cita-cita tersebut menuntut penyelenggara negara  untuk menyelenggarakan  pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi dan manipulasi. Karena bagaimanapun bila penyelengaraan pemerintah digerogoti oleh tindakan korupsi, kolusi dan manipulasi maka cita-cita untuk mencapai masyarakat sejahtera adil dan makmur mustahil dapat tercapai. Program pembangunan yang dibuat pemerintah tidak akan mencapai hasil maksimal, karena sebagian pembiayaan dikorupsi yang menyebabkan kualitas pelaksanaannya program pembangunan rendah.

Sementara itu bila kita perhatikan kondisi faktual bangsa Indonesia saat ini, maka kasus-kasus korupsi semakin menjadi-jadi dan terjadi dimana-mana, mulai dari  lembaga eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.  Korupsi sudah merambah  dari pejabat tinggi sampai pada aparatur pemerintah ditingkat desa. Karena itu tidak mengherankan bila peringkat Indonesia berada pada peringkat kedua negara terkorup di Asia.[1] Penomena korupsi yang terjadi di Indonesia sudah menjadi penyakit yang kronis dan sulit disembuhkan. Korupsi telah menjadi sesuatu yang sistemik: sudah menjadi suatu sistem yang menyatu dengan penyelenggaraan pemerintahan negara dan bahkan dikatakan bahwa pemerintahan justru akan hancur apabila korupsi diberantas. Struktur pemerintahan yang dibangun dengan latar belakang korupsi akan menjadi struktur yang korup dan akan hancur manakala korupsi tersebut dihilangkan.[2]

Upaya pemberantasan korupsi yang selama ini telah banyak dilakukan, baik pada era Orde Lama dan Orde Baru, maupun pada era reformasi,  serta era baru pemerintahan saat ini, ternyata belum menunjukkan hasil seperti yang kita harapkan. Sebenarnya, pemberantasan KKN telah menjadi agenda utama gerakan reformasi yang bergulir sejak tahun 1998. Dan telah ada beberapa perangkat hukum yang mengatur soal pemberantasan KKN dan menciptakan aparat pemerintah yang bersih dan bertanggungjawab yang ditetapkan sejak tahun 1998 antara lain adalah Tap MPR No. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas KKN; Undang-undang No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas KKN; dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Walaupun begitu banyak usaha yang dilakukan pemerintah   hasilnya belum begitu maksimal. Boleh jadi faktor utama menjamurnya korupsi di Indonesia terletak pada mental korupsi yang sudah berurat dan berakar. Oleh karena itu upaya memberantas korupsi memerlukan upaya yang sangat mendasar yaitu dimulai dari pembentukan watak atau sikap anti untuk berbuat korupsi.

Salah satu lembaga yang cukup signifikan dalam rangka membentuk watak dan kepribadian adalah lembaga pendidikan. Institusi pendidikan diyakini sebagai tempat terbaik untuk menyebarkan dan menanamkan nilai-nilai antikorupsi. Murid atau mahasiswa yang akan menjadi tulang punggung bangsa di masa mendatang sejak dini harus diajar dan dididik untuk membenci serta menjauhi praktek korupsi. Bahkan lebih dari itu, diharapkan dapat turut aktif memeranginya. Dengan cara melakukan pembinaan pada aspek mental, spiritual dan moral. Karena, orientasi pendidikan nasional kita mengarahkan manusia Indonesia untuk menjadi insan yang beriman dan bertakwa serta berakhlak mulia.

Di lembaga pendidikan guru memegang peranan penting, karena guru merupakan ujung tombak yang langsung berhadapan dengan murid dalam rangka melaksanakan proses belajar mengajar. Dalam tugasnya sebagai pendidik, guru adalah orang yang meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup.[3] Apalagi sebagai guru agama yang mengajarkan materi keagamaan yang didalamnya syarat dengan nilai-nilai hidup. Masalahnya apakah nilai-nilai anti korupsi yang hidup dimasyarakat sudah terakomodasi dalam kurikulum di sekolah. Atau apakah guru selama ini sudah memasukkan nilai-nilai anti korupsi pada saat guru mengembangkan kurikulum, terutama pada saat guru menyusun silabus, membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), atau bahkan guru mungkin sudah membuat program pengayaan dengan memberikan tugas yang isi terkait dengan penanaman sikap anti korupsi. Tetapi bisa juga sebaliknya guru malah tidak peka terhadap masalah korupsi sehingga materi yang diajarkan jarang atau bahkan tidak menyentuh sama sekali dalam rangka menanamkan nilai-nilai anti korupsi.

 

B. Rumusan Masalah

 

Adapun masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini bagaimana peranan guru  agama  dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi pada siswa SMA di Kota Banjarmasin. Sebagaimana diketahui bahwa penanaman nilai-nilai kepada anak didik dapat berlangsung baik di dalam kelas, di luar kelas tapi masih dalam lingkungan sekolah, ataupun di masyarakat. Oleh karena itu penelitian ini berusaha untuk mengungkap peran guru dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi baik pada saat guru mengajar, guru berada dilingkungan sekolah, maupun program-program yang dibuat guru dimana anak belajar dilingkungan masyarakat.

 

C.  Metode Penelitian

 

1.      Metode dan Pendekatan

Fokus penelitian ini adalah bagaimana peranan guru  agama dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi pada siswa SMA di Kota Banjarmasin, baik pada saat guru mengajar, guru berada   dilingkungan sekolah, maupun program-program yang dibuat guru dimana anak belajar dilingkungan masyarakat. 

       Untuk itu diperlukan adanya suatu pengungkapan informasi empiris melalui pengumpulan data lapangan yang diperoleh melalui sumber-sumber terkait yaitu guru agama SMA  di Kota Banjarmasin, murid-murid SMA di Kota Banjarmasin, dan Kepala SMA di Kota Banjarmasin.. Sehubungan dengan itu, penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dalam pengumpulan data dan analisis data serta penyimpulannya.

2.      Data dan Sumber Data

      Data yang akan digali dalam penelitian ini adalah data yang berkaitan dengan  peranan guru  agama  dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi pada siswa SMA di Kota Banjarmasin. Adapun sumber data adalah dokumen perangkat pembelajaran, dokumen biografi guru Agama SMA, guru-guru agama SMA, murid-murid SMA dan Kepala SMA di Kota Banjarmasin.

3.      Teknik Pengumpulan Data dan Analisis Data

Adapun teknik yang akan digunakan dalam menggali data adalah wawancara, dan dokumenter. Wawancara akan dilakukan secara mendalam dengan subjek penelitian. Wawancara ditujukan untuk menggali data tentang peranan guru agama dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi pada siswa SMA yang akan dilakukan baik kepada guru Agama Islam SMAN se Kota Banjarmasin yang berjumlah 37 orang, dan kepada siswa-siswa SMA Negeri di Banjarmasin.

 Data yang akan digali lewat dokomentasi adalah data biografi guru, program sekolah, program perencanaan pengajaran yang dibuat guru, buku pegangan guru, maupun program kegiatan yang dilakukan siswa atas penugasan guru agama. Data yang telah terkumpul diorganisasikan dan diurut sedemikian rupa kedalam pola, kategori dan suatu uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat ditafsirkan dan diketahui maknanya.

 

D. Laporan Hasil Penelitian

 

1.    Latar Belakang Obyek  

Di Kota Banjarmasin terdapat 13 SMA Negeri yang tersebar di lima kecamatan yang ada di Kota Banjarmasin. Dari 13 SMA Negeri tersebut ada 29 orang guru agama Islam. Masing-masing sekolah jumlah guru Agama Islam bervariasi, ada yang 4 orang dalam satu SMA, ada juga yang 3 orang dan bahkan ada yang hanya 1 orang. Jumlah guru pada masing-masing SMA tergantung banyaknya rombongan belajar.

Ke 29 guru Pendidikan Agama Islam tersebut mengajar kepada  6.783  siswa SMA Negeri se Kota Banjarmasin. Masing-masing SMA memiliki jumlah siswa dan jumlah rombongan belajar yang beragam. Yang terbanyak adalah siswa SMA Negeri 2 Banjarmasin yang berjumlah 801 orang dan yang paling sedikit adalah pada SMA Negeri 12 yaitu berjumlah 252 orang. Demikian pula jumlah rombongan belajar yang terbesar adalah pada SMA Negeri 2 yaitu berjumlah 24  rombongan belajar dan paling sedikit pada SMA Negeri 12 dengan 8 rombongan belajar.

 

 

 

 

2.    Peran Guru Agama Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Anti Korupsi pada Siswa SMA se Kota Banjarmasin

 

Untuk menguraikan secara detil peranan guru agama Islam dalam menanamkan nilai nilai anti korupsi kepadasiswa SMA se Kota Banjarmasin, maka pembahasan ini akan dibagi menjadi 3 bagian yaitu:

 

a.       Penanaman  Nilai-Nilai Anti Korupsi pada Siswa SMA se Kota Banjarmasin pada Saat Pelaksanaan Pembelajaran

 

Untuk melaksanakan pembelajaran, maka guru harus membuat perangkat program pengajaran yang akan dijadikan pedoman dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Berdasarkan hasil  dokumen yang ada pada guru diketahui bahwa semua Guru SMA Negeri se Kota Banjarmasin telah membuat program pengajaran. Adapun perangkat program pengajaran yang dibuat guru meliputi: Silabus Pembelajaran, Program Tahunan, Program Semester, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) . Secara rinci penjelasan tentang perangkat pembelajaran yang disusun oleh guru Agama Islam SMAN se Kota Banjarmasin akan disajikan sebagaimana dibawah ini:

1)        Silabus Pembelajaran

         Berdasarkan dokumen yang dimiliki oleh guru Agama Islam di Kota Banjarmasin didapati bahwa seluruh silabus baik isinya maupun formatnya sama. Hal ini terjadi karena silabus telah disusun bersama-sama oleh guru Agama Islam SMA se Kota Banjarmasin pada saat kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (MGMP PAI).

 

 Silabus  dibagi menjadi tiga kelas, yaitu kelas X, XI dan XII. Untuk kelas X terdiri dari 12 Standar Kompetensi yang dijabarkan kedalam 34 Kompetensi Dasar. Kelas XI ada 10 Standar kompetensi yang dijabarkan dalam 35 Kompetensi Dasar dan  kelas XII ada 10 Standar kompetensi yang dijabarkan dalam 31 Kompetensi Dasar. Masing-masing Kompetensi Dasar di jabarkan lagi dalam indikator-indikator.

Bila dilihat standar kompetensi yang ada maka dapat dikelompokkan menjadi:

1)      Memahami ayat Al Qur'an tentang manusia dan tugasnya sebagai khalifah di bumi, ikhlas dalam beribadah, demokrasi, kompetisi dan kebaikan, perintah menjaga kelestarian lingkungan hidup, dan anjuran bertoleransi dan tentang etos kerja, perkembangan IPTEK.

2)      Meningkatkan keimanan kepada Allah melalui pemahaman sifat-sifat-Nya dalam Asmaul Husna. keimanan kepada Malaikat, kepada Rasul-rasul Allah dan kepada Hari Akhir.

3)      Membiasakan prilaku terpuji seperti bersifat husnuzzan, adab dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu atau menerima tamu, tobat dan raja`, adil, rida,  amal saleh, dan menghargai karya orang lain, persatuan dan kerukunan.

4)      Menghindari prilaku tercela yaitu  hasad, riya, aniaya dan diskriminasi, dosa besar, israf, tabzir, gibah, dan fitnah.

5)      Memahami sumber hukum Islam, hukum taklifi dan hikmah ibadah, hukum Islam tentang zakat, haji dan wakaf, hukum Islam tentang mu’amalah yaitu asas-asas transaksi ekonomi dalam Islam, hukum Islam tentang pengurusan jenazah dan memahami khotbah, tabliq, dan dakwah. Memahami hukum Islam tentang hukum keluarga yaitu hukum perkawinan, dalam Islam, hikmah perkawinan, ketentuan perkawinan menurut perundang-undangan di Indonesia, dan hukum Islam tentang waris.

 

6)      Memahami keteladanan Rasulullah dalam membina umat periode Makkah, membina ummat periode Madinah, perkembangan Islam pada abad pertengahan (1250-1800), perkembangan Islam pada masa modern (1800 M-sekarang), perkembangan Islam di Indonesia, dan memahami perkembangan Islam di dunia.

 

b.      Program Tahunan

Semua guru Agama Islam di SMA Negeri se Kota Banjarmasin telah menyusun Program tahunan. Adapun format penyusunan komponennya relatif sama, yaitu  standar kompetensi, kompetensi dasar, waktu belajar efektif dan keterangan. Baik Standar kompetensi maupun Kompetensi dasar serta alokasi waktu diambil berdasarkan silabus yang telah ditetapkan pada saat MGMP PAI. Program tahunan disusun oleh masing-masing guru.

 

c.       Program Semester

Sebagai bagian dari perangkat pembelajaran ternyata semua guru Agama Islam pada SMA Negeri se Kota Banjarmasin telah menyusun program semester. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan guru dalam mengatur alokasi waktu dalam menyampaikan pembelajaran sehingga seluruh silabus dapat tersampaikan  tepat waktu.

 

d.      Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

    Semua guru Agama SMA Negeri di Kota Banjarmasin telah menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Penyusunan dilakukan masing-masing guru. Oleh karena itu terdapat perbedaan dalam format penyusunannya.

 

 

Seluruh perangkat pembelajaran di atas merupakan acuan utama pada saat guru melaksanakan pembelajaran.  Dari hasil wawancara  ditemukan fakta bahwa target pencapaian kurikulum berkisar antara 90-100 %. Itu artinya hampir seluruh bahan pembelajaran yang harus disampaikan guru Pendidikan Agama Islam pada SMA se Kota Banjarmasin telah disampaikan guru. Demikian pula langkah-langkah pembelajaran telah dilaksanakan sesuai dengan RPP yang telah disusun. Guru mengajar fokus pada pokok materi yang telah direncanakan dan tidak menyinggung pada aspek-aspek lain termasuk yang terkait dengan materi anti korupsi. Walaupun dalam pembelajaran ada materi yang berisi nilai-nilai anti korupsi tetapi berdasarkan RPP yang dibuat oleh guru Agama Islam di SMA se Kota Banjarmasin diketahui bahwa mereka tidak pernah memfokuskan pada kasus korupsi di Indonesia. Hanya saja terkadang memberikan contoh itupun diluar skenario pembelajaran.

Bila kita perhatikan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan Indikator yang ada dalam Silabus, serta RPP yang dibuat oleh guru maka secara eksplisit tidak mencantumkan nilai-nilai anti korupsi, tetapi bila kita cermati uraian materi seperti yang terdapat dalam buku pegangan guru Agama Islam, maka nilai-nilai anti korupsi sudah termuat di dalamnya. Ada tiga jenis buku sumber yang digunakan guru Agama Islam di Kota Banjarmasin yaitu:

1)      Syamsuri, Pendidikan Agama Islam untuk SMA (Kelas X,XI,XII), Penerbit Erlangga, Jakarta , tahun 2007.

2)      Thoifuri dan Suci Rahayu, Pendidikan Agama Islam Untuk SMA Kelas X,XI,XII, Penerbit Ganeca Exact, Jakarta, tahun 2007.

3)      Khuslan Haludhi dan Abdurrohim Sa'id, Integrasi Budi Pekerti dalam Pendidikan Agama Islam Untuk Kelas X,XI, dan XII Sekolah Menengah Atas, Penerbit Tiga Serangkai, Solo, Tahun 2008.

 

Setelah dilakukan penelaahan terhadap kandungan ketiga buku tersebut maka nilai-nilai anti korupsi yang didapati untuk masing-masing buku tersebut adalah:

 

1. Untuk sumber bahan dari buku Syamsuri, yang berjudul Pendidikan Agama Islam untuk SMA (Kelas X,XI,XII), maka nilai-nilai anti korupsi yang terkandung adalah:

a.       Berbuat adil. Berbuat adil terdapat dalam kompetensi: 

1)        Menampilkan prilaku yang mencerminkan 10 sifat Allah dalam Asmaul Husna yang diajarkan pada kelas X SMA. Salah satu dari 10 sifat dari Asmaul Husna adalah berprilaku adil.

2)        Menampilkan contoh prilaku adil yang diajarkan di kelas XII SMA.

Dalam buku Pegangan Guru Agama SMA disebutkan bahwa: pengertian adil menurut ilmu akhlak adalah: Meletakkan sesuatu pada tempatnya, menerima hak tanpa lebih dan memberikan hak orang lain tanpa curang, memberi hak setiap yang berhak secara lengkap, tidak melebih dan tidak mengurangi, antara sesama yang berhak dalam keadaan yang sama dan menghukum orang jahat atau melanggar hukum sesuai dengan kesalahan dan pelanggarannya.

b.      Malu berbuat dosa karena seluruh pekerjaan akan diawasi oleh malaikat yang terdapat pada kompetensi dasar menampilkan contoh-contoh perilaku beriman Kepada Malaikat yang di ajarkan pada kelas X Semester II. Pada uraian tentang malu berbuat dosa maka terdapat contoh adalah korupsi. Selanjutnya diuraikan korupsi berarti berbuat dosa, karena melakukan kecurangan, mengambil sesuatu yang bukan haknya. Kalau semua orang percaya bahwa apa yang dilakukannya selalu diawasi dan dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid dan nanti akan dipertanggung jawabkan ke hadirat Allah SWT, maka dimanapun ia berada dan kapanpun waktunya maka seseorang akan terhindar dari melakukan tindakan korupsi.

c.       Berprilaku giat dan rajin bekerja mencari rezeki yang halal yang terdapat dalam kompetensi dasar menunjukkan contoh-contoh prilaku beriman kepada Rasul Allah SWT.

d.      Niat baik dan ikhlas karena Allah, sehingga terhindar dari segala bentuk penipuan, kecurangan, dan penyelewengan. Materi tersebut  terdapat dalam Kompetensi Dasar mampu menjelaskan asas-asas transaksi ekonomi dalam Islam yang diajarkan di kelas XI SMA.

e.       Membiasakan diri untuk bersikap dan berprilaku terpuji dan menjauhkan diri dari sikap dan prilaku tercela karena adanya keyakinan bahwa segala amal perbuatan akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Sikap ini merupakan  tujuan dari pembelajaran hikmah beriman kepada hari akhir dengan Kompetensi Dasarnya adalah menerapkan hikmah beriman pada  Hari Akhir.

      Sebagaimana yang terdapat dalam buku sumber yang digunakan guru yaitu Pendidikan Agama Islam untuk SMA Kelas XII yang disusun oleh Syamsuri bahwa hikmah beriman kepada hari akhir ada 3 yaitu:

1)        Memperkuat keyakinan bahwa Allah SWT MahaKuasa dan MahaAdil. Allah SWT berkuasa menghancurkan alam semesta dengan segala isinya pada peristiwa kiamat kubra. Allah SWT juga mengadili dengan seadil-adilnya amal masing-masing manusia ketika di dunia pada Yaumul Hisab kelak.(Lihat Q.S. Al Mu’min, 40:17).

 

 

 

2)        Memberi dorongan untuk membiasakan diri dengan sikap prilaku terpuji (akhlakul-karimah) dan menjauhkan diri dari sikap serta prilaku tercela (akhlakul-mazmumah). Hal ini karena adanya keyakinan bahwa segala amal perbuatan akan dipertanggung jawabkan kelak di akhirat.

 

2. Untuk sumber bahan dari buku Thoifuri dan Suci Rahayu, Pendidikan Agama Islam Untuk SMA ( Kelas X,XI,XII), maka nilai-nilai anti korupsi yang terkandung adalah:

a.       Sifat Adil seperti yang terdapat dalam Asma’ul Husna. Dalam  menguraikan  nama Allah Al’Adlu dijelaskan bahwa: meneladani sifaf adil Allah dengan cara kita berbuat adil kepada sesama manusia, baik orang Islam maupun non muslim.

b.      Mempertanggungjawabkan amal diakhirat kelak. Nilai tersebut juga terdapat dalam Asma’ul Husna yaitu pada nama Allah Al-Hisab (Maha Menghitung). Dalam menguraikan Al-Hisab dijelaskan bahwa:

Dalam penciptaan alam semesta beserta segala isinya semuanya berdasar perhitungan Allah yang teliti dan tepat, dimana segala sesuatu tercipta sesuai dengan kadarnya masing-masing. Demikian pula terhadap amal perbuatan manusia selama hidup di dunia. Baik atau buruknya amal perbuatan sesorang akan mendapat balasan se adil-adilnya di akhirat kelak. Meneladani Al-Hisab berarti kita harus mem perhitungkan segala kemungkinan dan risiko yang muncul dari setiap tindakan kita.

c.       Malu untuk mengerjakan kejahatan dan malu meninggalkan kebaikan. Nilai ini terdapat pada bahasan Sikap Husnuzzan kepada Allah yang merupakan uraian dari standar kompetensi membiasakan perilaku husnuzzan dalam kehidupan sehari hari. Selengkapnya dalam uraian tersebut disebutkan bahwa: seorang mukmin yakin betul bahwa segala tingkah lakunya dilihat Allah swt, baik yang terbuka maupun yang tersembunyi. Rasa malu kepada Allah mencegah seseorang berbuat maksiat.

d.      Merasa selalu diawasi. Nilai ini terdapat dalam Kompetensi Dasar menjelaskan tanda-tanda beriman kepada Malaikat. Di dalam bahasan Fungsi iman kepada Malaikat disebutkan bahwa: "segala perbuatan manusia dicatat malaikat Rakib dan Atid. Malaikat memperoleh amanat Allah sesuai dengan tugasnya masing-masing. Tentang tugas malaikat Rakib dan Atid terdapat dalam firman Allah swt dalam Surah Al-Infitar: 10-11

إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ (١) وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ (٢)

Artinya:   “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (disisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaan itu)."

 

      Kandungan ayat ini mengatakan manusia tidak akan lepas dari pengawasan malaikat Rakib dan Atid, kapanpun dan dimanapun. Mereka senantiasa mencatat perbuatan manusia. Perbuatan baik dicatat Rakib dan perbuatan jahat dicatat oleh Atid.

e.       Bersikap jujur. Nilai ini terdapat dalam bahasan fungsi Iman kepada Rasul dalam Standar kompetensi meningkatkan keimanan kepada rasul-rasul Allah. Dalam uraian fungsi iman kepada Rasul Allah  disebutkan bahwa “menjadikan sikap kejujuran karena rasul adalah orang yang selalu jujur baik dalam hati, lisan, dan perbuatan. Kejujuran, keadilan dan pertanggung jawaban. Nilai-nilai ini terdapat dalam Standar Kompetensi menjelaskan azas-azas transaksi ekonomi dalam Islam.

3.      Untuk sumber bahan dari buku Khuslan Haludi dan Abdurrohim Sa'id, Integrasi Budi Pekerti Dalam Pendidikan Pendidikan Agama Islam Untuk SMA ( Kelas X,XI,XII), maka nilai-nilai anti korupsi yang terkandung adalah:

a.         Berbuat harus dapat dipertanggung jawabkan. Nilai ini terdapat dalam Standar Kompetensi: menampilkan perilaku beriman kepada 10 sifat Allah yang terdapat dalam Asma'ul Husna. Dalam uraian tentang Hikmah Beriman Kepada Allah swt disebutkan:

1)   Kita akan menyadari bahwav diri kita pasti akan mati dan akan diminta pertanggung jawaban atas segala amal perbuatan yang kita lakukan. Oleh karena itu kita senantiasa berhati-hati dalam bertindak.

2)   Kita akan merasa bahwa diri kita senantiasa dilihat oleh Allah swt. Jika kita melakukan perbuatan yang buruk, Allah pasti mengetahui sekalipun tidak ada orang lain melihatnya. Dengan demikian, kita memiliki perasaan malu ketika berbuat salah.

b.         Merasa selalu diawasi. Nilai ini terdapat dalam Kompetensi Dasar menjelaskan tanda-tanda beriman kepada Malaikat. Di dalam macam-macam Malaikat disebutkan bahwa ada 10 Malaikat yang wajib diimani diantaranya: Malaikat Rakib dan Atid. Dua malaikat tersebut mempunyai tugas menuliskan amal pekerjaan manusia sehari-hari. Pekerjaan baik dicatat oleh malaikat  Rakib yang ada di sebelah kanan manusia dan amal buruk dicatat oleh malaikat Atid yang berada disebelah kiri manusia.

 

c.         Mengontrol diri dalam berbuat sesuatu. Nilai ini terdapat dapat Standar Kompetensi: menerapkan hikmah beriman kepada Hari Akhir. Dalam uraian tentang Hikmah Beriman Kepada Hari Akhir terdapat 4 hikmah. Dua diantaranya terkait dengan nilai-nilai anti korupsi yaitu:

1)      Pendorong untuk beramal saleh

Iman kepada hari akhir menjadi pendorong paling kuat bagi orang mukmin untuk mengerjakan perbuatan baik dan menjauhi larangan Allah. Kepercayaan pada hari akhir ini juga menjadi menjadi sumber moral bagi kehidupan manusia di dunia. Kepercayaan kepada hari akhir akan menimbulkan kesadaran bagi seorang muslim untuk selalu bertindak lurus di atas garis-garis Islam dan tidak mau berbelok darinya.     

2)      Bertindak dengan penuh tanggung jawab

 Orang yang beriman kepada hari akhir akan lebih bertanggung jawab dalam bertindak. Ia akan lebih berhati-hati serta penuh perhitungan. Hal ini disebabkan semua perbuatannya benar-benar didasarkan atas panggilan Allah SWT, dan untuk mencari rida-Nya. Selain itu ia sadar bahwa semua perbuatan manusia akan dimintai pertanggung jawaban. Tidak ada satu perbuatan yang lepas dari pertanggungjawaban.

 

2. Penanaman Nilai-nilai Anti Korupsi pada Siswa SMA               Se Kota Banjarmasin di Luar Pelaksanaan Pembelajaran

 

Proses penanaman nilai-nilai kehidupan di sekolah bukan hanya dilakukan pada saat pelaksanaan proses belajar mengajar, tetapi ia dapat terjadi dilingkungan sekolah, pada kegiatan ektra kurikuler, maupun penugasan rumah yang diberikan guru. Berdasarkan hasil  wawancara  dengan guru Agama SMA Negeri di Kota Banjarmasin diketahui bahwa guru Agama Islam banyak dilibatkan dalam kegiatan sekolah seperti menjadi pembina upacara pada apel pagi senin, mengisi acara ceramah pada pesantren ramadhan, memberi ceramah pada acara peringatan hari-hari besar Islam, memberi materi pada kegiatan peramuka, membina kelompok studi Islam. Dalam kontek kegiatan ko kurikuler, guru agama Islam sering memberi penugasan dalam bentuk membuat  laporan kegiatan shalat ju m'at, kegiatan shalat  hari Raya 'Idul Fitri dan 'Idul Adha, membuat laporan ceramah malam ramadhan. Adapun topik pada saat mem berikan ceramah agama pada kegiatan sekolah diatas adalah : Iman Kepada Allah, Etos Kerja, Hikmah bulan Ramadhan, Berbuat Baik pada orang tua, Sifat-sifat terpuji dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, Santun Kepada kaum yang lemah, Tobat dan Raja', Jujur dan adil,  Zakat, haji dan umrah, wakap, hewan qurban, Jual beli, Riba, shalat berjamaah, Hijrah Nabi Muhammad SAW., Masalah halal dan haram, Sopan santun dalam bersosialisasi.

Guru Agama Islam SMAN di Kota Banjarmasin juga telah berperan dalam mengawasi pelaksanaan tata tertib sekolah. Apalagi beberapa diantara guru agama juga ditunjuk sebagai Wakil Kepala SMAN bidang kesiswaan yang salah satu tugasnya adalah mengawasi pelaksanaan peraturan sekolah untuk siswa. Ada isi peraturan/tata tertib siswa yang berkaitan dengan penananam nilai-nilai anti korupsi adalah yaitu: larangan mengambil barang milik orang lain dan berurusan dengan pihak yang berwajib karena melakukan kejahatan. Kedua aturan tersebut bila dilanggar akan mendapat sanksi yang berat yaitu dikembalikan pada orang tua/ atau  pindah ke sekolah lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

E.       Analisis Hasil Penelitian

 

Korupsi secara harfiah berarti jahat atau busuk. Jadi tindak pidana korupsi berarti suatu delik akibat perbuatan buruk, busuk, jahat, rusak atau suap.[4] Sedangkan berdasarkan Undang-Undang nomor 31 Tahun 1999 dan Undang-Undang nomor 20 Tahun 2001, maka Tindak Pidana Korupsi diantaranya secara melawan hukum memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korupsi yang dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara (pasal 2 UU nomor 31 tahun 1999) dan dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi menyalahgunakan wewenang, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara (pasal 3 UU nomor 31 tahun 1999). Dari pengertian dan isi UU di atas maka nilai-nilai anti korupsi adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan sikap anti terhadap perbuatan perbuatan buruk, busuk, jahat, rusak atau suap yang bersifat merugikan keuangan atau perekonomian negara.

 Bila kita kaitkan dengan hasil penelitian seperti diuraikan pada pembahasan terdahulu maka nampaknya nilai-nilai anti korupsi tidak masuk menjadi agenda yang harus ditanamkan oleh guru. Hal ini nampak terlihat dari Standar Kompetensi, Kompetensi dasar, dan indikator pencapaian hasil belajar yang termuat dalam silabus yang disusun guru. Berdasarkan silabus dan RPP yang disusun guru tidak ada satu  kompetensi dasarpun yang secara eksplisit memasukkan nilai-nilai anti korupsi. Nilai-nilai anti korupsi hanya terlihat implisit pada buku sumber yang dimiliki guru.

Sebagai guru yang profesional, maka guru harus mengajarkan mata pelajaran sesuai dengan perangkat pembelajaran karena mulai dari Program Tahunan, Program Semester, Silabus dan RPP harus menjadi acuan guru pada saat mengajar di kelas. Oleh karena itu sesuai dengan hasil wawancara dengan guru maka seluruh perangkat pembelajaran sudah dilaksanakan  dengan target pencapaian kurikulum rata-rata 90-100 persen.

Bila kita perhatikan baik pada Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator maupun uraian pada beberapa buku sumber bahan PAI maka nilai-nilai anti korupsi yang di ajarkan oleh guru Agama Islam SMAN se Kota Banjarmasin terdiri:

a.       Berbuat adil yaitu memberi hak setiap yang berhak secara lengkap, tidak melebih dan tidak mengurangi,

b.      Malu berbuat dosa karena seluruh pekerjaan akan diawasi oleh malaikat,

c.       Berprilaku giat dan rajin bekerja mencari rezeki yang halal,

d.      Niat baik dan ikhlas karena Allah, sehingga terhindar dari segala bentuk penipuan, kecurangan, dan penyelewengan,

e.       Membiasakan diri untuk bersikap dan berprilaku terpuji dan menjauhkan diri dari sikap dan prilaku tercela karena adanya keyakinan bahwa segala amal perbuatan akan dipertanggung jawabkan kelak di akhirat.

f.       Sifat Adil seperti yang terdapat dalam Asma’ul Husna.

g.      Malu untuk mengerjakan kejahatan dan malu meninggalkan kebaikan.

h.      Merasa selalu diawasi.

i.        Mempertanggung jawabkan amal di akhirat kelak.

j.        Bersikap jujur.

k.      Kejujuran, keadilan dan pertanggung jawaban.

l.        Berbuat harus dapat dipertanggung jawabkan.

m.    Merasa selalu diawasi

n.      Mengontrol diri dalam berbuat sesuatu.

 

 

Sedangkan dalam kegiatan Guru Agama Islam di luar proses belajar mengajar seperti: menjadi pembina upacara, penceramah dalam kegiatan keagamaan, pemberian tugas rumah sedikit sekali isi materi yang disampaikan terkait penanaman nilai-nilai anti korupsi. Dari 13 topik yang ditemukan dari hasil angket dengan siswa hanya ada 2 topik yang terkait dengan penanaman  nilai anti korupsi yaitu: Jujur dan adil dan masalah halal dan haram.

Dari uraian di atas dapatlah dikatakan bahwa misi untuk menanamkan nilai-nilai anti korupsi belum ada pada wawasan guru Agama Islam di kota Banjarmasin. Memang nilai-nilai anti korupsi sudah di ajarkan guru, tetapi nilai-nilai itu  belum dimaksudkan khusus untuk menanamkan anti korupsi pada siswa. Ia hanya merupakan sisipan dari nilai-nilai lain yang di ajarkan. Hal ini nampak terlihat dari semua  Kompetensi Dasar yang dikembangkan oleh pemerintah belum ada satupun yang secara eksplisit menyebutkan tentang penanaman nilai-nilai anti korupsi. Bahkan bila kita perhatikan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran Agama Islam di SMA terdapat beberapa yang menurut penulis tidak lebih penting dari penanaman nilai-nilai anti korupsi. Misalnya Kompetensi Dasar: Memahami ayat-ayat al Qur'an tentang Demokrasi (Kelas X SMA), memahami ayat-ayat Al Qur'an tentang perintah menjaga kelestarian lingkungan hidup (Kelas XI SMA), dan memahami ayat-ayat al Qur'an tentang pengembangan IPTEK.

Ketiga kompetensi dasar di atas memang cukup penting, tetapi bila dibandingkan dengan penanaman nilai-nilai anti korupsi, maka penanaman nilai-nilai anti korupsi jauh lebih penting. Hal ini disebabkan pada fakta kondisi meraja lelanya korupsi di Indonesia. Walaupun berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah, namun wabah korupsi semakin menjadi-jadi. Korupsi sudah merambah dari pejabat tinggi sampai pada aparatur pemerintah ditingkat desa. Karena itu tidak mengherankan bila peringkat Indonesia berada pada peringkat ke dua negara terkorup di Asia. (Muhammad Ma’ruf, 2007:/17;09:36/1533 hit)

Walaupun sudah banyak upaya yang dilakukan untuk memberantas korupsi, tapi karena masih lemahnya moralitas, tradisi atau budaya disiplin, dan kepatuhan pada hukum dari penyelenggara negara termasuk penegak hukumnya dan masyarakat, dan juga, selama hukum kita belum dapat benar-benar melindungi semua orang secara adil, selama hukum masih bisa dibelokkan untuk kepentingan yang berkuasa, atau kelompoknya, atau yang mampu dan bersedia membayar, maka reformasi nampaknya akan berjalan timpang dan sulit untuk mewujudkan good governance yang kita cita-citakan.

Karena itu, disaat institusi lain tidak berdaya melakukan perlawanan terhadap budaya korupsi, maka institusi pendidikan harus dijadikan sebagai benteng terakhir tempat menyebarkan nilai-nilai antikorupsi, yaitu nilai-nilai kejujuran, menjalankan amanah, transparan dan bertanggung jawab. Pendidikan  harus dijadikan sebagai pilar paling depan untuk mencegah korupsi dengan menciptakan pemerintah yang bersih (clean government) serta kepemerintahan yang baik (good governance). (Irwan Parayitno, 2007).

Nilai-nilai anti korupsi seharusnya masuk dalam kurikulum sekolah secara eksplisit dengan mencantumkan kompetensi dasar siswa memahami pentingnya memiliki nilai-nilai anti korupsi, sekaligus siswa memahami jenis-jenis perbuatan korupsi menurut undang-undang  dan bagaimana pandangan Islam terhadap perbuatan korupsi.  

 

 

 

 

 

 

 

F.  Kesimpulan

 

            Berdasarkan hasil peneltian seperti yang telah diuraikan pada pembahasan terdahulu dapatlah disimpulkan bahwa peran guru Agama Islam dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi sudah ada walaupun masih sangat minim. Walaupun pada indikator pencapaian tujuan pembelajaran yang dikembangkan guru pada saat menyusun silabus secara ekplisit  tidak telihat secara khusus nilai-nilai anti korupsi yang ingin dicapai, tetapi nilai-nilai itu termuat dalam uraian-uraian materi atau contoh-contoh dari indikator yang dikembangkan. Adapun nilai-nilai anti korupsi  yang ditanamkan adalah:

1.      Malu berbuat dosa karena seluruh pekerjaan akan diawasi oleh malaikat yang terdapat pada standar kompetensi menampikan prilaku sebagai cerminan Iman Kepada Malaikat.

2.      Berprilaku giat dan rajin bekerja mencari rezeki yang halal yang terdapat dalam standar kompetensi menunjukkan contoh-contoh prilaku beriman kepada Rasul Allah SWT.

3.      Niat baik dan ikhlas karena Allah, jujur, adil dan dapat dipertanggung jawabkan, sehingga terhindar dari segala bentuk penipuan, kecurangan, dan penyelewengan yang terdapat dalam standar kompetensi  mampu menjelaskan asas-asas transaksi ekonomi dalam Islam.

4.      Membiasakan diri untuk bersikap dan berprilaku terpuji dan menjauhkan diri dari sikap dan prilaku tercela karena adanya keyakinan bahwa segala amal perbuatan akan dipertanggung jawabkan kelak di akhirat.

5.      Bersikap adil dengan kesadaran bahwa setiap orang mempertanggung jawabkan perbuatannya, memberikan hak kepada orang yang berhak, tidak melebihi dan tidak mengurangi. 

 

 

G. Saran-Saran

 

Berdasarkan kesimpulan di atas maka disarankan:

1.      Kepada Tim Pengembang Kurikulum di tingkat pusat supaya memeprbaharui kurikulum dengan memasukkan penanaman sikap anti koropsi kedalam standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, kalau perlu kompetensi itu terdapat pada semua tingkatan kelas di SMA mulai kelas X sampai kelas XII.

2.      Kepada guru PAI untuk lebih menekankan pada upaya menanamkan nilai-nilai anti korupsi, terutama pada  penyampaian pokok materi pelajaran yang terkait, dan memperkaya pembahasan dengan contoh nyata  dan akibat-akibat buruknya bagi bangsa dan negara. 


DAFTAR PUSTAKA

 

 

Darwan Prinst, Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002.

 

Departemen Pendidikan Nasional, Kurikulum 2004 SMA, Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian, Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam, Jakarta, 2003.

 

Irwan Prayitno, Pendidikan Anti Korupsi, 2007/17;09/532 hit.

 

Muh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Renika Cipta Jakarta, 1994.

 

Muhammad Ma’ruf, Korupsi di Indonesia Tertinggi Kedua di Asia, 2007:/17;09:36/ 1533 hit.

 

Undang-Undang nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

 



* H.Hilmi Mizani, Lektor Kepala pada Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Banjarmasin.

[1] Muhammad Ma’ruf, Korupsi di Indonesia Tertinggi Kedua di Asia, 2007:/17;09:36/ 1533 hit.

[2] Irwan Prayitno, Pendidikan Anti Korupsi, 2007/17;09/532 hit.

[3] Muh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Jakarta: Renika Cipta, 1994), h. 4.

[4] Darwan Prinst, Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2002), h. 1.