Munculnya pondok-pondok pesantren dimuka bumi ini adalah untuk membekali ilmu-ilmu agama bagi santri-santri yang mengikuti pendidikan didalamnya agar memiliki akhlak yang baik. Dalam sejarahnya, pesantren mampu mengejawantah dalam realitas masyarakat dan berhasil menyumbang tatanan nilai dan moral-etik yang kemudian dipegang masyarakat. Besarnya peran pesantren dalam membentuk tatanan budaya masyarakat memosisikannya sebagai basis segala aktivitas. Segala hal yang berkaitan dengan aspek agama, sosial, pendidikan, bahkan ekonomi dan politik bertumpu pada pesantren. Sumbangan pesantren yang begitu besar membuat masyarakat menyerahkan sebagian besar kepercayaannya pada pesantren. Tokoh-tokoh pesantren seperti kiyai, ustazd, santri adalah tumpuan masyarakat atas berbagai masalah keseharian yang dihadapi.

Masyarakat menaruh harapan besar terhadap Pondok Pesantren karena dilihat dari muatan kurikulum yang dimilikinya, Pondok Pesantren memiliki muatan agama dan pendidikan akhlaq yang lebih baik dari sekolah umum lainnya. Salah satu dari motivasi masyarakat menitipkan anaknya untuk mengikuti pendidikan di Pondok Pesantren adalah agar anaknya disamping memiliki ilmu pengetahuan umum tetapi yang lebih penting lagi adalah agar mereka memiliki pengetahuan agama dan memiliki akhlaq yang baik. Alasan ini merupakan pendorong utama bagi masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di Pondok Pesantren.

Sebagai lembaga pendidikan yang kental dengan nuansa relegius tentunya pesantren mempuyai tujuan yang sangat mulia yaitu mencetak insan-insan kamil. Hal ini tidak sekedar cita-cita namun terbukti dengan segala aktivitas yang dikembangkan oleh penyelenggara pesantren baik bersifat moril maupun materil yang ditumpahkan yang bertujuan demi tercapainya spritualitas yang tinggi, diantara aktivitas yang dilakukan ialah penanaman nilai-nilai keimanan dan ketawaan kepada sang Pencipta serta nilai-nilai akhlak dan suri tauladan. Aktivitas yang dikembangkan tersebut senada dengan apa yang diuraikan oleh al-Gazali yang mengatakan bahwa, proses pendidikan haruslah mengarah kepada pendekatan diri kepada Allah Swt. dan kesempurnaan insani, mengarahkan manusia untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sehingga tujuan pendidikan dirumuskan sebagai pendekatan diri kepada Allah Swt, yaitu untuk membentuk manusia yang shalih, yang mampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada Allah Swt. dan kewajiban-kewajibannya kepada manusia sebagai hambaNya.


 

Dalam perjalanan panjang sejarah pertumbuhannya pesantren adalah salah satu sistem pendidikan tertua di bumi pertiwi ini yang telah mengalami berbagai modifikasi seiring pergulatannya dengan kehidupan sosial masyarakat yang melingkupi keberadaannya. Modifikasi yang dilakukan sehubungan dengan tuntutan zaman demi keberlangsungannya. Jika pada awalnya Pesantren hanya membina santrinya dengan membekali dengan ilmu-ilmu agama saja, namun seiring dengan perkembangan zaman yang menuntut kesetaraan secara legal formal maka sejumlah besar pesantren di Nusantara harus mengadopsi sistem pendidikan kurikulum nasional menjadi bagian dari kurikulumnya dan dengan harapan pula agar santrinya tidak hanya memiliki ilmu agama semata tapi juga menguasai ilmu-ilmu umum lainnya. Namun tidak sedikit pula pesantren yang masih mempertahankan ciri khas tradisionalnya dengan tidak mengadopsi kurikulum nasional.

Dari uraian demi uraian diatas memberi gambaran bahwa barang siapa masuk dan belajar di pondok pesantren keniscayaan baginya memiliki keilmuan agama yang mendalam dan memiliki akhlak yang baik serta dapat memberikan tauladan bagi orang-orang yang ada disekelilingnya. Namun fenomena yang terjadi dewasa ini tidaklah menggambarkan demikian, santri yang sedianya menjadi anak yang patuh dan tunduk kepada gurunya dan apa yang telah menjadi peraturan tata tertib dan sunnah pesantren ternyata tidak demikian adanya, mereka berani menentang bahkan melawan. Tidak hanya itu, mereka bahkan telah melanggar kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh agama yang semestinya tidak mereka lakukan. Hal ini tentunya sudah tidak sesuai lagi dengan identitasnya sebagai santri. Santri kini mulai mengalami perubahan sikap yang tidak selayaknya dilakukan oleh seorang santri. Banyak diantara mereka yang tidak lagi menghormati guru, kerap kali melanggar tata tertib hukum dan sunnah pondok pesantren dan bahkan ada yang melanggar kewajibanya sebagai seorang muslim yang sejatinya wajib dilaksanakan. Sungguh, masalah ini menjadi keresahan para pendidik di pondok pesantren saat ini.